Close
 
Rabu, 29 April 2026   |   Khamis, 12 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.843
Kemarin : 22.835
Minggu kemarin : 169.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

18 desember 2008 02:50

Ekspedisi Kepri: Menuju Pusat Kebudayaan Melayu

(Bagian Pertama)
Ekspedisi Kepri: Menuju Pusat Kebudayaan Melayu

Laporan perjalanan Pimred RajaAliHaji.com yang juga redaktur MelayuOnline.com, Ahmad Salehudin, MA. bersama Humas Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yuhastina Sinaro, SST.Par. ke Provinsi Kepulauan Riau, 28 November-2 Desember 2008.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.35 WIB ketika pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Jumat (28/11/2008). Sebelum diberi nama Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah, bandara ini bernama Bandar Udara Kijang. Penggantian nama tersebut sebagai wujud penghormatan dan penghargaan pemerintah Kepri kepada pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah yang gugur ketika melawan Belanda.

Ketika awak pesawat memberitahukan bahwa tidak lama lagi pesawat akan landing, kami menjadi agak gelisah karena landasan pacu pesawat relatif cukup pendek, yaitu hanya 2.256 meter. Oleh karenanya, ketika roda pesawat menyentuh landasan kami menahan nafas dan berdoa semoga pendaratan berlangsung mulus dan sukses.

Setelah pesawat berhenti sama sekali, kami bergegas turun menuju tempat barang dan segera menuju pintu keluar. Baru saja kami melewati pintu, tiba-tiba ada dua orang yang menyapa dan menanyakan apakah kami dari Balai Melayu Yogyakarta. Tanpa menunggu jawaban kami, dan mungkin karena melihat atribut yang kami pakai, mereka langsung menyodorkan tangan sambil menyebutkan nama, Juriesky Fair dan Alfri Oceanto. Rupanya mereka adalah staf Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemprov Kepri yang ditugaskan langsung oleh Kepala Bappeda, Drs. Suhajar, M.Si. untuk menjemput kami di bandara.

Kehadiran kami di Tanjungpinang, Kepri untuk memenuhi undangan Gubernur Kepri, Drs. H. Ismeth Abdullah, dan juga undangan panitia ”Sempena 200 Tahun Raja Ali Haji”. Undangan dari Gubernur Kepri terkait dengan visi dan misi Pemprov Kepri untuk mengembalikan kejayaan Melayu di Kepri. BKPBM sebagai lembaga yang secara konsisten menggali, melestarikan, mengembangkan, dan mempublikasikan budaya Melayu, dinilai dapat menjadi mitra dalam mengupayakan Kepri menjadi pusat Kebudayaan Melayu. Sedangkan undangan dari panitia ”Sempena 200 Tahun Raja Ali Haji” terkait dengan aktivitas BKPBM dalam mendokumentasikan, mengembangkan, dan memublikasikan pemikiran dan karya-karya, serta kajian terhadap pemikiran Raja Ali Haji melalui www.rajaalihaji.com.

Tanpa berlama-lama di bandara, kami segera meluncur menuju kota Tanjungpinang. Baru saja melewati pintu gerbang komplek bandara, tiba-tiba terjadi pemadaman listrik. Jalan-jalan yang kami lewati menjadi gelap gulita. Terkadang kegelapan itu sedikit tersibak ketika kami berpapasan dengan kendaraan bermotor. Akhirnya, di sepanjang jalan menuju hotel tempat kami menginap hanya gelap yang kami lihat.

Menurut Bang Kiki, panggilan akrab Juriesky Fair, pemadaman di Tanjungpinang terjadi hampir tiap hari dan berlangsung lama, hampir seharian. Namun sejak dua bulan terakhir, pemadaman biasanya hanya sekitar dua sampai empat jam. ”Yang merepotkan jika pemadaman terjadi pada malam hari. Jika punya genset, masih lumayan tinggal menghidupkan. Tapi bagi yang tidak punya, maka dia akan melewati malam dalam kegelapan,” ungkap ayah dua anak yang sehari-hari menjadi Kabag Pemerintahan Pemprov Tanjungpinang ini.

Setelah sekitar 45 menit menyusuri jalan-jalan kota Tanjungpinang yang gelap, akhirnya kami sampai di hotel yang disediakan oleh Bappeda Kepri. Selama perjalanan hampir tidak ada suasana Tanjungpinang yang dapat kami nikmati. Bahkan, ketika menyusuri jalan tepi pantai, kami tidak melihat apa-apa. Hanya kelap-kelip lampu dari sebuah pulau, yang menurut Bang Alfri, adalah Pulau Penyengat yang esok hari akan menjadi tempat pelaksanaan ”Sempena 200 Tahun Raja Ali Haji”.

Menikmati Gonggong

Setelah meletakkan barang-barang bawaan di kamar hotel, kami bergegas ke ruang loby hotel menemui Bang Kiki dan Bang Alfri. ”Kita makan di Melayu Square..ya,” kata Bang Kiki ketika kami berada di depannya. Oleh karena kami belum pernah ke Tanjungpinang sebelumnya, maka kami iyakan saja tawarannya, apalagi sejak sore perut sudah minta diisi.

Bang Alfri kemudian mengarahkan mobilnya menuju tempat yang ditawarakan Bang Kiki. Setelah sekitar tujuh menit menyusuri jalan gelap karena listrik belum hidup, kami sampai di tempat yang membuat saya takjub, Melayu Square namanya. Tempat ini sangat ramai. Sangat berbeda dengan kondisi jalan yang relatif sepi. Di sini kami bisa melihat para orang tua, anak-anak, para remaja putri dan putra duduk bersenda gurau mengelilingi meja makan yang tertata rapi. Wajah-wajah mereka memancarkan keceriaan dan kebahgian. Ada yang makan, namun ada juga yang sekedar berbeincang-bincang sambil menikmati minuman. Sungguh sebuah nuansa malam yang mungkin sulit kita jumpai di tempat lain.

/>

Setelah beberapa saat berkeliling, barulah kami mendapatkan tempat duduk, itupun setelah menggabungkan beberapa kursi lain dari meja lain yang tidak terpakai. Baru saja duduk, beberapa pedagang mendatangi kami sambil menanyakan mau makan dan minum apa. Setelah memesan makanan dan minuman, kami pun melanjutkan obrolan tentang kehidupan malam di Tanjungpinang. Tidak berapa lama kemudian, makanan yang kami pesan telah terhidang di meja kami. Mungkin karena lapar, tanpa pikir panjang kami langsung menyantapnya.

”Setiap malam, tempat ini selalu ramai. Apalagi kalau malam Minggu. Tempat ini menjadi pusat berkumpulnya masyarakat Tanjungpinang dari semua kalangan, dari yang menggunakan  mobil pribadi sampai yang berjalan kaki berkumpul di sini. Namun, karena tempat ini merupakan ruang terbuka, maka jika hujan, ya bubar,” Kata Bang Kiki sambil tersenyum.

Menurutnya, pagi sampai siang hari Melayu Square hanyalah lahan kosong. Baru berubah menjadi tempat berkumpul ketika matahari sudah mulai surut, yaitu sekitar pukul 16.30 WIB. “Pernah makan gonggong,” tiba-tiba Bang Kiki bertanya kepada kami. Belum sempat kami jawab, dia meminta Bang Alfri untuk memesankan satu porsi gonggong.

”Kalau belum makan gonggong, belum sah di Tanjungpinang. Makanan ini merupakan masakan seafood khas Tanjungpinang. Kalian tidak akan menemukannya di daerah lain,” ucap Bang Kiki sambil promosi.

Tak berapa lama kemudian, di depan kami telah tersaji satu porsi gonggong lengkap dengan sambalnya. Oo... ternyata gongong sejenis siput, ya... siput laut yang berkulit keras. Oleh karena kami tidak tahu bagaimana cara memakannya, maka walau telah tersaji di depan kami, kami belum menyentuhnya. ”Bang, kasih contoh dong bagaimana cara makannya,” kataku pada Bang Alfri.

Dia pun memberi contoh bagaimana cara memakan seafood yang berkulit keras tersebut. Kami pun segera mempraktekkan kursus singkatnya. Dan, ternyata memang sangat lezat. Sangat enak, gurih dan sedap. Tidak sampai 10 menit, satu porsi gonggong telah pindah ke perut kami. Mungkin karena melihat kami begitu lahap menyantap gonggong, Bang Kiki memesankan satu porsi lagi untuk kami. Yah walau agak malu, akhirnya satu porsi gonggong tambahan juga pindah ke perut kami.

Selain dapat menikmati seafood yang masih segar, di tempat ini kita juga bisa merasakan sebuah pertunjukan pasar rakyat. Kompetisi antara penjual dikemas dalam semangat saling menghargai dan berbagi. Kita dapat memesan apa saja yang kita inginkan kepada pedagang yang mendatangi kita. Jika dia tidak mempunyai makanan yang kita pesan, maka dia akan memesankan kepada penjual lainnya. Misalnya jika kita ingin memesan kopi tarik, maka kita tinggal panggil salah satu penjual di sana, jika dia tidak menjual kopi tarik, maka dia akan memberitahu kepada penjual lainnya.

Tak terasa, jam telah menujukkan pukul 21.20 WIB. Kami harus kembali ke hotel untuk mempersiapkan keperluan esok hari. Selain itu, kami juga harus istirahat untuk memulihkan tenaga setelah melakukan perjalanan Yogyakarta – Jakarta – Tanjungpinang agar esok hari dapat mengikuti rangkaian acara Sempena 200 Tahun Raja Ali Haji dalam kondisi bugar. (Ahmad Salehudin/12-2008)


Dibaca : 2.782 kali.

Tuliskan komentar Anda !