Kamis, 30 April 2026 |Jum'ah, 13 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 182
Hari ini
:
8.477
Kemarin
:
22.835
Minggu kemarin
:
169.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
27 januari 2009 02:00
Pameran Karya Kolaborasi Perupa di Yogyakarta
Yogyakarta - Puluhan karya hasil kreativitas lebih dari 80 perupa di Yogyakarta akhirnya dipamerkan dalam sebuah pameran bertajuk Seniku Tak Berhenti Lama-Pesta Seni Kerakyatan di Akhir Tahun 2008. Pameran berlangsung di Taman Budaya Yogyakata, 24-29 Februari.
Karya yang dipamerkan sebagian besar berupa lukisan, seni instalasi, hingga berwujud kuisioner penelitian tentang pengaruh Undang-Undang (UU) Pornografi terhadap proses kreativitas perupa di Yogyakarta. Lukisan pun bukan hanya hasil karya perorangan, tetapi juga kolaborasi beberapa seniman dengan media kanvas berukuran cukup besar 2 meter x 5 meter.
Proses kreativitas yang dilakukan pada malam tanggal 31 Desember lalu atau beberapa saat menjelang pergantian Tahun Baru 2009 itu antara lain diikuti oleh Djoko Pekik, Hari Budiono, Nasirun, Melodia, Dyan Anggraini, Ong Hari Wahyu, Putu Sutawijaya, Yuswantoro Adi, dan seniman mural Samuel Indratma. Mereka semua adalah peserta pameran dengak karya kolaborasi.
Sedang peserta lain yang menampilkan karya tunggal antara lain Kartika Affandi, Wisnu Baskoro, dan Rosip Mulyadi. Ialah Deni Junaedi dan Hendra Himawan yang memamerkan kuisioner tentang pengaruh UU Pornografi. Sedang sekelompok perupa muda yang menamkan diri Komunitas Kandang Sapi membuat instalasi denga judul Terkotak-Kotak, berupa rangkain kubus berisi lambang dan alamat lengkap partai peserta pemilu 2009.
Jarang terjadi
Ong Hari Wahyu, Senin (26/1), mengatakan proses kolaborasi antarperupa merupakan sesuatu yang menarik dan jarang sekali terjadi. Satu seniman dengan seniman yang lain bisa bekerjasama dan saling mengisi. Beberapa seniman mencoba berinteraksi. “Biasanya, seniman dalam bekerjasama, kan, ada pertengkaran batin atau pertengakaran ego dan ini menjadi menarik karena pertengkaran itu ternyata menghasil kan sesuatu yang bagus,” kata Ong.
Selain bisa menghilangkan egoisme masing-masing, menurut Ong kolaborasi antarseniman juga menghasilkan sesuatu yang baru. Lukisan besar karya berjudul Low Art Society karya Samuel Indratma, Putu Sutawijaya, dan Sutjipto Wibakso, misalnya, telah menghasilkan dimensi yang baru. Padahal, Samuel merupakan seniman mural, Putu Sutawijaya perupa beraliran impresif, sedang Sutjipto Wibakso merupakan pelukis wayang yang biasa menggambar di geber (backdrop) pentas.
Pemerhati seni budaya dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta G Budi Subanar mengatakan proses karya dan pameran Seniku Tak Berhenti Lama telah membuktikan bahwa perupa yang telah memiliki reputasi beragamentah dalam lingkup lokal, nasional, maupun internasionalmelepaskan atributnya. Mereka cair dan berbaur menggelar kegiatan bersama dalam seni pesta kerakyatan.