Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
04 juni 2009 04:15
Spirit Kebudayaan Asli Harus Dihidupkan Lagi
Medan, Sumatra Utara - Spirit kebudayaan asli Indonesia harus dihidupkan kembali agar bangsa ini diperhitungkan dalam kancah pergaulan internasional. "Upaya untuk itu harus jadi perhatian semua pihak," kata Pengamat Sosial dari Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), Prof DR Alesyanti MPd, Mhum, di Medan, Selasa. Menurut dia, Indonesia pernah sangat disegani oleh masyarakat internasional karena kepribadiannya.
Bangsa ini dinilai punya simbol kebudayaan yang unik dan menarik perhatian masyarakat di dunia, katanya. Akan tetapi faktanya, menurut dia, ciri khas bangsa Indonesia itu telah hilang, seperti Pancasila dilupakan, padahal itulah sesungguhnya penemuan terbesar para pendiri bangsa ini. "Saya punya pengalaman di luar negeri yang menurut pandangan saya menyinggung rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia," katanya mengenai perlakuan petugas imigrasi di Bandara yang memandangnya seolah-olah sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).
Dia mengatakan, pengalaman yang tidak menyenangkan itu sesungguhnya terjadi karena masyarakat Indonesia telah kehilangan kepribadian. Ia juga mengatakan, bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka ini seakan belum memiliki kebebasan terbukti hal-hal yang berbau luar negeri selalu dipandang lebih baik dan hebat. Padahal, menurut dia, selama ini masyarakat internasional kagum dengan Indonesia karena kepribadiannya.
Mengutip antropolog, Kuntjaraningrat, ia menyatakan, masyarakat Indonesia dikenal punya budaya malu, tapi sayangnya budaya itu semakin tidak tampak lagi dalam prilaku keseharian masyarakat. Hilangnya budaya malu itu bisa dilihat dari prilaku korupsi dan pemutarbalikan fakta yang seolah menjadi pemandangan biasa.
Saat ini sulit menemukan kebenaran sejati, karena yang muncul dan dihargai adalah hasil kesepakatan. "Dengan kata lain kebenaran bisa berobah menjadi kesalahan karena dipengaruhi mereka yang memiliki kekuasaan dan uang," tambahnya. Kepribadian masyarakat Indonesia yang juga hilang, lanjutnya, adalah kebiasaan gotong royong terbukti sikap atau prilaku yang menonjol ditengah masyarakat dewasa ini adalah individualisme. "Masyarakat kita juga kehilangan sikap tenggang rasa dan tepo seliro," katanya.
Menghadapi kondisi itu, tambah Alesyanti, sudah saatnya bangsa ini kembali menjadikan Pancasila sebagai indikator dalam prilaku kehidupan masyarakat dan berbangsa. "Komitmen untuk memegang teguh nilai-nilai luhur Pancasila akan membawa Indonesia kembali disegani," katanya. (Kom/Ant)