Close
 
Senin, 22 Desember 2014   |   Tsulasa', 29 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.442
Hari ini : 8.109
Kemarin : 20.356
Minggu kemarin : 123.047
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.482.913
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

05 juni 2009 01:15

Permainan Tradisional Banyak yang Punah

Permainan Tradisional Banyak yang Punah

Medan, Sumatra Utara - Antropolog Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari, mengungkapkan, berbagai permainan anak tradisional sudah banyak yang hilang dan punah, dan digantikan oleh permainan anak modern. Padahal permainan tradisional tersebut memiliki cukup banyak keunggulan dan justru tidak didapati pada permainan modern, seperti tumbuhnya rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban dengan alam dan selalu menjunjung nilai-nilai sportivitas. Ichwan Azhari yang juga Ketua Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Unimed menyampaikan di ruang kerjanya, Senin (1/6).

Dikatakan, sisi positif lainnya dari permainan tradisional itu memungkinkan timbulnya inisiatif, kreativitas anak untuk menciptakan dan inovasi untuk memproduksi sendiri. “Kemudian anak mencari desain baru dan mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan,” ungkap Ichwan Azhari. Permainan anak tradisional juga menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspresif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logika.  Berbeda halnya dengan permainan anak modern yang semuanya diproduksi pabrik secara massal, sehingga kreatifitas anak untuk menciptakan sendiri permainannya menjadi hilang.

Menurut Ichwan, permainan modern cenderung menjadikan anak individualis dan berbasis materi. Anak setiap saat meminta uang untuk membeli alat permainannya. Karenanya permainan modern potensial menjadikan anak sebagai generasi yang hanya menuntut, meminta, kurang usaha, tidak inovatif dan tidak kreatif, untuk memproduksi dan mereproduksi apa yang dibutuhkannya.

Dijelaskannya, sehubungan dengan persoalan itu, Program Studi Antropologi Sosial Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan telah melaksanakan Festival dan Pameran Tradisional Anak Sumatra Utara di Medan tanggal 29-30 Mei lalu yang diikuti sekitar 400 anak. “Melalui kegiatan ini akan ditunjukkan keunggulan luar biasa dari permainan anak tradisional yang selama ini diabaikan,” ucapnya.

Berbagai perlombaan yang ditampilkan seperti, patok lele, bermain rimbang, galasing, engklek, enggrang, pistol-pistolan dan lain sebagainya ternyata mendapat sambutan luar biasa dari peserta. “Kita jadwalkan kegiatan ini akan menjadi even rutin pada momen selanjutnya, mengingat sisi positif yang dihasilkannya,” ucap Ichwan. (rmd)

Sumber: http://www.analisadaily.com

Kredit Foto: http://www.swaberita.com
Dibaca : 3.087 kali.

Tuliskan komentar Anda !