Close
 
Sabtu, 2 Mei 2026   |   Ahad, 15 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 8.083
Kemarin : 19.785
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

31 agustus 2009 01:15

Soal Klaim Tari Pendet, RI-Malaysia Diminta Cooling Down

Soal Klaim Tari Pendet, RI-Malaysia Diminta Cooling Down

Jakarta - Setelah berbicara cukup keras mengenai penayangan Tari Pendet dalam iklan pariwisata Malaysia, Presiden SBY meminta semua pihak melakukan cooling down terhadap masalah ini. Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri, Dino Patti Jalal, mengatakan, sepanjang pemerintah Malaysia menegaskan tidak pernah mengklaim Tari Pendet sebagai budayanya, semua pihak harus menahan diri. ”Memang sudah ada penegasan ini honest mistake dan sekarang ini yang perlu dilakukan adalah cooling down, sepanjang Malaysia telah menegaskan mereka tidak pernah mengklaim Tari Pendet sebagai budaya mereka,” kata Dino di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jum`at (28/8).

Dino mengatakan, perselisihan seperti klaim atas Tari Pendet akan selalu timbul dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Itu terjadi dua negara tersebut memiliki keterikatan historis budaya. ”Ada grey area-nya. Ada budaya-budaya Melayu yang ada di kita dan ada budaya yang ada di mereka. Tapi, kalau Tari Pendet,  memang terlalu jauh,” kata Dino. Karena itu, lanjut Dino, yang perlu dilakukan adalah mengupayakan pengakuan dunia internasional terhadap warisan budaya yang penting. Misalnya, batik, angklung, dan wayang. ”Kalau pengakuan ini sudah, siapa pun di negara lain yang mau mengembangkannya, mau ikut menginovasikan, terserah. Berarti budaya kita bisa mendunia dan mendapat pengakuan sebagai warisan dari Indonesia,” katanya.

Kedubes Malaysia telah menyesalkan terjadinya kesalahpahaman dan penuduhan yang dilakukan media lokal Indonesia bahwa pemerintah Malaysia telah mengklaim Tari Pendet yang merupakan budaya asli Bali. Klip video tari itu merupakan inisiatif Discovery Networks Asia-Pacific yang dibayar Discovery Channel yang berkantor di Singapura. Pembuatan klip itu ditekankan tidak melibatkan pihak-pihak di Malaysia. Mengenai surat dari Kedubes Malaysia itu, Dino belum bisa berkomentar banyak. ”Mungkin mereka khawatir bahwa ada persepsi terhadap Malaysia yang semakin buruk,” kata Dino. (sof/oki/jpnn)

Sumber: http://www.kaltimpost.web.id
Kredit Foto: http://community.kompas.com


Dibaca : 2.390 kali.

Tuliskan komentar Anda !