Close
 
Jumat, 8 Mei 2026   |   Sabtu, 21 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 5.790
Kemarin : 31.987
Minggu kemarin : 209.627
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

04 sepember 2009 04:11

Menyatukan Generasi Muda Demi Kemajuan Riau

Diskusi dan Buka Bersama Mahasiswa Riau di Yogyakarta
Menyatukan Generasi Muda Demi Kemajuan Riau

Yogyakarta, MelayuOnline –  Wacana tentang peran kaum muda, isu primordialisme, serta identitas putra daerah dan kemelayuan Riau, menjadi pembahasan yang cukup menarik dalam acara diskusi yang dihelat oleh Lamotu Institute, Kamis (03/09), sore. Mengambil tempat di Asrama Putra Mahasiswa Provinsi Riau di Bintaran, Yogyakarta, acara yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama ini menghadirkan dua tokoh asal Riau di Yogyakarta sebagai pembicara, yaitu Masnur Marzuki (Staf Edukatif pada Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia) dan Mahyudin Al Mudra (Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu), serta menampilkan Gusti Randa dari Lamotu Institute sebagai moderator.

Masnur Marzuki berkesempatan tampil sebagai pembicara pertama dalam diskusi yang mengangkat tema "Dilema Putra Daerah Riau: Antara Primordialisme dan Kebersamaan dalam Semangat Otonomi Daerah" ini. Dalam kertas kerjanya yang bertajuk "Menuju Kejayaan Riau, Berharap pada Pemuda?", Masnur menyoroti tentang pergerakan generasi muda Riau yang mulai tidak terdengar gaungnya. Dalam pandangan Alumnus University of Melbourne ini, anak-anak muda Riau, yang seharusnya berperan sebagai motor penggerak perubahan, sekarang kurang terlihat melakukan gerakan-gerakan progresif sebagai bentuk sikap untuk mengkritisi situasi yang sedang berkembang di Riau.

Merisaukan Generasi Muda Riau

Peran generasi muda dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kata Masnur, sangatlah vital. Mulai dari Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, hingga Reformasi 1998, menempatkan generasi muda dalam posisi yang paling menentukan. Oleh karena itulah, Masnur sangat mengharapkan para pemuda dan pemudi Riau juga ikut berperan sebagai elemen penting dalam mengawali perubahan. Riau sendiri, menurut Masnur, pernah memproklamirkan kemerdekaannya pada 15 Maret 1999 di Pekanbaru, meski pada akhirnya gagal terwujud. “Bagaimanapun, proklamasi itu bisa dimaknai sebagai sebuah ikrar yang menggugah semangat lokalitas tak terpermenai anak negeri,” seru Masnur. Meskipun kemerdekaan Riau itu urung diraih, lanjut Masnur, proklamasi tersebut masih menyisakan semangat perjuangan agar Riau terus berbenah diri, bersiap-siap menyambut tantangan zaman yang kian hari kian berat.

Di sisi lain, Masnur menyesalkan sikap generasi muda Riau zaman sekarang yang seolah-olah abai dan tidak peduli dengan ketidakadilan yang dialami rakyat Riau. “Sumber daya alam Riau terus dikeruk dan diekspoitasi, tapi sayang, rakyat Riau hanya menjadi penonton tanpa bisa menikmati hasil-hasil kekayaan daerah yang berlimpah-ruah itu,” risau Masnur. Belum lagi masalah-masalah lain yang seharusnya tidak lagi dirasakan masyarakat Riau di alam kemerdekaan ini. Masnur menyoroti masalah fasilitas listrik di Riau yang sering mati dan soal kabut asap yang terjadi di Riau. Akan tetapi, keluh Masnur, di balik penindasan itu, masyarakat Riau, termasuk generasi mudanya, hanya diam tanpa berinisiatif untuk bergerak. “Pemuda Riau tidak ada gaungnya!” Masnur menggugat.

“Orang Riau seperti mengalami ketersesatan intelektual,politik, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana, seperti menuntut hak yang memang menjadi haknya,” tukas Masnur. Orang Riau, tambah Masnur, hampir-hampir bergerak menjadi masyarakat yang kehilangan parameter di segala bidang dan peran. “Sebagai pewaris kultur Melayu, orang Riau sepertinya lalai jika peta identifikasi dirinya makin hari makin terhapus. Aparatur pemerintahannya pun sudah mulai kehilangan ukuran apakah mereka sedang melayani atau dilayani rakyat,” keluh Masnur.

Di sinilah seharusnya generasi pemuda berperan. “Ketika kondisi itu beluim juga kunjung berubah, maka harapan klni layak disematkan di pundak para pemuda,” ujar Masnur. Generasi muda Riau, timpalnya, harus bangkit bersatu menjadikan kondisi yang kacau itu sebagai medan perjuangan (battle ground) untuk membela hak-hak rakyat Riau yang tertindas. “Kejayaan daerah Riau sangat potensial dilakukan lewat mesin-mesin yang dipompa darah-darah mudanya yang masih memiliki militansi dan idealisme kuat serta keinginan untuk berubah,” tandas Masnur. Namun, Masnur tetap menegaskan bahwa sebijak-bijaknya aras perubahan adalah memulai dari diri sendiri.


Gusti Randa (Moderator), Masnur Marzuki, dan Mahyudin Al Mudra

Generasi Muda Riau, Generasi Perubahan

Sebagai pembicara kedua adalah Mahyudin Al Mudra, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM). Sebagai pembuka, tokoh yang telah sekian lama menggeluti kebudayaan Melayu ini mengeluhkan sikap dan tabiat kalangan birokrat Provinsi Riau yang seakan-akan tidak memperdulikan gerak juang kebudayaan untuk mengangkat budaya Melayu, khususnya budaya Melayu-Riau. Mahyudin menyatakan, meski sudah lama merantau dan menetap di Yogyakarta, dirinya sudah bertahun-tahun mengupayakan perjuangan demi menegakkan kebudayaan Melayu yang pada awalnya diutamakan demi kepentingan budaya Melayu-Riau.

Mahyudin mengaku telah sekian lama mencurahkan segenap perhatian, pemikiran, waktu, bahkan materi untuk mewujudkan tegaknya budaya Melayu-Riau dari tanah Jawa. Pada 4 Juli 2003, Mahyudin menggagas berdirinya Balai Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Melayu sebagai bentuk tekad dan keseriusannya untuk mengibarkan panji-panji budaya Melayu dari Yogyakarta. Mahyudin sepertinya sangat meresapi dan ingin mewujudkan ungkapan Melayu yang berbunyi sangat heroik: “Kalau rubuh Kota Malaka, papan di Jawa kami tegakkan!”

Tidak hanya sekadar slogan semata, Mahyudin segera merealisasikan ungkapan Melayu itu dengan meluncurkan portal terlengkap dan terbesar tentang kebudayaan Melayu, www.MelayuOnline.com yang ditubuhkan tepat pada 20 Januari 2007, yang pada mulanya mencurahkan sebagian besar konsentrasinya untuk memajukan kebudayaan Melayu-Riau. Akan tetapi, lanjut Mahyudin, respon balik yang diberikan oleh instansi-instansi terkait di Provinsi Riau, justru tidak seperti yang diharapkan. “Jangankan mendukung dana, dalam hal data pun mereka tidak memberikan,” tukas Mahyudin yang juga Pemimpin Umum www.MelayuOnline.com ini.

Namun di sisi lain, Mahyudin mengeluhkan ulah para pejabat di Provinsi Riau yang sering menggunakan nama BKPBM atau www.MelayuOnline.com untuk mendongkrak citra Provinsi Riau, kendati dalam beberapa kesempatan bertemu, mereka juga sering menyatakan akan membantu eksistensi BKPBM beserta produk-produk budayanya, termasuk www.MelayuOnline.com, meski hasilnya selalu nihil hingga sekarang. Namun demikian, walaupun sempat merasakan kegundahan luar biasa dan nyaris patah arang, Mahyudin tetap memegang teguh komitmennya untuk konsisten menyuarakan kejayaan kebudayaan Melayu melalui portal-portal yang kini diasuhnya. Selain www.MelayuOnline.com, hingga kini BKPBM pimpinan Mahyudin Al Mudra telah melahirkan sederet portal lainnya yang juga berkonsentrasi dalam bidang kebudayaan Melayu, antara lain www.WisataMelayu.com, www.RajaAliHaji.com, dan www.CeritaRakyatNusantara.com.

Selain itu, dalam konteks tema yang diangkat pada diskusi sore tersebut, Mahyudin cukup banyak mengkritisi kerja-kerja para pejabat di pemerintahan Provinsi Riau. Banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem pemerintahan Provinsi Riau karena, menurut Mahyudin, kerusakan yang terjadi sudah menuju ke arah kerusakan sistemik yang pemecahan dan akar permasalahannya cukup sukar untuk dibongkar. Selain budaya korupsi yang sudah terlanjur akut, kata Mahyudin, orang-orang Pemerintah Provinsi Riau seolah-olah mengabaikan kepentingan mahasiswa asal Riau yang merantau untuk menimba ilmu di daerah lain, terutama yang ada di Yogyakarta. Indikasi itu, dalam pengamatan Mahyudin, terlihat jelas dari minimnya anggaran dana yang dicurahkan untuk kepentingan para mahasiswa rantau tersebut kendati Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sendiri diduga kuat berjumlah nominal cukup besar.

Mahyudin menyarankan kepada para generasi muda yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta untuk tetap bergerak, menunjukkan eksistensi mereka. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui media massa ataupun media-media lainnya sebagai sarana untuk membuktikan bahwa generasi muda Riau tidak hanya berdiam diri melihat ketidakadilan yang masih sering terjadi di Riau. Mahyudin sangat sepakat bahwa generasi muda memegang peranan yang sangat penting dalam setiap titik perubahan bangsa ini. Generasi muda, khususnya para mahasiswa, merupakan agen perubahan dalam mewujudkan cita-cita kemajuan bangsa, termasuk pula yang seharusnya dilakukan oleh generasi muda Riau. “Perubahan bukan dimulai dari masa, tetapi dimulai dari segelintir orang, yaitu anak-anak muda yang disebut agen of change atau agen perubahan,” demikan pesan Mahyudin Al Mudra. Acara diskusi yang dihadiri oleh para mahasiswa asal Provinsi Riau yang sedang menempuh studi di Yogyakarta sore itu diakhiri dengan buka puasa bersama dan penyerahan cenderahati dari pengurus Lamotu Institute kepada kedua pembicara.

(Iswara NR/brt/01/09-2009)


Dibaca : 3.433 kali.

Tuliskan komentar Anda !