Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
07 sepember 2009 01:45
Seni Nunukan Berpotensi Diklaim Malaysia
Nunukan, Kaltim - Kepala Disparsenibud, Pemuda dan Olah Raga Nunukan, Petrus Kanisius, melalui Kasi Pembina Kebudayaan Daerah, Kusworo, mengungkapkan, seni dan budaya asli Nunukan akan lebih berpeluang besar diklaim Malaysia karena adanya persamaan bahasa, suku dan kebiasaan. Peristiwa saling klaim kebudayaan Indonesia-Malaysia ternyata juga dikhawatirkan Disparsenibud Nunukan, Kalimantan Timur (Kaltim) karena Nunukan merupakan daerah yang paling dekat dengan Sabah, Malaysia, di wilayah utara Kaltim. “Seni dan budaya yang sudah dipatenkan sudah ada puluhan. Namun yang belum dipatenkan, ada lebih banyak lagi karena jika kami turun ke kecamatan-kecamatan, ada saja seni dan budaya lama yang kami temukan,” jelasnya.
Mandi Syafar sebagai ritual rutin masyarakat Nunukan tiap tahun yang digelar di Pantai Enching, merupakan salah satu kebudayaan yang tetap dipertahankan hingga kini. “Budaya ini telah dipatenkan tahun lalu, bersama puluhan seni dan budaya lainnya. Seperti tari-tarian daerah, bahasa daerah, lagu daerah, karya tulis dan alat musik,” terangnya. Disebutkan, suku asli di Nunukan ada tiga, yakni Dayak Lundayeh, Agabag, dan Tidung. Dari tiga suku inilah Disparsenibud memperoleh dan menggali seni dan budaya sehingga menambah panjang daftar kebudayaan yang belum dipatenkan.
Pengklaiman Malaysia terhadap puluhan seni dan budaya Indonesia juga berpotensi besar terhadap budaya Nunukan. “Karena banyak warga Indonesia dulu dari berbagai suku yang pindah ke Malaysia dan secara tak langsung mengembangkan budaya Indonesia disana,” katanya. Inilah yang menjadi dilema selama ini. Selain itu, perkembangan zaman yang kian pesat saat ini berpengaruh terhadap upaya untuk mempertahankan budaya karena pelaku budaya secara otomatis juga akan berkurang. “Zaman sekarang, anak-anak muda bosan dengan kebudayaan lama kita. Sehingga tak memiliki minat untuk mempelajari, terlebih mengembangkannya,” keluhnya.
Untuk itu, setiap Disparsenibud Pemprov Kaltim mengirimkan formulir paten seni dan budaya, Disparsenibud Nunukan selalu mendaftarkan seluruh kebudayaan yang baru berhasil digali atau ditemukan. “Kami selalu melakukan koordinasi dengan Disparsenibud Pemprov Kaltim dalam mempatenkan kesenian Nunukan. Terakhir, kami mengirimkan daftar kebudayaan yang akan dipatenkan pada 2008 lalu,” imbuhnya. Diharapkan, masyarakat Nunukan juga harus peduli dan menggali, mengembangkan dan melestarikan kebudayaan asli Nunukan, agar kebudayaan Nunukan tidak diklaim oleh negara tetangga. (dew)