Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.817
Hari ini : 20.759
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 sepember 2009 02:00

Tiga Negeri di Ambon Gelar Panas Pela Gandong

Tiga Negeri di Ambon Gelar Panas Pela Gandong

Ambon, Maluku - Tiga negeri beragama Muslim dan Kristen di Kota Ambon yang memiliki hubungan persaudaraan akan menggelar ritual adat Panas Pela Gandong tahun 2010 mendatang sebagai bentuk sosialisasi dan peringatan bagi generasi penerus tiga negeri itu. "Panas Pela Gandong tiga negeri ini dijadwalkan digelar tahun 2010 mendatang," kata Raja Batu Negeri Merah Awat Ternate, di Ambon, Minggu.

Tiga Negeri yang memiliki pertalian hubungan saudara itu yakni Batu Merah (beragama Muslim) dan Negeri Ema (Kristen), Kecamatan Sirimau serta Negeri Passo (Kristen), Kecamatan Baguala. Menurut dia, kegiatan Panas Pela Gandong tersebut harus dilaksanakan guna mempererat hubungan persaudaraan sejati yang terbina antara masyarakat tiga negeri adat ini yang telah diwarisi leluhur mereka secara turun temurun sejak 1500 Masehi. "Panas Pela Gandong terakhir kalinya dilaksanakan tahun 1960-an lalu dan setelah itu tidak lagi. Makanya sudah harus dilaksanakan kembali sehingga generasi tiga negeri itu saat ini bisa mengingatnya," ujar Awat.

Awat menegaskan, ritual adat Panas Pela Gandong, khususnya antara Negeri Batu Merah dan Passo, akan dilaksanakan di Tanjung Pela, Pulau Buru, yang merupakan lokasi pertama hubungan persaudaraan itu diikrarkan tahun 1.500 Masehi. Tanjung Pela, yang lebih dikenal masyarakat Maluku dengan sebutan Tanjung Keramat, merupakan tempat awal terjadinya ikatan sumpah antara tokoh adat dua negeri ini sebagai kakak-beradik. "Tujuannya agar generasi muda mengetahui bahwa di Tanjung Keramat itu moyang-moyang dua negeri ini mengangkat sumpah janji sebagai kakak dan adik," kata dia

Raja negeri Passo Marthen Sarmanela dan Kepala Adat Negeri Ema, Welhelmus Diasz, mengatakan, Panas Pela Gandong selain mengingatkan kembali akan adat dan budaya, juga bermanfaat positif guna mempererat hubungan persudaraan ketiga negeri tersebut. "Selaku Gandong Adik maka masyarakat negeri Ema sangat mendukung sepenuhnya penyelenggaraan adat ini, walaupun menjadi pekerjaan berat, tetapi dengan semangat persaudaraan saya yakin akan terlaksana pada 2010 mendatang," kata Raja Negeri Passo, Marthen Sarimanela.

Terjadinya Hubungan Pela Gandong antara Batu Mareh-Passo berawal dari sekelompok warga Batu Merah yang berasal dari rumpun adat Maluku Patalima dan warga Passo yang mewakili rumpun Patasiwa dalam perjalanan pulang ke negeri mereka, setelah melaksanakan tugas mengantarkan upeti kepada Sultan Ternate, Maluku Utara yang memerintah saat itu. Dalam perjalanan pulang dari Ternate menuju Ambon dengan menggunakan Arumbae (perahu tradisional masyarakat Maluku), tetapi saat mendekati Tanjung Pela, Pulau Buru, Arumbae yang digunakan warga Passo diterpa gelombang dan tenggelam, dan saat bersamaan melintas Arumbae Warga Batu Merah di tempat tersebut dan langsung menolong warga Passo.

"Karena tenggelam semua perbekalan orang Passo hanyut dibawa gelombang, sehingga makanan yang masih dimiliki warga Batu Merah berupa sagu kering, ikan asar, dan kelapa dibagi menjadi dua bagian dan dimakan bersama oleh warga Passo dan Batu Merah," ujar Raja batu Merah Awat Ternate. Sebagai ungkapan terima kasih dan balas budi, maka sehabis memakan perbekalan orang Passo kemudian mengikat diri sebagai adik dari orang Batu Merah, dan untuk mempererat sumpah tersebut, kedua kelompok warga membalik sebuah batu karang sehingga telapak tangannya berdarah. Telapak tangan warga dua negeri yang penuh darah itu kemudian ditempelkan sebagai lambang persaudaraan serta mengangkat sumpah dan janji sebagai saudara sekandung.

Guna mematangkan rencana ritual adat itu, ketiga negeri bersepakat membentuk Panitia Panas Pela Gandong yang terdiri dari mantan Raja Batu Merah Latif Hatala, mantan Raja Passo Theresya Maitimu, Chrestopel Leimena, Rizal Risaholet, R. Risambessy, serta Ny. Epy Parera, Panitia yang telah terbentuk ini akan menggelar pertemuan lanjutan pada 30 September 2009 mendatang sekaligus melengkapi struktur panitia pelaksana terutama pembentukan sejumlah seksi. (antara)

Sumber: http://www.antaranews.com
Kredit Foto: http://www.radiobakubae.com


Dibaca : 6.166 kali.

Tuliskan komentar Anda !