Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
27 februari 2010 02:44
Melawat ke Mempawah, Berkhidmat di Kraton Amantubillah
Catatan Perjalanan ke Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat (1)
Oleh Iswara N. Raditya
Pontianak di siang itu berhawa panas, tidak jauh beda dengan cuaca di Yogyakarta, tempat kami lepas landas dari Bandara Adisucipto beberapa waktu yang lalu. Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya kami mendarat di Bandara Supadio, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Kami, tim www.MelayuOnline.com (selanjutnya ditulis MelayuOnline), yang terdiri dari Pemangku/Pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu atau BKPBM sekaligus Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi MelayuOnline Mahyudin Al Mudra SH, MM, fotografer Aam Ito Tistomo, dan saya sendiri selaku redaktur/reporter, melawat ke Pontianak untuk memenuhi undangan dari keluarga besar Kerajaan Mempawah di Kabupaten Pontianak. Kami akan berada di Kalimantan Barat selama 4 hari, dari hari Senin (8 Februari 2010), hingga hari Kamis (11 Februari 2010) kami harus segera kembali ke Yogyakarta.
Di Bandara Supadio, Kota Pontianak, kami dijemput oleh utusan Kerajaan Mempawah. Ia memperkenalkan diri dengan nama Ridwan. Setelah semua urusan administrasi di bandara beres, kami segera naik ke mobil dan bersiap memulai perjalanan. Kami berempat, ditambah satu orang yang bertugas mengemudikan mobil, bergegas menuju tempat tujuan kami yang pertama di Pontianak. Ternyata kami tidak langsung menuju Mempawah, melainkan singgah terlebih dulu di Hotel Kartika, di Kota Pontianak. Di restoran hotel, kami sudah ditunggu untuk jamuan makan siang oleh beberapa kawan dari Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) Pontianak, antara lain Abdi Nurkamil Mawardi dan Eka Kurniawan. Ternyata, tempat kami menyantap makanan itu berada persis di tepi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Sambil berbincang ringan tentang isu-isu kemelayuan aktual, kami pun segera melahap sajian kuliner yang diambil dan diolah langsung dari sungai yang memiliki panjang total 1.143 kilometer ini.
Menikmati Menu Khas Sungai Kapuas
Usai makan dan rehat sejenak, perjalanan pun harus dilanjutkan. Kami kembali ke mobil untuk meneruskan perjalanan menuju Mempawah ibu kota Kabupaten Pontianak. Jarak antara Kota Pontianak dan Mempawah ibu kota Kabupaten Pontianak adalah sekitar 40 kilometer dan dapat ditempuh lewat jalan darat dengan waktu 1-2 jam perjalanan. Mobil yang kami tumpangi melaju kencang di jalanan aspal yang sesekali bergelombang. Tidak jarang badan kami terguncang-guncang di sepanjang rute menuju Mempawah. Perut yang kenyang berpotensi besar menyebabkan kantuk. Beberapa dari kami pun menyempatkan diri untuk memejamkan mata sebentar, meski ada pula yang masih terjaga dan memilih menikmati pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan.
Akhirnya tiba juga kami di Mempawah, tepatnya di Kraton Amantubillah yang menjadi istana kebanggaan Kerajaan Mempawah. Meski terlihat sederhana, kondisi fisik Kraton Amantubillah masih tampak baik dan terawat. Bangunan istana didominasi warna hijau dengan hiasan ornamen atap depan berwarna kuning emas. Suasana masih lengang ketika kami masuk ke ruang utama kraton. Namun, ternyata sudah ada beberapa orang yang duduk lesehan di dalam. Dua orang di antaranya adalah keturunan Tionghoa. Usut punya usut, dua orang itu merupakan kerabat dekat Kerajaan Mempawah. Saya langsung respek melihat kehadiran dua orang Tionghoa itu di tengah-tengah lingkungan yang kental dengan kemelayuannya. Hal ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa Melayu tidaklah berwajah tunggal dan sangat menjunjung tinggi pluralisme. Ternyata, Kerajaan Mempawah pun menganut asas keberagaman itu. Ini berarti, apa yang dilakukan Mempawah senafas dengan salah satu misi yang diperjuangkan MelayuOnline selama ini, yaitu menghargai keberagaman dalam dunia Melayu.
Tiba di Istana Amantubillah, Kerajaan Mempawah
Sementara saya dan Mas Aam, sang fotografer, berkeliling untuk lebih mengenal lingkungan Kraton Amantubillah, Bang MAM –sapaan akrab Mahyudin Al Mudra– terlihat sedang asyik berbincang dengan sejumlah orang di dalam istana. Tentu saja kesempatan ini digunakan untuk memperkenalkan MelayuOnline dan portal-portal lain yang bernaung di bawah BKPBM, yakni www.WisataMelayu.com, www.CeritaRakyatNusantara.com, dan www.RajaAliHaji.com. Hal ini dirasa sangat penting dilakukan, selain supaya MelayuOnline dan portal-poral milik BKPBM semakin dikenal, juga sekaligus sebagai cara untuk mempererah silahturahmi di antara puak-puak Melayu tanpa mengenal batas-batas geografis, ras, bahkan agama, karena pada hakekatnya Melayu adalah bangsa besar yang menghargai perbedaan dan keberagaman.
Kami masih bertahan di Kraton Amantubillah sambil menunggu rangkaian acara berikutnya. Keluarga besar Kerajaan Mempawah memang sedang menghelat hajatan besar, yakni tradisi adat yang dikenal dengan nama upacara Robo-Robo. Robo-Robo adalah ritual adat yang rutin diadakan setiap tahun, tepatnya pada hari Rabu setiap akhir bulan Safar dalam kalender Hijriah. Maka dari itu, upacara tersebut dinamakan Robo-robo, mengacu pada pelafalan hari "Rabu". Upacara Robo-robo diadakan untuk memperingati atau napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah. Opu Daeng Menambon bertahta sebagai raja pertama Kerajaan Mempawah pada masa Islam dan bergelar Pangeran Mas Surya Negara serta memerintah antara tahun 1740–1761 Masehi.
Kami sedikit terlambat tiba di Mempawah karena sebenarnya rangkaian acara Robo-Robo sudah dimulai sejak sehari sebelumnya, yakni hari Minggu tanggal 7 Februari 2010. Pada hari pertama itu sudah digelar perlombaan sampan perseorangan sebagai pembuka rangkaian acara Robo-Robo kali ini. Sedangkan keesokan harinya, atau beberapa jam sebelum kami menjejakkan kaki di Mempawah, telah dihelat acara kirab pusaka Kraton Amantubillah. Nah, ternyata kami kebagian suguhan acara selanjutnya, yaitu penyucian senjata-senjata pusaka milik kraton yang pada pagi sebelumnya telah diarak mengelilingi wilayah Mempawah untuk dipertunjukkan kepada masyarakat.
Ternyata benar, tidak lama kami menunggu, para kerabat dan Laskar Kerajaan Mempawah sudah bersiap-siap melangsungkan upacara penyucian pusaka di serambi kanan Kraton Amantubillah. Pemaknaan istilah “Laskar” sendiri dalam konteks internal Kerajaan Mempawah bisa diartikan sebagai prajurit kerajaan atau dapat pula dipersamakan dengan kedudukan abdi dalem dalam tradisi yang berlaku pada sejumlah kerajaan di Jawa. Sebelum acara penyucian dimulai, terlebih dulu dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh kerajaan. Sementara pusaka-pusaka yang akan disucikan telah disiapkan dengan dibungkus kain berwarna kuning yang merupakan warna kebesaran Kerajaan Mempawah.
Berdoa Bersama Sebelum Memandikan Pusaka Kraton
Dalam kesempatan inilah saya dan Mas Aam pertama kali bersinggungan dengan Saipul Ansari, S.Kom, yang menjabat sebagai Menteri Luar Kerajaan Mempawah sekaligus salah satu petinggi Laskar Kraton Amantubillah. Oleh Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya, M.Sc., Saipul dianugerahi gelar kebangsawanan sehingga menjadi Karaeng Oe Saipul Ansari. Karaeng adalah gelar kebangsawanan adat Bugis. Hal ini tidak mengherankan karena Kerajaan Mempawah berasal-usul dari Bugis. Opu Daeng Menambon, Raja Islam pertama di Kerajaan Mempawah, adalah bangsawan dari Kerajaan Luwu-Bugis di Sulawesi Selatan yang datang ke tanah Melayu pada abad ke-17.
Berkenaan dengan ritual memandikan pusaka kerajaan itu, Karaeng Oe Syaipul menerangkan bahwa ada beberapa pusaka yang boleh dipertontonkan ke publik, namun ada juga pusaka-pusaka tertentu yang dimandikan secara khusus dan tidak boleh dipertunjukkan kepada khalayak umum. Selain itu, masih ada pula beberapa jenis pusaka khusus yang penyuciannya harus dilakukan sendiri oleh Raja Mempawah. Pusaka-pusaka yang dimandikan dan boleh dipertontonkan kepada khalayak ramai pada siang hari itu antara lain sepasang tombak, sepasang pedang, sebilah keris, dan 3 buah meriam. Masing-masing senjata pusaka itu memiliki nama khusus. Sepasang tombak bernama tombak Lancar, sepasang pedang bernama pedang Mugul dan pedang Sterling, serta sebilah keris yang dikenal dengan nama keris Tanjung Lada.
Prosesi Pemandian Pusaka Kerajaan Mempawah
Adapun ketiga meriam pusaka Kerajaan Mempawah, menurut Karaeng Oe Syaipul, dikenal dengan nama meriam Sigonda, Raden Mas, dan Maryam. Meriam Sigonda adalah simbol laki-laki yang konon berasal dari Kerajaan Majapahit di Jawa. Sementara meriam Raden Mas adalah simbol perempuan yang dipercaya berasal dari Bugis, tempat asal Opu Daeng Manambon. Sedangkan Maryam adalah meriam yang disimbolkan sebagai anak dari meriam Sigonda dan Raden Mas.
Usai berdoa, upacara pemandian pusaka segera dimulai. Menurut keterangan salah seorang kerabat kerajaan yang turut memandikan pusaka-pusaka itu, yakni Gusti Ulyanto, ada beberapa bahan yang digunakan dalam upacara pembersihan pusaka, antara lain air, jeruk nipis, kembang tujuh rupa, dan lain-lain. Satu per satu senjata pusaka dimandikan, dibasuh dengan air yang sudah dicampur dengan kembang tujuh rupa, kemudian diasah dengan menggunakan jeruk nipis sebelum dibilas kembali hingga bersih. Begitu seterusnya hingga pada pusaka yang terakhir.
Setelah penyucian pusaka selesai dilakukan, masyarakat setempat yang mengikuti prosesi pemandian pusaka sejak awal, langsung ikut turun ke areal pemandian sambil membawa barang-barang mereka dari rumah, seperti pisau, sabit, dan lain-lain. Konon, kita akan mendapatkan berkah jika memandikan barang-barang yang kita miliki dengan air sisa yang sebelumnya digunakan untuk membasuh benda pusaka kraton itu.
Mengharap Berkah dari Air Sisa Pencucian Pusaka
Dalam perbincangan beberapa saat setelah acara pemandian pusaka berakhir, Gusti Ulyanto memberikan keterangan bahwa tujuan diselenggarakannya ritual adat ini adalah semata-mata demi melestarikan tradisi dan sebagai upaya untuk semakin memperkenalkan kekayaan budaya Kraton Amantubillah kepada masyarakat. Diharapkan, dengan diadakannya kegiatan-kegiatan adat seperti ini, masyarakat dapat lebih mengenal dan mengetahui kekayaan budaya yang dipunyai Kerajaan Mempawah. (Bersambung)
__________
Iswara N. Raditya, Redaktur Sejarah www.MelayuOnline.com.
Sumber Foto: Koleksi www.melayuonline.com (Fotografer: Aam Ito Tistomo)