Close
 
Sabtu, 15 Agustus 2026   |   Ahad, 1 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 4.080
Kemarin : 43.662
Minggu kemarin : 179.363
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

15 april 2010 02:40

Adat Negeri Laskar Pelangi

Adat Negeri Laskar Pelangi

Oleh Ahmad Subhan

Dalam pembukaan Temu Sastrawan Indonesia II di Bangka-Belitung (Babel) pada bulan Agustus tahun silam, Gubernur Bangka Belitung, Eko Maulana Ali, berpantun:

Jika ke huma membawa pepah
Pepah bertiti berpagar duri

Alamnya indah rakyatnya ramah

Inilah Negeri Laskar Pelangi

Penulis sepenuhnya sepakat dengan larik-larik isi pantun tersebut. Pertama, sikap akrab dan terbuka merupakan karakter khas masyarakat Babel yang sejak dulu telah dikenal oleh orang-orang yang berkunjung ke provinsi kepulauan ini. Kedua, Babel juga termasyhur dengan kemajemukan yang sudah sejak lama berakar di masyarakat yang multietnis dan kini populer dengan istilah Laskar Pelangi.

Tak dipungkiri, karena novel dan film Laskar Pelangi itulah publik setanah air melirik negeri Serumpun Sebalai. Selain perihal perjuangan Ikal dkk, pembaca maupun penonton disuguhi cerita mengenai interaksi masyarakat yang multietnis. Tidak banyak novel kita yang secara gamblang berkisah tentang kerukunan dalam kemajemukan di negeri ini. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Yin Galema karya Ian Sancin adalah dua di antara yang sedikit itu.

Apabila sastra juga kita percaya sebagai potret kenyataan sosial, maka dua novel tersebut memberikan gambaran pada publik Indonesia perihal kemajemukan dan kerukunan di negeri Serumpun Sebalai. Secara sadar maupun tidak, kedua novelis asal Babel ini sudah berkisah sekaligus mempromosikan kepada para pembaca perihal negeri mereka yang elok dan masyarakatnya yang rukun. Kedua elemen itu pula yang bagi penulis adalah andalan bagi Babel yang sebentar lagi secara resmi membuka diri dan mengundang para pelancong agar menyambangi provinsi kepulauan ini.

Bahwa Babel beralam indah bukanlah rahasia lagi. Keindahan ini pula yang membuat seorang wisatawan asing berangan-angan menetap hingga akhir hayatnya di provinsi kepulauan ini (Kompas, 30 Agustus 2009). Alam memberikan berkah kepada masyarakat Babel. Kekayaan timah menjadikan nama Babel harum sejak masa Perusahaan Dagang Hindia Timur (VOC), seharum gaharu yang terlebih dahulu pernah membimbing pelaut-pelaut Tiongkok sebagaimana yang dikisahkan dalam novel sejarah karya Ian Sancin.

Namun, cerita perihal kejayaan itu kini telah meredup. Timah tetap menjadi primadona, namun banyak kalangan sudah bersiap-siap apabila suatu saat lubang tambang mineral berharga ini tinggal menjadi museum alam yang rusak parah –kerusakan alam yang dapat menjerumuskan manusia yang menghuninya. Bila berkaca pada cerita dalam ajaran agama, bukankah Qarun ditelan bumi justru karena kekayaannya yang berlimpah?

Sesungguhnya, Babel memiliki harta karun yang jauh lebih berharga dan telah menjadikan masyarakat Babel sebagai masyarakat yang beradab. Kemajemukan dan kerukunan itulah harta karun sosial yang tertanam dalam kehidupan masyarakat. Ilmuwan sosial menyebut “harta karun” itu dengan istilah “modal sosial”. Modal sosial inilah yang menjadikan Babel menjadi tempat yang aman ketika kerusuhan Mei 1998 terjadi di berbagai kota di Indonesia. Kerukunan antaretnis di Babel juga tercermin dalam bentuk saling mengunjungi antara warga etnis Melayu yang mayoritas beragama Islam dengan warga etnis Tionghoa yang beragama Konghucu pada saat perayaan hari besar agama masing-masing. Kekhasan semacam ini merupakan modal sosial yang sangat berharga guna mendukung kondisi yang kondusif di Babel.

Kendati demikian, suatu masyarakat selalu bergerak dinamis. Pada tahun 2002, Nurhayat Arif Permana lewat artikelnya mewanti-wanti bahwa perubahan Babel menjadi provinsi merupakan gerbang perubahan sosial yang cukup menentukan bagi negeri Serumpun Sebalai ini. Seiring bertambahnya orang yang melihat peluang ekonomi di provinsi baru ini, bertambah pula kompleksitas persoalan sosial-budaya di provinsi ini. Pertanyaannya kemudian ialah, apakah modal sosial yang selama ini menopang kerukunan masyarakat Babel dalam kemajemukan masih cukup ampuh untuk menghadapi perubahan-perubahan mendatang? Di manakah sesungguhnya “harta karun” sosial tersebut mengendap? Apa upaya yang sebaiknya dilakukan agar modal sosial tersebut tetap lestari dan kontekstual dengan tuntutan zaman?

Menurut penulis, modal sosial tersebut tertanam dalam tradisi masyarakat dan adat-istiadat yang dapat berupa nilai-nilai maupun kebiasaan yang terus berlangsung. Tradisi Nganggung dapat kita ambil sebagai salah satu contohnya. Nganggung sesungguhnya adalah salah satu tradisi yang mencerminkan kehendak masyarakat untuk bertemu dan berbagi. Dapatlah kita katakan bahwa tradisi semacam ini adalah ciri khas Indonesia – tradisi kolektivitas masyarakat-masyarakat adat di Nusantara yang oleh Bung Karno diberi istilah “gotong-royong”.

Tentu masih banyak lagi kearifan-kearifan adat masyarakat Serumpun Sebalai yang perlu dilestarikan. Karena, sebagaimana pernyataan Wakil Gubernur Babel, Syamsuddin Basari, kepada wartawan Bangka Pos, sesungguhnya keberadaan kelompok masyarakat hukum adat merupakan aset sosial budaya yang tak ternilai harganya (Bangka Pos, 18 Januari 2009). Kekayaan nilai-nilai budaya tersebut dapat berupa kesenian tradisional maupun pengetahuan lokal dalam mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan. Ada pula kearifan-kearifan lokal lain yang selama berbilang generasi telah menjadikan Babel sebagai negeri Laskar Pelangi yang ramah masyarakatnya dan indah alamnya.

Oleh karena itu, “Visit Babel Archipelago 2010” sebetulnya tidaklah sekadar bertumpu pada keelokan batu-batu karang dan pasir pantai, namun juga berdiri di atas fondasi tradisi-tradisi masyarakat yang rukun dalam kemajemukan dan ramah lingkungan.

___________

Ahmad Subhan, Pustakawan kelahiran Pangkalpinang, tinggal di Yogyakarta.

Sumber foto: http://unic77.blogspot.com


Dibaca : 1.997 kali.

Tuliskan komentar Anda !