Close
 
Senin, 4 Mei 2026   |   Tsulasa', 17 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 674
Hari ini : 17.090
Kemarin : 27.323
Minggu kemarin : 192.091
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

05 mei 2010 02:12

Berhimpun di Makam Opu Daeng Menambun

Catatan Perjalanan ke Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat (3)
Berhimpun di Makam Opu Daeng Menambun

Oleh Iswara N. Raditya

Setelah menyusuri Sungai Mempawah selama kurang lebih 1 jam, akhirnya kami tiba di Sebukit Rama, tempat Opu Daeng Menambun dimakamkan. Tiga perahu yang kami tumpangi mulai merapat pelan dan berjalan beriringan. Dari jauh, terlihat keramaian yang menanti kedatangan kami di bibir Sungai Mempawah. Rupanya, acara ziarah ke makam Opu Daeng Menambun yang merupakan salah satu rangkaian dari perhelatan upacara adat Robo-Robo ini sangat menarik hati masyarakat Mempawah pada khususnya dan Kalimantan Barat pada umumnya. Bahkan, ritual adat ini telah ditetapkan sebagai agenda tahunan oleh pemerintah setempat dengan maksud untuk memantik kegairahan sektor pariwisata, terutama wisata budaya di Provinsi Kalimantan Barat.


Perahu Raja Merapat ke Tepi Sungai Mempawah

Kehadiran saya (reporter) dan Mas Aam (fotogragfer kami) selaku utusan dari www.MelayuOnline.Com ke Kerajaan Mempawah di Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, tentu saja dimaksudkan untuk mengikuti dan meliput rangkaian acara upacara adat Robo-Robo. Ritual adat ini diselenggarakan untuk memperingati kedatangan Opu Daeng Menambun ke Mempawah. Istilah Robo-Robo sendiri berasal dari kata “Rabu” yang diyakini sebagai hari kedatangan Opu Daeng Menambun ke Mempawah, tepatnya pada hari Rabu, pekan keempat bulan Safar.

Dari Sidiniang ke Sebukit Rama

Opu Daeng Menambun adalah penguasa pertama Kerajaan Mempawah pada masa Islam. Sebelum dipimpin oleh Opu Daeng Menambun, pemerintahan Kerajaan Mempawah dikelola oleh orang-orang dari Suku Dayak di bawah pimpinan Patih Gumantar dan sudah eksis sejak sekitar tahun 1380 Masehi. Karena pusat kerajaan ini berada di Pegunungan Sidiniang, di daerah Sangking, Mempawah Hulu, maka kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Sidiniang. Selanjutnya, pusat kerajaan ini mengalami beberapa kali perpindahan.

Setelah Kerajaan Sidiniang mengalami keruntuhan akibat serangan dari Kerajaan Suku Bianju yang terjadi pada tahun 1400 M dan mengakibatkan gugurnya Patih Gumantar, peradaban kerajaan ini mulai meredup. Akan tetapi, sekitar 200 tahun kemudian, atau pada sekitar tahun 1610 M, berdirilah pemerintahan baru yang dibangun di atas puing-puing Kerajaan Sidiniang. Pemimpin kerajaan baru ini bernama Raja Kodong atau Raja Kudung yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dari Sidiniang ke Pekana.

Pada sekitar tahun 1680 M, Raja Kudung mangkat dan dimakamkan di Pekana. Penerus tahta Raja Kudung adalah Panembahan Senggaok yang juga dikenal dengan nama Senggauk atau Sengkuwuk. Penyebutan nama “Senggaok” digunakan seiring dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Pekana ke Senggaok, yakni sebuah daerah di hulu Sungai Mempawah. Panembahan Senggaok mempunyai anak perempuan bernama Utin Indrawati yang kemudian dinikahkan dengan Sultan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan Tanjungpura. Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak bernama Puteri Kesumba. Puteri Kesumba inilah yang kemudian menikah dengan Opu Daeng Menambun, pelopor Islam di Mempawah.

Opu Daeng Menambun sendiri adalah seorang bangsawan yang berasal dari Kesultanan Luwu-Bugis, Sulawesi Selatan. Opu Daeng Menambun bersama ayahandanya yang bernama Opu Tendriburang dan empat orang saudaranya yang masing-masing bernama Opu Daeng Perani, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Marewah, dan Opu Daeng Kemasi, datang ke negeri-negeri Melayu untuk menyiarkan agama Islam dan membantu kerajaan-kerajaan Melayu yang mereka singgahi. Kedatangan mereka di tanah Melayu menjadi salah satu babak migrasi orang-orang Bugis yang terjadi pada abad ke-17. Opu Tendriburang Dilaga dan kelima anak lelakinya memainkan peranan penting di Semenanjung Melayu dan Kalimantan, terutama dalam hal penyebaran agama Islam.


Papan Petunjuk di makam Opu Daeng Menambun (1695 -1763 M)

Pada tahun 1740 M, Opu Daeng Menambun mulai memimpin Kerajaan Mempawah. Hari di mana Opu Daeng Menambun pertama kali menginjakkan kaki di Mempawah, yaitu pada hari Rabu pekan keempat pada bulan Safar, kemudian diabadikan melalui perhelatan ritual adat yang bernama upacara Robo-Robo. Sejak dipimpin oleh Opu Daeng Menambun, Kerajaan Mempawah bersulih menjadi kerajaan yang bercorak Islam dan agama Islam dijadikan sebagai agama resmi Kerajaan Mempawah.

Sejak memimpin Kerajaan Mempawah, Opu Daeng Menambun menggunakan gelar Pangeran Mas Surya Negara, sedangkan istrinya, Ratu Kesumba, menyandang gelar sebagai Ratu Agung Sinuhun. Tidak lama setelah berkuasa, Opu Daeng Menambun memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah dari Senggaok ke Sebukit Rama. Sebukit Rama juga inilah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Opu Daeng Menambun yang wafat pada tahun 1763 M.

Sakralnya Makam di Atas Bukit

Perahu yang kami tumpangi akhirnya benar-benar merapat ke tepi Sungai Mempawah. Banyak orang yang menyambut kedatangan kami, terutama untuk memberi penghormatan kepada keluarga besar Kerajaan Mempawah. Sesaat setelah berlabuh, rombongan raja segera bergegas menuju makam Opu Daeng Menambun. Saya dan Mas Aam pun mempercepat langkah kaki mengikuti rombongan Raja Mempawah menuju pintu masuk makam. Rangkaian anak tangga yang menjulang terbentang di balik gerbang menuju makam Opu Daeng Menambun.

Melihat anak tangga itu, saya jadi teringat pada makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, di mana jasad para raja yang pernah berkuasa di Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta disemayamkan di atas bukit. Mungkin apa yang diyakini di Mempawah ini sedikit mirip dengan kepercayaan dalam kosmologi Jawa. Dalam adat dan tradisi Jawa, berlaku keyakinan bahwa raja atau pemimpin harus dikebumikan di tempat yang tinggi karena orang Jawa meyakini bahwa semakin tinggi suatu tempat maka akan semakin dekat pula dengan Yang Maha Kuasa. Konsep raja adalah titisan/keturunan tuhan/dewa sepertinya cukup relevan untuk dikaitkan dengan kepercayaan ini.

Di depan gerbang kompleks makam Opu Daeng Menambun, telah banyak orang yang berdesak-desakan untuk ikut masuk. Rupanya, antusiasme warga masyarakat Mempawah dan sekitarnya sangat tinggi dalam mengikuti upacara adat yang diadakan setahun sekali ini. Saya pun turut berjejalan di antara orang-orang yang berebut anak tangga agar dapat segera naik. Akibat riuhnya keadaan saat itu, saya terpisah dengan Mas Aam meski mata saya sekilas sempat melihat fotografer andalan kami itu berlari-lari menaiki tangga untuk dapat menyusul rombongan Raja Mempawah. Rupanya, Mas Aam tidak mau melewatkan momen-momen penting untuk diabadikan melalui jepretan kameranya.


Berdoa Bersama di Depan Bangunan Makam

Saya beranjak menaiki anak tangga satu per satu. Namun, berbeda dengan Imogiri yang memiliki rangkaian anak tangga yang cukup lebar dan lurus, untuk menuju kompleks makam Opu Daeng Menambun dibutuhkan tenaga ekstra karena jalan naik itu sempit dan berliku-liku. Akhirnya, tiba juga saya di puncak Sebukit Rama. Makam Opu Daeng Menambun berada di dalam sebuah bangunan sederhana. Bangunan tersebut tidak begitu besar dan megah layaknya makam raja-raja, namun cukup rapi dan bersih. Di depan bangunan yang mirip musholla itu, Raja Mempawah telah dinanti oleh para pejabat Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Pontianak. Sebelum masuk ke bangunan untuk berziarah di makam Opu Daeng Menambun, terlebih dulu diadakan doa bersama.

Ketika doa selesai dan rombongan Raja Mempawah telah masuk ke dalam bangunan, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras. Turunnya hujan yang sekonyong-konyong ini cukup mengherankan karena beberapa menit sebelumnya, cuaca di sepanjang perjalanan, dari Sungai Mempawah hingga ke Sebukit Rama masih cukup panas dan membikin gerah.

Meski diguyur hujan lebat, acara ziarah tetap berlangsung. Raja Mempawah dan keluarga kerajaan, beserta para pejabat pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Pontianak, duduk rapi mengitari makam Opu Daeng Menambun yang dihias dengan pernak-pernik berwarna kuning, warna kebesaran khas Melayu. Prosesi ziarah berlangsung cukup lama dan nuansa sakral segera terasa menyelimuti tempat di mana kami menyimak ritual adat tersebut. Aroma dan asap dupa menambah pengap ruangan yang penuh sesak dengan pengunjung yang juga ingin mengikuti proses ziarah itu. Kendati demikian, suasana tenang dan khidmat tetap terjaga.


Makam Opu Daeng Menambun

Makam Opu Daeng Menambun dikelilingi oleh pagar yang dihiasi kain kuning. Di sudut makam, terdapat sebuah papan kayu dengan tulisan “Assalamualaikum, Al’ Fatiha, Opu Daeng Manambong”. Penulisan nama Opu Daeng Menambun memang sering ditulis dengan beberapa versi, seperti yang tertulis di buku-buku yang saya gunakan sebagai referensi untuk menulis tentang sejarah Kerajaan Mempawah. Nama yang tercantum pada batu nisan pun berbeda. Di batu nisan yang terbuat dari batu berwarna putih itu tertulis: “Opu Daeng Menambon Ibnu Bin Tandre Borong Daeng Rilaga, Lahir 1106 H (1695 M), Wafat 1174 H (1763 M)”.

Rangkaian prosesi ziarah yang terakhir adalah tabur bunga dan membersihkan makam Opu Daeng Menambun dengan air bersih. Raja Mempawah dan keluarga kerajaan serta beberapa orang pejabat pemerintah daerah bergiliran melakukan ritual pamungkas ini.


Membasuh Makam Opu Daeng Menambun

Setelah prosesi itu selesai, para hadirin bersiap-siap untuk meninggalkan Sebukit Rama. Kebetulan, hujan pun telah berhenti. Setelah rombongan Raja Mempawah dan rombongan pejabat pemerintah meninggalkan kompleks makam Opu Daeng Menambun, berangsur-angsur para pengunjung juga ikut serta menuruni tangga untuk kemudian kembali ke tempat asal masing-masing. Saya sendiri bergabung kembali dengan Mas Aam dan segera meninggalkan tempat keramat itu, di mana di bawah sana sudah disediakan mobil dari panitia yang menunggu dan akan mengantarkan kami.

__________

Iswara N. Raditya, Redaktur Sejarah/Reporter www.MelayuOnline.Com

Sumber Foto: Koleksi BKPBM/MelayuOnline (Fotografer: Aam Ito Tistomo)


Dibaca : 2.637 kali.

Tuliskan komentar Anda !