Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
21 april 2011 02:36
Kartini dari Melayu
Oleh Iswara N. Raditya
Jika kaum hawa di Jawa punya Kartini sebagai pendekar wanita yang paling kesohor, kaum perempuan di Sumatra juga punya idola yang tak kalah harum namanya, ialah Siti Roehana Koeddoes. Dari tanah Melayu, Roehanna mengiringi perjuangan yang dirintis Kartini. Kartini melegenda berkat baktinya memperjuangkan kaum hawa, khususnya di Jawa bagian tengah, demikian pula Roehanna yang menjalankan gerakannya dari Sumatra. Duo srikandi Indonesia, Roehanna dan Kartini, menempuh jalan yang sama dalam upaya mengentaskan perempuan dari pembodohan dan penindasan, yakni lewat jalur pendidikan. Kedua perempuan hebat ini seharusnya menyandang gelar sebagai mahaguru perempuan Indonesia.
Di Kotogadang, Sumatra Barat, Roehanna lahir pada 20 Desember 1884. Upaya mencerdaskan bangsa telah digagas Roehanna sejak usia 8 tahun. Saat itu, Roehanna sudah berperan sebagai “guru kecil” dengan menyediakan rumahnya untuk sekolah dadakan bagi anak-anak perempuan di kampungnya. Pelajaran yang diberikan meliputi membaca, menulis, bahasa, materi budi-pekerti, agama, dan keterampilan menganyam.
Roehanna sangat percaya bahwa perempuan mampu meraih cita-cita menjadi dokter, guru, atau profesi lainnya yang terlanjur lekat dengan anak-cucu Adam kala itu. Selain itu, Roehanna menganjurkan kaumnya untuk merantau, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh kaum lelaki. Bagi kalangan adat Minangkabau yang konservatif, gagasan Roehanna itu jelas menyimpang. Roehanna terpaksa menerjang larang karena baginya, emansipasi perempuan harus diperjuangkan demi kemajuan.
Saat berusia 27 tahun, tepatnya pada tahun 1911, Roehanna memimpin Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang. KAS adalah sekolah perempuan pertama di Sumatra yang digagas langsung oleh perempuan. Roehanna menjadi wanita Sumatra pertama yang dengan sadar memulai usaha memajukan kaum perempuan. Tak dinyana, sekolah ini cepat berkembang dan mampu menghasilkan barang-barang kerajinan berkualitas tinggi.
Seiring sepak-terjang KAS yang kian pesat, nama Roehanna pun terangkat hingga datang undangan baginya untuk melawat ke Barat. Roehanna diundang untuk turut berpartisipasi dalam ajang Internationale Tentoonstelling (Pameran Kerajinan Internasional) yang akan dihelat di Belgia pada tahun 1913. Namun, Roehanna batal berangkat karena ada pihak-pihak yang tidak suka sehingga menghalanginya untuk ikut dalam agenda internasional itu. Kendati demikian, perjuangan Roehanna bersama KAS menjadi nilai tersendiri. Hebatnya lagi, sekolah yang diprakarsai Roehanna itu masih bertahan hingga saat ini di mana pada tahun 1979 diresmikan dengan nama Yayasan Kerajinan Amai Setia.
Sama seperti yang dialami Roehanna, kegelisahan Kartini juga bermula dari persoalan adat. Praktek tradisi Jawa yang tak mengganggap penting peran perempuan menjadi perhatian khusus putri Bupati Jepara kelahiran 21 April 1879 ini. Sekuat-kuatnya Kartini bertahan, namun tetap saja kuasa adat yang keluar sebagai pemenang: Kartini dipaksa menikah. Meskipun semula Kartini menolak, pada akhirnya ia terpaksa menyetujui calon pilihan ayahnya, yakni Raden Adipati Djojodiningrat (Bupati Rembang). Kartini tidak mau mengecewakan orang tua. Selain itu, Kartini menilai bahwa calon suaminya bukan tipikal lelaki kolot yang anti kemajuan, dan itu ternyata benar.
Tak lama setelah menikah, Kartini mendirikan sekolah untuk anak perempuan pada tahun 1903 di Rembang. Sang suami mendukung penuh gagasan itu dengan menyediakan kantor kabupaten sebagai ruang kelas. Kartini mengusahakan guru-guru yang berkualitas dan berupaya meningkatkan mutu pendidikannya. Bahkan, Kartini yang menanggung biaya mengajar, makan, dan asrama bagi murid-muridnya.
Apa yang dilakukan Kartini dan Roehanna atas nasib kaum perempuan Indonesia merupakan dampak positif dari pemikiran etisme yang mulai marak menjelang abad ke-20. Baik Kartini maupun Roehanna sangat gemar membaca buku-buku atau media massa, terutama terbitan Eropa. Mereka terinsipirasi oleh perjuangan emansipasi perempuan di Eropa yang telah mampu menempatkan hak-hak perempuan sejajar dengan lelaki. Mereka lantas mencoba menerapkan prinsip-prinsip emansipasi itu demi kemajuan kaum perempuan di negeri sendiri yang masih terkekang kekolotan feodalisme adat.
Kartini semakin mantap berjuang setelah ia memperoleh kesempatan bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) yang merupakan sekolah untuk anak-anak Eropa, peranakan, dan sedikit anak pribumi yang berasal dari keluarga bangsawan kelas atas. Kartini lantas bertekad untuk mendirikan sekolah supaya anak-anak perempuan Indonesia menjadi cerdas dan maju karena hanya kalangan tertentu yang bisa mengenyam pendidikan yang baik seperti dirinya. Sementara Roehanna tidak seberuntung Kartini, ia tidak pernah sempat merasakan bangku pendidikan seumur hidupnya, namun justru itulah yang melecut Roehanna untuk berjuang menyuluh kaum perempuan.
Persoalan takdir menjadi pembeda yang cukup mencolok antara Kartini dan Roehanna. Kartini keburu wafat dalam usia 25 tahun, tepatnya pada tanggal 17 September 1904 atau hanya berselang 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya. Sedangkan Roehanna dikaruniai kesempatan hidup yang jauh lebih panjang. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 17 Agustus 1972, menjelang umur 88 tahun. Atas segala jasa dan perjuangan mereka dalam upaya mencerdaskan bangsa, pemerintah Republik Indonesia mengganjar Kartini dan Roehanna Koeddoes dengan gelar pahlawan bangsa.
Tidak ada salahnya jika kita sedikit mengingat apa yang pernah diucapkan oleh Roehanna: “Kemajuan itu tak hanya pendapat pada pihak laki-laki saja, pihak perempuan berkemajuan juga. Bangsaku perempuan hendaknya juga dimajukan, jangan sekali-kali ditinggalkan di belakang. Kepandaian itu amat berguna bagi saudara kami laki-laki juga perempuan. Sekali lagi, anak perempuan harus terus disekolahkan!” Nah, tunggu apa lagi? Sudah saatnya kaum perempuan Melayu bergerak untuk melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh Roehanna dan Kartini selaku duta perempuan nasional.
__________
Iswara N. Raditya,Redaktur Sejarah www.MelayuOnline.com
Sumber Foto: Petrik Matanasi, et.al., 2008. 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Indonesiabuku.