Senin, 7 September 2026 |Tsulasa', 24 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 13.883
Hari ini
:
200.353
Kemarin
:
25.829
Minggu kemarin
:
32.264.566
Bulan kemarin
:
43.463.948
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Opini
12 januari 2011 02:08
Meresapi Kenangan di Teluk Selong, Martapura
Catatan Perjalanan ke Martapura, Kalsel (2)
Oleh Iswara N. Raditya
Hari itu hari kedua Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) menginjakkan kaki di bumi Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Siang selepas ibadah Jum’at tanggal 11 Desember 2010, kami segera meluncur ke Teluk Selong, tempat di mana istana Kesultanan Banjar rencananya akan dibangun. Jarak antara Martapura dan Telok Selong rupanya tidak begitu jauh, kira-kira hanya memakan waktu tempuh setengah jam hingga 45 menit perjalanan dengan menumpang mobil. Setelah lepas dari pusat kota Martapura, di sisi kanan dan kiri jalan yang kami lewati tersaji hamparan rawa. Namun, rawa yang kami lalui itu jangan dibayangkan seperti wujud rawa pada umumnya yang lekat dengan kesan lembab, gelap, dan bahkan angker, melainkan lebih mirip seperti genangan air atau telaga yang luas. Meskipun demikian, orang setempat lebih sepakat menyebut rawa untuk menamakan genangan air itu.
Akhirnya, tibalah kami di Teluk Selong yang juga terletak di salah satu ruas rawa di sepanjang jalan yang kami lewati tadi. Tidak ada bangunan istana megah yang kami temukan di Teluk Selong. Ada dua bangunan di lokasi Teluk Selong, yakni dua buah rumah adat Banjar yang terletak berjajar depan dan belakang. Bangunan yang terletak di bagian depan sepertinya tampak renta jika dilihat dari luar, namun ternyata masih cukup baik kondisinya apabila kita masuk ke dalam ruangan-ruangannya. Sedangkan rumah adat Bubungan Tinggi yang terletak di belakang bangunan pertama terlihat lebih baru namun juga tidak kalah menorehkan kesan klasik sebagai pengingat bahwa di sinilah dulu istana Kesultanan Banjar pernah berdiri megah. Kedua bangunan tersebut berada di dalam pagar kayu berornamen khas Banjar yang menandakan bahwa inilah kawasan cagar budaya yang akan digunakan sebagai lokasi untuk membangun kembali istana Kesultanan Banjar.
Lokasi Bekas Istana Kesultanan Banjar
Teluk Selong, atau yang juga dikenal dengan nama Batang Banyu atau Kayu Tangi, digunakan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banjar sejak masa pemerintahan Sultan Musta’inbillah (1595-1620 Masehi) atau yang juga dikenal sebagai Pangeran Kacil. Sentra kekuasaan Kesultanan Banjar terpaksa dipindahkan ke Teluk Selong karena istana sebelumnya yang berada di Muara Kuin, Banjarmasin, diserang oleh Belanda pada tahun 1612. Konon, istana Kesultanan Banjar di Teluk Selong sangat indah pada waktu itu, seperti yang dikisahkan oleh Andreas Paravicini, seorang utusan Belanda, dalam sedikit nukilannya yang disarikan dari buku tentang sejarah dan budaya Banjar karya Idwar Saleh (1984) berikut ini:
“...alat kerajaan, pembawa senjata-senjata kerajaan dan lambang kerajaan, semuanya itu ditata, dihias dengan berlian yang mahal dan dihias dengan emas, dan akhirnya mahkota Kerajaan Banjar yang terletak di samping Sultan, di atas bantal-bantal beledru kuning yang dihiasi dengan rumbai-rumbai hingga membuat seluruhnya (menjadi) suatu pemandangan yang mengagumkan di dunia...”
Tujuan kebangkitan Kesultanan Banjar yang ditandai dengan dinobatkannya Pangeran Gusti Haji Khareul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar sendiri adalah untuk mengembalikan kembali kejayaan Kesultanan Banjar dalam konteks budaya dan adat-istiadat. Salah satunya dengan berusaha membangun kembali Istana Kesultanan Banjar di Teluk Selong sebagai simbol budaya Kesultanan Banjar yang selama ini hilang dan nyaris terlupakan. Sementara itu, setelah puas berkeliling kompleks Teluk Selong sembari meresapi kenangan betapa agungnya istana yang dahulu berdiri di kawasan ini, dan tidak lupa mengambil gambar untuk keperluan dokumentasi, tim BKPBM pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, yakni ke Banjarmasin.
Rumah Bumbungan Tinggi di Teluk Selong
Dari Teluk Selong, kami kembali menyusuri rawa sebelum akhirnya mengambil rute ke Banjarmasin. Jalur alternatif dari Martapura ke Banjarmasin yang kami lalui berada di tepi sungai. Kata pemandu kami, sungai itu bernama Sungai Martapura, anak cabang dari Sungai Barito. Sungai Martapura memang menjadi penghubung antara kota tempat kami berangkat dengan kota yang akan kami tuju: hulu sungai terdapat di Martapura dan bermuara di Banjarmasin. Salah satu titik teramai pasar terapung juga terdapat di Sungai Martapura, namun pasar unik yang menggelar transaksi di tengah sungai itu hanya bisa dijumpai pada waktu pagi-pagi sekali.
Di tengah perjalanan, kami menyempatkan singgah ke warung Soto Bawah Jembatan untuk mengisi perut dengan kuliner khas Banjar: Soto Banjar. Sesuai dengan namanya, warung soto itu terletak di bawah jembatan dan tepat di tepi Sungai Martapura. Menikmati nikmatnya Soto Banjar sambil berbincang santai di tengah sejuknya angin yang sepoi-sepoi di pinggir sungai besar memang menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami. Selain Soto Banjar, sajian kuliner khas lainnya yang disediakan di warung Soto Bawah Jembatan adalah itik goreng atau itik panggang yang tidak kalah sedapnya. Apalagi minumnya es kelapa muda yang kian menambah sempurna suasana di siang menjelang sore itu.
Menikmati Soto Banjar di Tepi Sungai Martapura
Kami tidak bisa berlama-lama lagi memanjakan perut karena masih ada tujuan yang wajib kami sambangi. Setelah perut terasa kenyang dan badan pun kembali bugar, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke obyek tujuan kami yang terakhir untuk hari ini, yakni ke Kompleks Makam dan Masjid Sultan Suriansyah. Nantikan catatan perjalanan kami di jejak-jejak sejarah Sultan Suriansyah, pendiri Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan. (Bersambung).
__________
Iswara N. Raditya, Redaktur Sejarah www.MelayuOnline.com
Foto: Fajar Kliwon & Iswara N. Raditya (Dokumentasi BKPBM)