Close
 
Sabtu, 22 Juli 2017   |   Ahad, 27 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 9.088
Hari ini : 64.370
Kemarin : 89.271
Minggu kemarin : 728.948
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.882.993
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

28 oktober 2008 03:56

Orientasi Melayu: Ke Belakang atau Ke Depan?

Orientasi Melayu: Ke Belakang atau Ke Depan?

Oleh Abdul Malik

Puncaknya adalah modernisasi. Wujud baru kebudayaan dunia itu —dibandingkan sebelumnya yang bersifat tradisional— mengubah wajah dunia secara total. Persebaran dari tanah kelahirannya, Inggris, pada abad ke-18 merebak luas. Mula-mula ke negara-negara dan atau bangsa yang berkebudayaan sama (Barat), seluruh daratan Eropa dan Amerika Utara. Jalarannya sampai ke semua benua, termasuk Asia dengan Jepang, sekarang, sebagai komandan barisannya.

Pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke modern melalui revolusi industri merupakan satu bagian yang paling menakjubkan dalam modernisasi masyarakat. Tak hanya itu, dalam bidang ekonomi bertumbuhkembanglah industri-industri besar yang memproduksi barang secara massal, baik barang konsumsi maupun barang produksi. Organisasi-organisasi yang kompleks untuk mendirikan, melaksanakan, dan mengembangkan alat-alat produksi, mengadakan pembelian bahan baku, dan penjualan produknya pun dikembangkan untuk melayani keperluan itu.

Selain itu, sebagai aspeknya, pembangunan sosial-budaya dan politik juga menjadi indikator modernisasi. Muncul dan kekalnya masyarakat modern juga tergantung pada perkembangan tertentu, antara lain, pada sistem kepercayaan, sistem nilai, norma, dan sistem pendidikan. Masyarakat memiliki apresiasi positif terhadap perubahan, khususnya dalam bidang ekonomi, sains (ilmu pengetahuan), teknologi, dan seni.

Pendek kata, gejala modernisasi terlihat apabila terjadi transformasi (perubahan) masyarakat dalam semua bidang kehidupan. Jika didapati di suatu daerah terdapat bandar udara yang megah, pelabuhan laut yang memesona, dan gedung bertingkat yang mulai bersilang menjulang, tetapi bersamaan dengan itu juga sampah-sarap berserakan di mana-mana, masyarakat miskin tak pernah menurun, pengangguran termasuk yang terselubung terus saja meningkat, dan pendidikannya jangankan untuk memfasilitasi perubahan, memenuhi keperluan yang ada di depan mata pun tak mampu; di situlah sendatan dan sumbatannya sehingga modernisasi berjalan pincang. Itu pun kalau masih boleh disebut berjalan.

Atas dasar indikator modernisasi itulah, masyarakat atau bangsa di dunia dibagi dalam dikotomi (1) maju dan (2) sedang berkembang. Masyarakat, budaya, dan atau negara maju dikenalkan kepada yang telah mengalami modernisasi. Sebaliknya, yang sedang mengadakan modernisasi disebut masyarakat, bangsa, dan atau negara yang sedang berkembang, suatu ungkapan penghalus alih-alih terkebelakang.

Bagaimanakah halnya dengan masyarakat Melayu (Indonesia)? Belajar dan meneruskan pikiran dan siasat kolonial, bergeloralah pernyataan bahwa masyarakat Melayu sulit menjadi masyarakat yang maju karena budayanya berorientasi ke belakang. Suatu pukulan telak yang semula dilakukan oleh penjajah Belanda di Indonesia untuk memosisikan bangsa jajahannya ke jurang terdalam penyakit rendah diri (harus dibedakan dengan rendah hati) bagi memuaskan dan mengekalkan nafsu kolonialnya, yang setelah merdeka, diteruskan oleh para pemuja kolonialisme di kalangan bangsa sendiri, boleh siapa saja! Semangat seperti itu pun memiliki daya hambat yang cukup kuat bagi modernisasi.

Untuk menjawab semua itu, marilah kita tinjau beberapa aspek budaya Melayu tentang kemajuan. Pertama, perspektif Melayu tentang waktu. Dalam budaya Melayu (terekam dalam bahasanya) ada empat rujukan (referen) untuk masa depan yaitu besok, lusa, tulat, dan tubin. Besok merujuk kepada `satu hari setelah sekarang`, lusa `dua hari setelah sekarang`, tulat `tiga hari setelah sekarang`, dan tubin `empat hari setelah sekarang`. Sekurang-kurangnya itu yang masih terekam (tersisa?) pada kita untuk dimiliki sampai hari ini. Bandingkan dengan hanya dua rujukan untuk masa lampau: semalam dan kemarin. Semalam `satu hari sebelum sekarang` dan kemarin `beberapa hari atau lama sebelum sekarang`.

Dari ilustrasi di atas jelas budaya Melayu lebih mengutamakan masa depan (kemajuan) daripada masa lalu (kemunduran). Hal itu terbukti dengan lebih banyak khazanah kata untuk merujuk waktu yang akan datang daripada waktu yang telah berlalu. Bahasa Inggris yang mewadahi modernisasi saja tak memiliki khazanah kata untuk merujuk waktu setelah hari ini (sekarang) sebanyak bahasa Melayu (bahasa Indonesia).

Dalam menghadapi peristiwa yang melibatkan masa lalu dan masa depan, orang Melayu akan mengatakan, “Yang lalu, biarlah berlalu. Yang perlu kita pikirkan sekarang bagaimana menghadapi yang akan datang karena hari yang akan datang itu masih panjang membentang di depan kita.” Atau, dalam ungkapan yang agak puitis disebutkan, “Yang lalu tinggal kenangan, yang sekarang jadi kenyataan, dan yang akan datang adalah harapan.” Visi seperti itu sudah terinternalisasi ke dalam pikiran masyarakat Melayu umumnya sehingga pada orang, peristiwa, tempat, dan waktu yang mengharuskan mereka mengungkapkannya; ungkapan itulah yang digunakan. Masyarakat yang berorientasi masa lampau manakah yang memiliki ungkapan futuristik semacam itu? Dalam peristiwa yang serupa kita tak akan pernah mendengar orang Melayu berujar, “Iyalah, dengan kejadian itu, tak ada lagilah harapan Anda untuk hari ini dan esok.” Tak pernah, tak akan pernah!

Seorang yang berusia sekitar 60—65 tahun sedang sibuk di kebunnya. Dia menanami sesuatu. Seorang pemuda berusia sekitar 18—20 tahun menghampirinya.

“Apa buat Pak Long?”

“Eh, Awang. Ini s(ed)ikit aja. Nanam nyiur (kelapa).”

“Pak Long, Pak Long. Untuk apa?”

“Awang, Pak Long mungkin tak sempat menikmati hasil yang Pak Long tanam ini. Tapi, semua ini untuk anak-cucu Pak Long nanti.”

Dialog di atas memang hipotetis, tetapi begitulah biasanya yang dijawab para orang tua Melayu jika mereka ditanyai tentang sesuatu yang mereka kerjakan, tetapi sangat berkemungkinan mereka tak akan menikmati hasilnya karena termakan usia. Pak Long menangkap implikatur (implicature =siratan) ucapan Si Awang, “Untuk apa?” karena usianya (Pak Long) sudah lanjut. Lalu, kalimat terakhir itulah yang diucapkannya. Dia akan terus menanami bibit kelapa dengan bersemangat. Tak akan terjadi sebaliknya, “Iya tak iya Awang. Tak jadilah Pak Long nanam nyiur ini.” Tak pernah, tak akan pernah terdengar. Berorientasi ke masa lampaukah seorang Pak Long?

Dan, ungkapan berakit-rakit ke hulu/berenang-renang ke tepian/bersakit-sakit dahulu/ bersenang-senang kemudian/ sangat jelas orientasi masa depannya. Pun, betapa pentingnya nilai kerja dalam budaya kita.

Dalam wadah budaya itulah bergemuruh pelbagai kegiatan ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan lain-lain di dalam Kerajaan Riau-Lingga dari abad ke-18 sampai awal abad ke-20. Tanjungpinang dijadikan bandar pelabuhan bebas dan perdagangan bebas. Para cendekiawan membentuk organisasi Kelab Rusydiah, yang memikirkan perkembangan negeri kalau perlu memberikan kritikan keras kepada penguasa, bahkan kepada penjajah mereka melawan.

Percetakan Rumah Cap Kerajaan, Mathba`at al-Riauwiyah, Mathba`at al-Ahmadiyah, dan Ahmadiyah Press serta perpustakaan kerajaan didirikan. Majalah Al-Imam diterbitkan sebagai media untuk mencerdaskan masyarakat. Orang-orang berbakat dan berminat dikirim ke luar daerah dan atau ke luar negeri untuk belajar, di samping yang belajar di dalam kerajaan.

Perkebunan besar dibangun dengan mendatangkan pekerja dari luar kerajaan, yang dalam konteks sekarang disebut luar daerah dan luar negeri. Pertambangan dikelola dengan baik. Di Midai, Pulau Tujuh, didirikan sistem ekonomi baru dalam bentuk koperasi yang diberi nama Serikat Dagang Ahmadi, ketika Indonesia belum mengenal koperasi sama sekali. Di Batam didirikan perusahaan batu bata. Kepiawaian mengelola laut dan pelabuhan sebagai sumber ekonomi berkembang pesat. Karya-karya intelektual tumbuh merecup dalam pelbagai bidang ilmu.

Kesemuanya itu dilaksanakan sendiri oleh anak negeri. Akibatnya, perekonomian negeri tak hanya bergantung kepada pajak dan retribusi, yang hasil terbesarnya dibawa pulang oleh orang asing ke negeri masing-masing. Semua ciri modernisasi dalam menuju masyarakat yang maju sudah diperjuangkan di sini. Takkan ada budaya yang berorientasi masa lampau yang mampu meraih capaian seperti itu.

Lalu, kalau orang menoleh ke masa lalu ketika menghadapi kenyataan masa kini, apa yang menjadi puncanya? Jawabnya, ada yang tak kena pada pengelolaan masa kini.

Barat memulai modernisasi ketika masyarakatnya sudah memperoleh pendidikan yang memadai. Revolusi industri tak akan pernah terjadi tanpa revolusi sains dan teknologi yang diperoleh dari sistem pendidikan. Pembangunan pendidikanlah yang menentukan perkembangan ekonomi. Membangun masyarakat modern yang bercirikan spesialisasi fungsi dalam semua bidang kehidupan memerlukan pendidikan dan pelatihan yang tak hanya mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat, tetapi juga bermutu, dan terkait dan sepadan dengan bidang-bidang dalam modernisasi.

Ketika Barat meremehkan budaya lain untuk memasuki modernisasi, karena modernisasi itu berasal dari budaya Barat, Jepang menjawab tantangan itu dengan spektakuler. Dengan politik “sains dan teknologi Barat, kepribadian Jepang” mereka mampu bersaing dengan masyarakat Barat hanya dalam waktu 40 tahun. Padahal, untuk meraih capaian serupa, masyarakat Barat memerlukan 400 tahun. Keberhasilan Jepang diikuti oleh Korea, Singapura, dan tak lama lagi (2020) Malaysia (yang juga Melayu) pun “boleh”. Kuncinya tak lain dari pendidikan yang mampu memfasilitasi perubahan dalam modernisasi, pendidikan yang mampu membuat estimasi kepandaian dan kemahiran apa yang diperlukan pada masa depan.

Di sinilah diperlukan kepiawaian para pemimpin sehingga kalaupun orang menoleh ke masa lalu suatu ketika nanti, yang dikenang adalah karya besar dari pemikiran bernas dan tangan dingin seorang pemimpin untuk bangsanya yang besar ini. Jadi, “kita pun bisa” karena tak ada hambatan budaya yang berarti untuk kita menjadi bangsa yang maju.

Sumber : http://batampos.co.id (27 Oktober 2008)

Foto: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu


Dibaca : 2.907 kali.

Tuliskan komentar Anda !