Senin, 27 Maret 2017   |   Tsulasa', 28 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 8.795
Hari ini : 61.304
Kemarin : 113.319
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.007.452
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Jusuf Sjarif Badudu

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Jusuf Sjarif Badudu, lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1926 di Gorontalo, Sulawesi Utara, Indonesia. Pendidikan dasarnya diselesaikan pada Sekolah Rakyat (1939) di Ampana, Volksonderwijser/CVO (1941) di Luwuk, dan Normaal School (1949) di Tentena, Sulawesi Tenggara. Ia kemudian melanjutkan sekolahnya di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan hingga tamat pada tahun 1951. Pada tahun 1955, ia menyelesaikan B.1 Bahasa Indonesia, dan delapan tahun kemudian (1963) ia meraih gelar S1 di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia. Badudu melanjutkan program S2 Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda hingga meraih gelar Master pada tahun 1973. Setelah itu, Badudu kembali ke Indonesia untuk melanjutkan S3 Linguistics di Universitas Indonesia, Jakarta, dan pada tahun 1975 ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Sastra dengan disertasi yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.

Badudu mengawali karir akademisnya dengan mengajar bahasa Indonesia pada sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tenggara hingga tahun 1951. Pada tahun 1951-1955, ia mengajar di sekolah menengah pertama di Poso, Sulawesi Tengah. Pada tahun 1955-1964, ia kemudian mengajar di sekolah menengah atas di Bandung. Pada tahun 1965, ia diangkat menjadi dosen di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung hingga tahun 1991. Sejak tahun 1982-an hingga sekarang, Badudu diangkat menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S2 dan S3) Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Pendidikan Bandung.

Selain aktif mengajar, Badudu pernah menjadi penatar guru-guru sekolah dasar di enam provinsi, yaitu: Sumatra Barat, D. I. Aceh, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan D.I. Yogyakarta dalam proyek PEQIP (Prelimenary Education Quality Improvement Project), sebuah lembaga bantuan Jerman yang bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional. Ia juga pernah menjadi pembawa acara “Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia” di Televisi Republik Indonesia Jakarta dari tahun 1977-1979, dan pernah sebagai penatar bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Selain itu, Badudu juga aktif menulis artikel dan menyampaikan makalah di berbagai forum internasional, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

2. Pemikiran

Badudu merupakan pakar bahasa yang telah banyak berjasa dalam pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di negeri ini. Selama menjadi pembina bahasa bertahun-tahun, Badudu menyadari bahwa kekacauan berbahasa Indonesia mencerminkan kekacauan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Kondisi ini tidak lepas dari kenyataan bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolah umumnya masih berkutat pada aspek pengetahuan bahasa, tanpa mengarahkan siswa untuk terampil berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Menurut Badudu, setidaknya ada tiga faktor yang membuat pemakai bahasa tidak dapat menggu­nakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pertama, perhatian orang yang sangat kurang terhadap bahasa Indonesia. Hampir semua orang menganggap remeh bahasa Indonesia, dan menganggap bahwa bahasa ini mudah sehingga tidak perlu dipelajari lagi, dan karena itu tidak perlu diperhatikan. Kedua, pengaruh bahasa daerah dan dialek bahasa Indonesia setempat juga menimbulkan adanya interferensi dengan bahasa Indonesia baku. Tanpa mempelajari bahasa Indonesia dengan baik, orang sukar menghindari pengaruh bahasa daerah dan interferensinya. Ketiga, sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar dan mengajarkannya sebagai mata pelajaran biasanya tidak berhasil meningkatkan kemampuan dan keterampilan muridnya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Oleh karenanya, Badudu menegaskan bahwa pengajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak terlepas dari peran serta lingkungan keluarga dan sekolah. Orang tua harus menjadi contoh dari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sementara itu, sekolah menjadi lembaga yang mengarahkan siswa agar terampil menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Pelajaran bahasa secara teoritis harus dihindari dan tujuan pengajaran bahasa Indonesia berupa penguasaan atas bahasa dan keterampilan berbahasa haruslah diutamakan. Pelajaran bercakap-cakap, ber­ce­­rita, bertanya jawab, berdiskusi dan berpidato, menyampaikan laporan, menge­mukakan pendapat, gagasan, dan kritik sebagai keterampilan lisan harus dipentingkan. Pelajaran mengarang juga harus dipentingkan agar siswa mengetahui bagaimana caranya menggunakan bahasa tulis. Singkatnya, tujuan pembelajaran bahasa bukanlah untuk menjadikan siswa sebagai ahli bahasa, melainkan sebagai seseorang yang dapat menggunakan bahasa untuk keperluannya sendiri, dapat memanfaatkan sebanyak-banyaknya apa yang ada di luar dirinya mulai dari mendengar, membaca, dan mengalami, hingga mampu berkomunikasi dengan orang di sekitarnya tentang pengalaman dan pengetahuannya.

3. Karya-Karya

Sebagai pakar bahasa dan orang yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya bahasa Indonesia, Badudu telah melahirkan beberapa karya yang diterbitkan dalam berbagai bentuk, di antaranya:

a. Karya-karya Badudu yang terbit dalam bentuk buku, yaitu:

  1. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia.
  2. Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid).
  3. Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah Jawabnya.
  4. Ejaan Bahasa Indonesia.
  5. Sari Kesusasteraan Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (2 jilid).
  6. Buku dan Pengarang.
  7. Belajar memahami Peribahasa (6 jilid).
  8. Peribahasa.
  9. Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid).
  10. Penuntun Ujian Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama.

b. Karya Badudu dalam bentuk penelitian, yaitu:

  1. Morfologi Bahasa Indonesia Lisan (Pusat Bahasa).
  2. Morfologi Bahasa Indonesia Tulisan (Pusat Babasa).
  3. Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an (Pusat Bahasa).
  4. Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (Pusat Bahasa).
  5. Bahasa Indonesia di Daerah Perbatasan Bogor-Jakarta (Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung).

c. Karya Badudu dalam bentuk Kamus, yaitu:

  1. Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia.
  2. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu dan Zain).
  3. Kamus Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Dasar (dalam proses penyelesaian).
  4. Kamus Kata-Kata Serapan Asing Bahasa Indonesia (dalam proses penyelesaian).

4. Penghargaan

Atas karya dan jasa-jasanya terhadap pengembangan bahasa, Badudu telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:

  1. Gelar Professor dari Universitas Padjajaran Bandung Indonesia (1982).
  2. Bintang Jasa Satyalencana 25 tahun Pengabdian pada Pembinaan Bahasa Indonesia dari pemerintah Republik Indonesia (2001).
  3. Bintang Mahaputra dari  pemerintah Republik Indonesia (2001). (TN/tkh/3/8-07).

Sumber :

  • www.pusatbahasa.co.id
  • www.kompas.com
  • http://jibis.pnri.go.id


Alamat Terakhir Prof. Dr. Jusuf Sjarif Badudu:

Jalan Bukit Dago Selatan 27 Bandung
Telepon dan Faksimile: 022-2501362.

Dibaca : 8.186 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password