Kamis, 23 Februari 2017   |   Jum'ah, 26 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 5.115
Hari ini : 37.384
Kemarin : 84.734
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.787.326
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Peneliti Melayu

Prof. Pudentia Maria Purenti Sri Sunarti, MA. (Pudentia MPSS)

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Nama lengkap beliau adalah Pudentia Maria Purenti Sri Sunarti, biasa ditulis Pudentia MPSS. Beliau lahir di Muntilan pada tanggal 8 Mei 1956. Pudentia menyelesaikan S1 di Universitas Indonesia, pendidikan S2 di University of Leiden and UC Berkeley, dan pendidikan S3 di Universitas Indonesia. Beliau mengabdikan diri di Universitas Indonesia sebagai pengajar (dosen) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Jakarta (http://uinews.ui.ac.id/pipermail/).

Pudentia merupakan sosok peneliti yang banyak bergerak dalam pengembangan tradisi lisan, baik secara tradisional maupun akademis. Salah satu wujud keseriusan beliau dalam menggali, menjaga, dan mengembangkan tradisi lisan adalah dengan menjabat sebagai Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) (Pudentia dalam Pudentia MPSS [ed.], 2008:377).

Beliau menaruh perhatian serius terhadap pengembangan tradisi lisan di nusantara. Hal ini terlihat dari beberapa tulisan beliau, yang antara lain dipublikasikan di beberapa media, seperti Warta ATL (yang kemudian berganti nama menjadi Jurnal ATL).

Pudentia menggali, mengembangkan, dan melestarikan tradisi lisan secara serius sebagai warisan budaya nusantara. Tradisi lisan bukan sekadar kekayaan budaya semata melainkan juga identitas yang mempunyai nilai yang sulit ditakar apabila dikomparasikan dengan pemahaman masa kini. Oleh karena itu, pemahaman akan tradisi lisan tidak hanya berkisar tentang pemberian suatu ruang agar tradisi tersebut bisa digelar, tetapi secara tekstual maupun kontekstual, tradisi lisan tersebut juga harus dipahami. Tujuannya adalah agar nilai yang melekat dalam tradisi lisan tersebut bisa dipahami oleh masyarakat di era sekarang.

2. Pemikiran

a. Revitalisasi Gerakan Budaya

Tradisi lisan bukan romantisme masa lalu atau sekadar obat bagi kerinduan pada masa lalu. Tradisi luhur harus digali dan dikembangkan meskipun tidak menutup kemungkinan untuk modifikasi, misalnya penggunaan idiom-idiom modern dalam tradisi lisan agar tetap memiliki aktualitas sehingga tidak ketinggalan zaman.

Tradisi lisan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami lebih jauh masyarakat dan budaya yang bersangkutan. Bagi Pudentia, tradisi lisan tidak hanya mencakup sastra lisan, seperti mite, legenda, dongeng, hikayat, mantra, puisi, dan teater, tetapi lebih jauh daripada itu. Tradisi lisan juga menyangkut sistem kognitif masyarakat, seperti adat istiadat, sejarah etika, obat-obatan, sistem genealogi, dan sistem pengetahuan yang dituturkan secara turun-menurun di wilayah Nusantara (www.mediaindonesia.com). Selain itu, bagi Pudentia, tradisi lisan bukan sekedar penuturan, melainkan juga media pewarisan budaya (http://wisatamelayu.com/).

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mewariskan budaya tersebut adalah revitalisasi gerakan kebudayaan. “Kunci utama dari revitalisasi adalah bagaimana sikap masyarakatnya. Apakah mereka mau melestarikan budayanya atau tidak menganggap perlu lagi. Dan, tentu kebudayaan itu harus masih ada dan belum mati,” ungkapnya (http://www.budpar.go.id/).

Banyak elemen di masyarakat yang menganggap tradisi lisan adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu. Anggapan tersebut sedikit-banyak menjadi penyebab berkurangnya gairah generasi sekarang untuk memelihara dan mempertahankan tradisi lisan tersebut (http://www.budpar.go.id/).

b. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)

ATL merupakan lembaga nirlaba yang didirikan oleh Pudentia sejak tahun 1996. Lembaga ini adalah wadah untuk menampung dan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bersifat akademis, seperti seminar, pelatihan peneliti muda, penelitian-penelitian dari berbagai bidang yang berkaitan dengan tradisi lisan, dan upaya untuk mempopulerkannya dalam dunia pendidikan (http://id.shvoong.com/).

Ratusan hasil penelitian mengenai mitos, cerita daerah, kesenian tradisional, bahasa, kajian etnografi, dan komunikasi yang didokumentasikan oleh lembaga tersebut tertata di kantor ATL yang terletak di Menteng Wadas, Jakarta. Kajian tekstual dalam tradisi lisan tersebut ditujukan untuk menjembatani hubungan antarmanusia karena sesungguhnya kecairan sebuah kebudayaan dapat terwakilkan dalam kelisanan yang mengakomodasi nilai-nilai masyarakat secara konkret. Akan tetapi, di atas segalanya, budaya lisan juga memiliki resistensi terhadap hegemoni dan kerutinan yang jauh berbeda dengan dunia teks.

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) telah memusatkan perhatian pada pemikiran-pemikiran teoretik dalam pengkajian tradisi lisan yang diharapkan dapat membangun paradigma baru dalam pendekatan kelisanan, antara lain dengan memadukan pendekatan tekstual dan kontekstual. Hal ini telah dilakukan sejak tahun 1996, yaitu ketika lembaga tersebut mulai melakukan pelatihan untuk para peneliti muda. Kegiatan ini ternyata merupakan pekerjaan akademis yang tidak mudah dilakukan karena terhambat oleh beberapa kendala. Salah satunya adalah kendala metodologis dalam pendeskripsian atau penggambaran kembali suatu pertunjukan atau pementasan (Pudentia dalam Pudentia MPSS [ed.], 2008:378).

c. Penelitian tentang Tradisi Lisan

Tujuan dari semua penelitian tentang tradisi lisan yang digeluti oleh Pudentia selama ini adalah menjaga agar kekayaan budaya di Nusantara tersebut tidak musnah. Pudentia telah mengamati fenomena dari masa ke masa yang menyiratkan sebuah “kematian” tradisi budaya yang merupakan sumber dan akar budaya nusantara. Hasil-hasil pengamatan memperlihatkan bahwa proses kematian tradisi, baik disengaja maupun tidak disengaja, akan berarti juga kematian sebuah identitas dan komunitas (Pudentia MPSS dalam Pudentia MPSS & Sutamat Arybowo [eds.], 1999:6).

“Kematian” yang beliau gambarkan sebenarnya bisa dihindari, setidaknya ditunda, jika semua pihak mau bekerja sama untuk menjaga dan mengembangkan budaya, dalam hal ini tradisi lisan. Kolaborasi antara kaum akademisi dan praktisi adalah kolaborasi paling ampuh dalam mengawal tradisi agar tidak mati.

Kreativitas dalam memberikan “bungkus” lain bagi beberapa budaya merupakan salah satu cara agar identitas budaya tersebut tidak mati. Misalnya saja pementasan Lenong Rumpi, Wayang Orang Gaya Baru, Berbalas Pantun, Ketoprak Humor, Ketoprak Jampi Stress di televisi dan Film Didong dari Aceh versi Garin Nugroho (Pudentia MPSS dalam Pudentia & Arybowo [eds.], 1999:6).

Hal tersebut di atas menjadikan budaya, khususnya tradisi lisan, dapat tetap dinamis dan hidup dalam berbagai bentuk, cara, dan kemasan yang baru. Keunikan dan kekhasan internal yang terdapat dalam masing-masing tradisi dan kesenian merupakan potensi yang dapat diolah untuk mengatasi faktor-faktor eksternal yang dapat menghalangi tradisi dan kesenian tersebut untuk masuk menembus masa kini (Pudentia MPSS dalam Pudentia & Arybowo [eds.], 1999:6).

Pudentia sebagai seorang akademisi sadar betul akan kewajiban yang disematkan kepadanya. Atas dasar tanggung jawab moral untuk menjaga dan mengembangkan tradisi tersebut, Pudentia melakukan berbagai penelitian yang banyak mengeksplorasi kekayaan budaya di Nusantara, khususnya dalam lapangan kajian tradisi lisan. Beberapa daerah yang telah beliau teliti sehubungan dengan tradisi lisan adalah Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, serta daerah-daerah lain di Nusantara (http://wisatamelayu.com/).

Pudentia melakukan penelitian tentang tradisi lisan Mak Yong di Kepulauan Riau sejak 1995. Penelitian yang dilakukan oleh Pudentia tersebut dapat dibagi dalam dua bidang, yaitu sejarah dan nilai budaya Mak Yong. Dilihat dari aspek sejarah, Mak Yong pertama kali dikenal oleh orang Eropa di daerah Nara Yala Patani pada abad XVII. Dari daerah tersebut, Mak Yong menyebar ke daerah Kelantan, Malaysia. Dari Kelantan, Mak Yong akhirnya sampai ke Kepulauan Riau setelah melewati Tanjung Kurau, Singapura (http://www.ebloggy.com/).

Mak Yong ternyata menampakkan kekhasan tersendiri di tiap daerah yang menjadi tempat perkembangannya. Mak Yong yang ada di Malaysia berbeda dengan Mak Yong yang ada di Kepualaun Riau. Pudentia memberikan contoh bahwa di Kepulauan Riau, penampilan Mak Yong di panggung menggunakan topeng, berbeda dengan Mak Yong di Malaysia yang tanpa menggunakan topeng. Semula, topeng yang digunakan terbuat dari daun pisang, kemudian terbuat dari tanah liat, lalu diganti dengan kertas, dan terakhir terbuat dari kayu (http://www.ebloggy.com/).

Pudentia mengambil sebuah kesimpulan bahwa Mak Yong memegang peranan yang penting dalam pembentukan budaya, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau. Mak Yong ternyata menjadi sebuah wahana penyalur budaya yang diterima oleh berbagai etnis di Kepulauan Riau.

Inti dari Mak Yong adalah hiburan (rakyat). Kalaupun ada cerita, maka akhir dari cerita selalu tidak pernah menyelesaikan masalah yang ada. Pertunjukan dianggap jauh lebih penting artinya daripada kelengkapan cerita. Hiburan inilah yang kemudian disebut sebagai salah satu nilai penting dari Mak Yong karena kemampuannya untuk menyusup ke dalam pranata sosial. Hiburan inilah yang seharusnya dijaga roh dan semangat hidupnya (http://kenedinurhan.blogspot.com/).

Pudentia akhirnya menyimpulkan bahwa Mak Yong sangat pantas menjadi “ingatan dunia“. Ingatan ini harus dijaga karena Mak Yong sangat kental akan nilai budaya, yaitu budaya Melayu di mana budaya tersebut merupakan bagian dari khasanah kebudayaan Nusantara dan dunia yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi (http://www.ebloggy.com/).

Pudentia mendokumentasikan peranan dan pertunjukan dua kelompok teater Mak Yong di Bintan, Kepulauan Riau, dalam sebuah perjalanan bersama timnya selama enam hari. Dari hasil dokumentasi tersebut, Pudentia lewat ATL akan mengajukan Mak Yong ke Memory of The World (MoW) Unesco, sebuah lembaga PBB yang mengurusi masalah seni dan budaya. Menurut Pudentia, hal in dilakukan agar dunia internasional mengakui Mak Yong sebagai warisan seni dunia dan memang sangat pantas kalau Mak Yong menjadi ingatan dunia (http://www.ebloggy.com/).

Penelitian yang dilakukan oleh Pudentia merupakan salah satu cara untuk melestarikan tradisi lisan, dalam hal ini tradisi lisan Melayu. Bagi Pudentia, tradisi Melayu (lisan) erat kaitannya dengan sastra karena bukti tentang keterbukaan Melayu salah satunya dapat dilihat melalui ungkapan sastra yang berbentuk pantun (Pudentia MPSS dalam Mukhlis Paeni & Pudentia MPSS [eds.], 2005:79).

Upaya yang dilakukan oleh Pudentia di Kepulauan Riau merupakan salah satu contoh gerakan untuk menjadikan tradisi lisan sebagai bagian dari nilai budaya. Hal ini sangat diperlukan mengingat di beberapa daerah di Indonesia, tradisi telah mengalami kepunahan. Pudentia mencontohkan bahwa terdapat bahasa yang hanya digunakan oleh 50 orang dan kini terancam hilang di Nias. Demikian juga di Bugis, Makassar, di mana kini sudah tidak ada lagi orang yang mampu membaca huruf Bugis. Hal serupa juga terjadi pada budaya Mak Yong dari Riau yang saat ini hampir punah. Hal ini merupakan sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan karena hilangnya sebuah tradisi akan berarti pula hilangnya identitas komunitas (http://www.budpar.go.id/).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pudentia untuk tetap memelihara dan mengembangkan tradisi lisan, khususnya budaya Melayu di nusantara. Atas perhatian dan dedikasi tersebut, maka Anugerah Melayu Online 2009 diberikan kepada Prof. Dr. Pudentia MPSS sebagai Tokoh Pelestari Tradisi Lisan Melayu (http://wisatamelayu.com/).

3. Karya

Pudentia merupakan sosok peneliti yang aktif melakukan penulisan, baik berupa artikel maupun buku. Berikut ini merupakan beberapa karya dari Pudentia.

a. Menulis beberapa buku antara lain:

  • Antologi prosa rakyat Melayu Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2003)
  • Transformasi sastra: analisis atas cerita rakyat Lutung Kasarung (Jakarta: Balai Pustaka. 1992)
  • Didong: pentas kreativitas Gayo (Jakarta: Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan dan Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Sains Estetika dan Teknologi. 2001)
  • Penelitian sastra Melayu (Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan-LIPI. 1992) (http://catalogue.nla.gov.au/).

b. Editor beberapa buku antara lain:

  • Metodologi kajian tradisi lisan (Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan. 2008)
  • Pantun Kentrung (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1993)
  • Pudentia juga bertindak sebagai redaktur ahli dalam buku Andrian Mommersteeg SVD. & Margaretha H. Dirkzwager (eds.), 1999. Punu Nangè: Ceritera dari So’a, Flores. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (http://catalogue.nla.gov.au/).

c. Tulisan dalam bentuk artikel antara lain:

  • “Management of culture inheritance: Reservation, documentation, and oral tradition copyrights” dalam Warta ALT, edisi VI. April, 2000.
  • “Atan: Penjaga tradisi Mak Yong Bintan” dalam Warta ALT, edisi VI. April, 2000 (Warta ALT, edisi VI. April, 2000:5-6 dan 61-63).
  • “Sangka Baik Melayu (II)” dalam Mukhlis Paeni & Pudentia MPSS (eds.), 2005. Bunga rampai budaya berfikir positif suku-suku bangsa. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) (Mukhlis Paeni & Pudentia MPSS [eds.], 2005:79-83).
  • “Kematian tradisi menuju proses kehilangan identitas” dalam Pudentia MPSS & Sutamat Arybowo (Editorial Advisory Board), 1999. Suara-suara milenium: keragaman budaya. Jakarta: Panitia Festival Budaya Nusantara 1999 (Pudentia MPSS & Sutamat Arybowo (Editorial Advisory Board), 1999:5-10).

4. Penghargaan


Pudentia MPSS menerima Anugerah Melayu Online 2009
untuk kategori Pelestari Tradisi Lisan Melayu

Anugerah Melayu Online 2009 untuk kategori Pelestari Tradisi Lisan Melayu. Penghargaan tersebut diberikan dalam Milad MelayuOnline.Com pada Selasa, 20 Januari 2009 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (http://wisatamelayu.com/).

(Tunggul Tauladan/pnl/01/03-2010)

Referensi

  • “Berharap mak yong jadi ingatan Dunia” [Online]. Tersedia di http://www.ebloggy.com [Diunduh pada tanggal 10 Maret 2010].
  • “Catalouge national library of Australia” [Online]. Tersedia di http://catalogue.nla.gov.au [Diunduh pada tanggal 30 Januari 2010].
  • “Mengail kearifan dari tradisi lisan”, Media Indonesia, Selasa 9 Desember 2008, diunduh dari, http://docs.google.com pada tanggal 31 Januari 2010.
  • “Pudentia, mengumpulkan kepingan tradisi lisan” [Online]. Tersedia di http://id.shvoong.com [Diunduh pada tanggal 2 Maret 2010].
  • “Ringkasan evaluasi diri program studi Indonesia FIB-UI”. [Online] Tersedia di http://uinews.ui.ac.id [Diunduh pada tanggal  Maret 2010].
  • “Tradisi lisan nyaris punah” [Online] Tersedia di http://www.budpar.go.id [Diunduh pada tanggal 30 Januari 2010].
  • Kenedi Nurhan, “Jangan menangis mak yong (bagian I)”. [Online] Tersedia di http://kenedinurhan.blogspot.com [Diunduh pada tanggal 10 Maret 2010].
  • Pudentia MPSS & Sutamat Arybowo (Editorial Advisory Board), 1999. Suara-suara milenium: keragaman budaya. Jakarta: Panitia Festival Budaya Nusantara 1999.
  • Pudentia MPSS, 1999. “Kematian tradisi menuju proses kehilangan identitas”. Dalam Pudentia MPSS & Sutamat Arybowo, 1999. Suara-sura milenium: Keragaman Budaya. Jakarta: Festival Budaya Nusantara, h. 6.
  • Pudentia MPSS, 2005. “Sangka baik”. Dalam Mukhlis Paeni & Pudentia MPSS (eds.), 2005. Bunga rampai budaya berfikir positif suku-suku bangsa. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
  • Pudentia, 2008. “Ketika peneliti harus ‘bercerita’ tentang tradisi lisan”. Dalam Pudentia MPSS (ed.), 2008. Metodologi kajian tradisi lisan. Seri tradisi lisan Nusantara jilid 20. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
  • Tasyriq Hifzillah, 2010. “Perayaan milad MelayuOnline.Com II: empat tokoh perempuan Melayu terima penghargaan”. [Online] Tersedia di http://wisatamelayu.com  [Diunduh pada tanggal 30 Januari 2010].
  • Warta ALT, edisi VI. April, 2000.

Sumber Foto

Dibaca : 17.327 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password