Minggu, 26 Maret 2017   |   Isnain, 27 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 10.473
Hari ini : 79.285
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.990.975
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Puisi

a:3:{s:3:

Puisi adalah karya sastra padat yang sangat hemat menggunakan kata-kata. Kekuatannya terletak pada kata-kata yang dipilih, dengan prinsip sedikit kata tapi banyak makna. Dengan kata lain, bisa disimpulkan bahwa puisi adalah karangan yang terikat oleh pemilihan diksi, rima dan suku kata dengan bentuk yang berangkap. Karakter puisi yang seperti ini mengharuskan penulis atau pengarangnya memiliki pemikiran yang dalam, dengan sensitifitas perasaan yang tinggi. Di samping kedalaman makna, dalam puisi juga terkandung keindahan kata. Dalam masyarakat Melayu, konsep keindahan tersebut biasanya berkaitan dengan unsur kekaguman pada alam, makna yang bersifat oposisi biner (seperti tinggi-rendah) ataupun pelbagai perasaan dalam menjalani kehidupan (seperti suka-duka). Selain itu, keindahan juga dipengaruhi oleh kesamaan bunyi dalam bahasa itu sendiri (seperti ubi dengan budi; talas dengan balas). Unsur alam, persamaan dan pertentangan makna, pengalaman hidup dan kesamaan bunyi inilah yang membentuk konsep keindahan di mata orang Melayu. Berkaitan dengan unsur alam, contoh-contoh berikut menunjukkan jelasnya pengaruh tersebut dalam perkembangan puisi Melayu lama, di antaranya: keindahan rambut perempuan dianalogikan dengan mayang terurai, dagunya bak lebah bergantung dan matanya bagai bintang timur. Contoh-contoh lain yang berkaitan dengan persamaan dan pertentangan makna, pelbagai ungkapan perasaan dan kesamaan bunyi sangat banyak terdapat dalam puisi Melayu lama.

Pertumbuhan puisi dimulai dari ungkapan dengan susunan kata dan makna estetis yang sederhana, seperti: ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Seiring perkembangan, susunan kata dan makna estetisnya semakin dalam dan rumit. Dalam kehidupan sehari-hari, puisi tersebut diciptakan dan berkembang bukan sekedar untuk hiburan, tapi juga sebagai alat pengajaran dan alat berkomunikasi, baik secara umum maupun khusus untuk ritual keagamaan dan upacara adat.

Ada banyak jenis puisi yang berkembang dalam masyarakat Melayu. Berdasarkan aspek keasliannya, jenis puisi dapat dibagi dua: puisi asli Melayu dan yang berasal dari tradisi asing. Secara umum, genre puisi Melayu asli adalah pantun, gurindam, seloka, mantra, teromba (puisi adat) dan peribahasa. Sedangkan puisi Melayu yang mendapat pengaruh asing adalah syair, nazam, rubai, ghazal, barzanji dll. Berdasarkan bentuknya, ada puisi yang berbentuk bebas dan ada pula yang terikat. Puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat pada rangkap, baris, jumlah perkataan, suku kata dan rima yang tetap. Sedangkan puisi terikat sebaliknya, terikat pada rangkap, baris, jumlah perkataan, suku kata dan rima yang tetap. Dalam portal ini terdapat uraian lebih rinci mengenai puisi ini dengan segala jenis dan bentuknya.

Kredit foto : www.arkib.gov.my

  1. Soneta.
  2. Syair (Modern). (2)
  3. Lirik.
  4. Puisi Naratif.
  5. Puisi Sosial.
  6. Balada.
  7. Balada Lirik.
  8. Sajak Bebas.
Dibaca : 64.049 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password