Wednesday, 27 August 2014   |   Wednesday, 1 Dzulqaidah 1435 H
Online Visitors : 908
Today : 3.883
Yesterday : 22.799
Last week : 137.461
Last month : 420.919
You are visitor number 97.061.395
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



25 oktober 2010 07:07

Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba

Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba

Judul Buku
:
Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba
Penulis
:
J.C. Vergouwen
Editor:
Fuad Mustafid
Penerbit:
LKiS, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, April 2004
Tebal
:
xxxvi + 642 halaman
Ukuran
:
14,3 x 20,8 cm
 

Batak Toba adalah salah satu sub suku Batak yang memiliki kebudayaan yang unik dan khas di antara suku Batak yang lain. Sistem kepemimpinan sosial, yakni harajoan, masih mereka jaga hingga sekarang. Realitas ini menunjukkan bahwa kebudayaan Batak Toba masih dijadikan panduan hidup masyarakatnya. Dalam konteks untuk tetap menjaga kearifan lokal, kebudayaan Batak Toba penting untuk dikaji dan didokumentasikan.

Adalah J.C Vergouwen, seorang Belanda yang pernah bertugas di Tapanuli Selatan pada masa kolonial Belanda, mencoba memahami kebudayaan Batak Toba. Vergouwen menulis sebuah buku penting tentang masyarakat dan hukum adat Batak Toba. Buku ini secara umum berisi tentang beberapa hukum adat yang berlaku di masyarakat Batak Toba, seperti hukum adat perkawinan, warisan, pemilikan tanah, pelanggaran di masyarakat, dan tentang utang-piutang.

Buku yang aslinya berbahasa Belanda (terbit tahun 1933) ini merupakan hasil penelitian Vergouwen (penulis) di Tapanuli Selatan dari tahun 1927 hingga 1930 ketika ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk membuat laporan mengenai mekanisme kerja peradilan-peradilan di daerah tersebut (h. viii). Buku ini adalah terjemahan dari teks berbahasa Inggris yang berjudul The Social Organisation and Customary Law of The Toba Batak of Northern Sumatra.

Kajian tentang hukum adat ini cukup seimbang dan rinci karena dilengkapi dengan kajian tentang sistem keluarga dan kekerabatan masyarakat adat Batak Toba serta sistem kepercayaan mereka. Oleh karena itu, bagi para pembaca yang memfokuskan pada kajian hukum adat, perlu untuk membaca buku ini. Dengan model tulisan seperti ini, pembaca akan mudah dalam memahami kehidupan orang Batak Toba.     

Kebesaran Kebudayaan Batak Toba

Salah satu ciri khas dan kebesaran kebudayaan Batak Toba adalah marga. Marga selalu dilekatkan pada akhir nama setiap orang Batak Toba di manapun mereka berada. Dengan marga orang Batak Toba dianggap memiliki identitas dan penanda sosial. Saat ini, identitas marga ini semakin terkenal karena banyak orang Batak yang muncul di media cetak maupun elektronik di negeri ini. Mereka umumnya memiliki profesi sebagai pengacara terkenal. Secara budaya, selain identitas marga merupakan penanda budaya yang penting untuk dijaga.   

Ketika banyak orang Indonesia tergila-gila mengganti nama-nama mereka dengan nama yang kebarat-baratan, orang Batak Toba masih setia dengan nama tradisional dan marga mereka. Dalam konteks ini, kesetiaan terhadap marga ini adalah sesuatu yang luar biasa dan penting untuk diapresiasi. Hal ini menandakan bahwa leluhur masih sangat berpengaruh dalam kehidupan orang Batak Toba.

Keterikatan orang Batak Toba pada leluhur dapat ditelusuri dari falsafah tradisional mereka, yaitu Dalihan Na Tolu atau tungku nan tiga (tungku tiga kaki). Falsafah ini mengajarkan bahwa orang Batak Toba sejak lahir hingga meninggal kelak, akan selalu terikat dalam struktur keluarga dan kekerabatan mereka yang terklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu atas, sejajar, dan bawah. Jika orang Batak Toba tidak jelas struktur keluarga dan kekerabatan mereka, maka identitas dan status sosial mereka di kalangan orang Batak tidak diakui. 

Selain marga, kebudayaan Batak Toba juga ditandai dengan konsep religius mereka tentang dewata, roh, makanan, pengobatan tradisional, ritual-ritual persembahan, hingga perselingkuhan konsep religius tradisional mereka dengan agama kristen. Perselingkuhan ini mengakibatkan kebudayaan Batak Toba semakin kaya dan beragam namun tetap menampakkan sisi tradisionalnya. Dalam konteks kebudayaan, hal ini patut dibanggakan karena kebudayaan tradisi tidak punah meski dipengaruhi oleh kebudayaan baru. Hingga saat ini orang Batak Toba masih mempercayai konsep roh yang disebut sumangot dan sombaon. Mereka juga masih mempercayai jiwa manusia yang meninggal tetapi sebenarnya masih hidup, untuk itu harus dihormati jiwanya (tondi) (h. 91-92).

Persekutuan masyarakat Batak Toba (harajoan) juga masih terjaga, meskipun harus bergulat dalam gempuran budaya individualis penduduknya. Harajoan merupakan konsep masyarakat Batak Toba di mana mereka secara sosial terhubung dalam tiga pihak, yaitu orang Batak, kampung, dan kelompok suku. Dalam kehidupan sosial orang Batak Toba diharapkan ikut terlibat dalam pengelolaan, pengawasan, dan penyelenggaraan pengadilan yang berhubungan dengan tanah, hutan, keamanan, acara-acara kampung, dan sebagainya.

Tanda kebesaran kebudayaan orang Batak Toba paling penting adalah pernah diberlakukannya berbagai hukum adat. Berdasarkan hukum adat kehidupan sosial orang Batak Toba diatur dalam sebuah bingkai kebudayaan tradisi. Dengan begitu, kebudayaan Batak Toba akan terus ada dan tidak punah ditelan zaman. Beberapa hukum adat ini hingga kini masih berlaku, akan tetapi beberapa sudah tidak diberlakukan baik dikarenakan ketidaksiapan pemiliknya (orang Batak Toba) maupun akibat campur tangan penguasa (Belanda dan Indonesia).

Hukum adat yang berlaku di masyarakat Batak Toba antara lain hukum adat perkawinan, yakni yang berkaitan dengan ketentuan perkawinan, pertunangan, maskawin, hingga perceraian. Hukum adat warisan, hukum pemilikan tanah, hukum adat utang-piutang, hukum pelanggaran, dan hukum dalam menyelesaikan perselisihan di masyarakat.

Batak Toba Sebagai Simbol Kebudayaan Batak

Jika melihat isi yang cukup rinci dengan cakupan yang luas, buku ini dapat dikategarikan sebagai buku dokumentasi yang sangat baik. Selain berisi deskripsi, Vergouwen juga melengkapinya dengan analisis. Meskipun demikian harus dipahami bahwa jika melihat penulisnya yang merupakan utusan Belanda, informasi dalam buku ini sangat mungkin dicurigai banyak bias kolonial. Oleh karena itu, para pembaca hendaknya kritis dalam membaca buku ini.

Terlepas dari bias kolonial tersebut, buku ini menyiratkan sebuah pesan bahwa Batak Toba merupakan simbol yang vital bagi kebudayaan Batak secara keseluruhan. Hingga kini kebudayaan Batak Toba masih cukup terjaga meskipun terseok-seok di tengah gempuran budaya modern. Misalnya sudah banyak pemuda-pemuda Batak Toba yang tidak memahami falsafah Dalihan Na Tolu. Masyarakat Batak Toba yang banyak mendiami daerah sekitar Danau Toba Pulau Samosir, diharapkan tetap setia dengan kebudayaan tradisional mereka. Sekali lagi penting untuk menjaga identitas kebudayaan daerah.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini kebudayaan daerah dalam kondisi memprihatinkan, baik di daerahnya sendiri maupun di tingkat nasional dan internasional. Kebudayaan Batak saat ini umumnya hanya dikenal lewat identitas marga. Padahal kebudayaan Batak sangat banyak dan tidak hanya Batak Toba. Melalui buku ini, semoga kebudayaan Batak semakin banyak dikenal, baik melalu adat istiadat, kesenian, sistem pengetahuan, sistem pertanian, atau yang lainnya. Batak Toba sebagai simbol kebudayaan Batak umumnya, semoga menjadi pintu gerbang untuk mengenal kebudayaan Batak lebih dalam dan luas.

Yusuf Efendi (res/27/09-10).

Read : 7.565 time(s).