Saturday, 1 November 2014   |   Saturday, 8 Muharam 1436 H
Online Visitors : 2.058
Today : 18.894
Yesterday : 21.335
Last week : 177.917
Last month : 802.699
You are visitor number 97.294.565
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



13 desember 2010 00:07

Identitas Suku di Perbatasan, Studi di Kecamatan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur

Identitas Suku di Perbatasan, Studi di Kecamatan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur

Judul Buku
:
Identitas Suku di Perbatasan, Studi di Kecamatan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur
Penulis
:
Lisyawati Nurcahyani, dkk
Penerbit:
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Pontianak
Cetakan:2008
Tebal
:
xiii + 47 halaman
Ukuran
:
14 x 15 cm
 

Buku di hadapan Anda ini adalah sebuah upaya sederhana Balai Sejarah dan Nilai Tradisional (jarahnitra), Pontianak untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat Indonesia yang ada di perbatasan, tepatnya di Pulau Sebatik. Pulau ini terletak di Kalimantan Timur, berbatasan dengan Tawau dan Sabah Malaysia. Keadaan masyarakat Sebatik yang kurang diperhatikan pemerintah, membuat keberadaan mereka dilematis, tetap menjadi warga Negara Indonesia atau Malaysia.

Buku ini penting untuk dibaca oleh siapa saja, mengingat masyarakat perbatasan tidak banyak dikenal oleh saudara di belahan pulau lain di Indonesia. Dalam beberapa berita di media juga diberitakan bahwa penduduk Sebatik mengalami diskriminasi pembangunan, akibatnya mereka lebih memilih ke Tawau, Malaysia sebagai ruang untuk menyikapi kebutuhan hidup daripada ke Nunukan, Kalimantan Timur, Indonesia. Dalam konteks ini, pejabat pemerintah sangat perlu untuk membaca buku ini, sebagai bahan untuk membuat kebijakan yang lebih baik bagi masyarakat Sebatik.

Dualisme Kehidupan Orang Sebatik

Pulau Sebatik adalah sebuah pulau yang berada di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur. Masyarakat di pulau ini dikenal unik karena memiliki dualisme kehidupan, Indonesia dan Malaysia. Bahkan, terdapat rumah-rumah penduduk yang berada tepat di atas garis perbatasan, sehingga jika dibelah, rumah tersebut akan terbagi dua, ruang tamu masuk wilayah Indonesia, sedangkan ruang dapurnya masuk Malaysia.

Orang Sebatik juga memiliki keistimewaan, yakni mereka dapat mengakses dua negara hanya dengan membayar sejumlah uang untuk mendapatkan paspor merah. Dengan paspor ini, mereka dapat bebas keluar masuk Malaysia. Ketika kebutuhan hidup orang Sebatik lebih banyak dapat ditemukan di Tawau, Malaysia daripada di Nunukan, Kaltim, tentu saja keberadaan paspor ini sangat menggembirakan.   

Dengan paspor tersebut, orang Sebatik dapat menjual segala hasil bumi Sebatik, dan sebaliknya mereka dapat membeli segala kebutuhan di pasar-pasar tradisional Tawau, Malaysia, seperti baju dan barang-barang elektronik. Proses jual beli tersebut, dilakukan dengan mata uang Malaysia, ringgit. Karena keseharian mereka seperti itu, di warung-warung Sebatik pun jual beli menggunakan ringgit, meskipun sebatik masuk wilayah Indonesia. Realitas ini tentu saja aneh dan penting untuk dikaji.  

Dalam dualisme kehidupan di atas, masyarakat Sebatik lebih senang berhubungan dengan Malaysia dikarenakan beberapa sebab, antara lain:

  1. Jarak ke Tawau Malaysia lebih dekat daripada ke Nunukan, Kalimantan Timur. Untuk menuju Nunukan dibutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam, belum ongkos untuk naik perahu ke sana.  Sementara itu, ke Tawau hanya perlu jalan kaki 15 menit. Jarak ke Tawau yang dekat melewati hutan ini pula yang banyak dimanfaatkan oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ingin bekerja di Malaysia. Tanpa melalui prosedur resmi mereka masuk ke Malaysia untuk bekerja di kebun-kebun kelapa sawit atau buruh bangunan secara illegal. Tidak heran jika terdapat berita di televisi banyak TKI ditangkap dan dipulangkan melalui Nunukan.    
  2. Menurut orang Sebatik, di Tawau barang dagangan mereka dihargai lebih mahal daripada di Indonesia, karena nilai ringgit lebih tinggi daripada rupiah. Hal ini tentu saja lebih menguntungkan mereka, karena jika uang tersebut dirupiahkan lalu dikirim ke saudara mereka di Indonesia, tentu akan lebih banyak. Meskipun demikian, di Sebatik beredar mata uang rupiah dan ringgit (h. 34-40).
  3. Dalam bidang pendidikan, orang Sebatik juga lebih suka menyekolahkan anaknya ke Malaysia daripada ke Indonesia, karena biayanya lebih murah. Selain itu, untuk anak sekolah dasar mendapatkan seragam sekolah gratis. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan penduduk Sebatik yang kehidupan ekonomi rendah, khususnya para nelayan.
  4. Dalam hal kesehatan, orang Sebatik juga lebih suka berobat ke klinik-klinik yang ada di perbatasan milik Malaysia daripada ke puskesmas Indonesia. Menurut mereka, klinik kesehatan Malaysia lebih lengkap alatnya, lebih bersih, dan dokternya selalu ada. Berkebalikan dengan puskemas di Indonesia yang selalu sepi dan obatnya itu-itu saja.
  5. Dalam realitas nyata orang Sebatik suka membandingkan kemajuan Indonesia dan Malaysia, misalnya jika malam hari, kota Tawau bermandikan cahaya listrik, berkebalikan dengan di pulau Sebatik yang  hanya dipasok aliran listrik dua hari sekali. Realitas ini dipahami mereka sebagai ketidakpedulian pemerintah Indonesia terhadap mereka, karena itu mereka lebih memilih ke Tawau yang lebih maju.
  6. Orang Sebatik juga banyak mendapat kemudahan dari Tawau, misalnya air bersih dan prasarana jalan yang baik. Hal ini tentu saja memudahkan mobilitas mereka dalam beraktivitas, karena itu wajar jika mereka lebih memilih Malaysia untuk berdagang atau yang lainnya.

Beragam kemudahan yang didapatkan orang Sebatik di atas secara tidak langsung justru menohok kita semua untuk menanyakan pada diri sendiri, apa yang harus kita berikan kepada mereka supaya kebudayaan Sebatik tetap bertahan. Dan itu tugas kita bersama.  

Yusuf Efendi (res/42/12/10).

Read : 2.197 time(s).