Friday, 19 December 2014   |   Friday, 26 Shafar 1436 H
Online Visitors : 1.375
Today : 11.645
Yesterday : 17.356
Last week : 186.674
Last month : 631.927
You are visitor number 97.470.114
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



28 maret 2011 00:07

Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa Indonesia

Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Judul Buku
:
Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Penulis
:
Dirgo Sabariyanto
Penyunting:Sumadi
Penerbit:
Mitra gama Widya, Yogyakarta
Cetakan
:
November, 1997
Tebal:
vii + 130 halaman
Ukuran:14 x 23,3 cm
         

Seorang pemilik bahasa belum tentu memahami secara benar aturan dalam berbahasa, misalnya gramatikal, struktur, pengucapan, kebakuan, atau ketidakbakuan. Akibatnya, banyak kesalahan penulisan maupun pengucapan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, banyak kata baku dan tidak baku yang saling tumpang-tindih. Mencermati masalah ini, Dirgo Sabariyanto, seorang peneliti bahasa di Balai Penelitian Bahasa, Yogyakarta, merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat pengguna bahasa Indonesia.  

Buku ini adalah buah perenungan penulis terhadap begitu banyaknya pengguna bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan, yang tidak memahami bahasa Indonesia yang digunakan baku atau tidak. Penulis sendiri sebenarnya menyadari, bahwa tidak setiap penutur bahasa Indonesia mempunyai kesempatan yang cukup untuk mempelajari bahasa Indonesia. Namun, bukan berarti alasan itu mengenyampingkan bahasa yang digunakan.

Secara umum, buku ini membahas tentang penalaran kebakuan dan ketidakbakuan kalimat bahasa Indonesia. Meskipun dibahas secara singkat, namun buku ini mampu menghadirkan sebuah pencerahan baru terhadap penggunaan kalimat bahasa Indonesia. Bagi Anda peminat kajian bahasa, baik mahasiswa, dosen, atau guru, penting kiranya membaca buku ini untuk menambah wawasan tentang bahasa Indonesia.  Bagaimanapun, orang Indonesia belum tentu mengetahui apakah bahasa yang digunakan baku atau tidak. Dari sisi ini, buku ini penting untuk dibaca semua orang.

Buku ini cukup representatif untuk mempelajari kalimat baku dan tidak baku dalam bahasa Indonesia, karena membahas hal-hal penting. Pada bab II, Anda akan disuguhi pembahasan tentang beberapa contoh kalimat bahasa Indonesia baku dan tidak baku yang sering muncul dalam percakapan sosial maupun tulisan di surat kabar atau majalah (h. 4-73). Hal-hal ini masih sering terjadi di pemberitaan surat kabar dan karya tulis ilmiah.

Bab III membahas tentang sebab-sebab ketidakbakuan kalimat bahasa Indonesia (h. 74-94). Banyak faktor yang menyebabkannya, antara lain karena pelesapan imbuhan, pemborosan penggunaan kata, ketidaktepatan pemilihan kata, penggunaan konjungsi ganda, kerancuan bentuk, kesalahan ejaan, pelesapan salah satu fungsi kalimat, dan kesalahan struktur kalimat. Hal-hal ini juga masih sering terjadi di pemberitaan surat kabar dan karya tulis ilmiah.

Pada bagian Lampiran (h. 106-130), Anda akan disuguhi berbagai contoh kalimat baku dan tidak baku. Dari contoh-contoh ini, Anda akan dapat membandingkan dan mungkin mempraktekkan langsung kalimat-kalimat tersebut. Contoh-contoh ini semakin membuat buku ini perlu dan enak dibaca.

Kesalahan pada Konjungsi

Salah satu kalimat yang sering salah ditulis adalah jika memakai konjungsi atau kata penghubung akan tetapi atau tetapi.  Kedua kata hubung ini sering disalahpahami karena pemakai tidak memahami bahwa keduanya tidak serta merta sebagai kata penghubung, melainkan harus disesuaikan dengan anak dan induk kalimatnya.    

Seperti contoh di bawah ini:

  • Akan tetapi, karena kalah senjatanya, perjuangan orang Jawa tidak berhasil (baku)
  • Tetapi karena kalah senjatanya perjuangan orang-orang Jawa tidak berhasil (tidak baku)

Pemakaian akan tetapi pada kalimat pertama sudah benar, karena induk kalimat dan anak kalimat sudah dipisahkan dengan koma. Sebaliknya, bentuk tetapi pada kalimat kedua tidak lazim, karena berada di awal kalimat. Konjungsi tetapi yang lazim adalah pada kalimat ia kaya raya, tetapi sangat kikir. Selain itu, antara induk dan naka kalimat tidak dipisahkan dengan koma.   

Contoh lainnya:

  • Akan tetapi, ia tetap tidak datang (baku)
  • Akan tetapi ia tetap tidak datang (tidak baku)

Kalimat pertama sudah benar, karena kata penghbung akan tetapi diberi tanda koma, sedangkan kalimat kedua salah, karena tidak diberi tanda koma.

Selain pada konjungsi akan tetapi dan tetapi, kita juga sering salah dengan konjungsi apabila dan maka. Kedua konjungsi ini sering salah karena dianggap berpasangan, padahal jika keduanya digunakan, itu justru salah. Simaklah contoh berikut:

  • Apabila bunyi itu tidak bermakna, bunyi itu bukan bunyi bahasa (baku)
  • Apabila bunyi itu tidak bermakna, maka bunyi itu bukan bunyi bahasa (tidak baku)

Kalimat pertama tepat karena antara anak dan induk kalimat diberi tanda koma, di samping itu kata hubungnya hanya satu, yaitu apabila. Sebaliknya, kalimat kedua dianggap salah, karena kata hubungnya dua, yaitu apabila dan maka. 

Contoh lainnya:

  • Apabila kita mengetahui akan arti bahasa, kita sangat beruntung (baku)
  • Apabila kita mengetahui arti bahasa, maka kita sangat beruntung sekali (tidak baku)

Kalimat pertama benar karena antara induk dan anak kalimat dipisahkan dengan koma, dan hanya ada satu penghubung, yaitu apabila. Sebaliknya, kalimat kedua salah karena antara induk dan anak kalimat tidak dipisahkan dengan koma dan ada dua kata penghubung, yaitu apabila dan maka.

Dengan memaparkan dua contoh penghubung ini akan semakin menyadarkan kita bahwa ternyata masih banyak kesalahan bahasa yang sering kita gunakan karena kata penghubung selalu ada dalam percakapan dan tulisan kita. Dari sisi ini, buku ini semakin layak untuk dibaca.   

(Yusuf Efendi/Res/66/03-2011)

Read : 3.732 time(s).