Saturday, 25 April 2026   |   Saturday, 8 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 327
Today : 10.235
Yesterday : 18.047
Last week : 7.342.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



11 juni 2011 07:07

Pertasikencana dan Pelestarian Lingkungan Hidup

Pertasikencana dan Pelestarian Lingkungan Hidup
Judul Buku
:
Pertasikencana dan Pelestarian Lingkungan Hidup
Penulis
:

Rahmat Ruhyana.

Penerbit:
Mitra Gama Widya, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 1996
Tebal:
viii + 107 halaman
Ukuran:14,3 x 20,1 cm
            

Pentingnya kesehatan lingkungan seharusnya memang diajarkan sejak dini. Hal ini vital untuk membiasakan kepada anak agar peduli terhadap lngkungan. Dengan begitu, sejak dari keluarga, lingkungan yang lebih luas menjadi bagian yang harus dipersiapkan. Namun, para pendidik atau orangtua terkadang bingung bagaimana mengajarkan kesehatan lingkungan kepada anak. Dalam buku kecil ini, seorang guru bernama Rahmat Ruhyana menuangkan gagasan kreatifnya bagaimana cara mengajarkan pentingnya kesehatan lingkungan dengan menyenangkan di sekolah dan keluarga.

Dimulai dengan mengajak murid-murid mengenal air, sang guru mengajak berfikir dan mencari solusi masalah polusi udara dan air, menangani sampah, menyelesaikan kemacetan, sampai persoalan ledakan penduduk. Tema-tema tersebut sepertinya berat bagi anak sekolah dasar, namun melalui cerita, sang guru menjadikan tema ini menjadi hal menyenangkan dan tidak terkesan menggurui. Oleh karena itu, bagi Anda para guru, khususnya yang mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), kiranya penting untuk membaca buku ini. Setelah itu, Anda dapat mempraktekkan cara Rahmat Ruhyana ini di sekolah maupun di keluarga.

Buku ini pernah memenangkan sayembara penulisan naskah buku bacaan tingkat nasonal tahun 1994 sebagai juara harapan I yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Buku Rahmat Ruhyana lainnya, yang berjudul “Sangaji Menengok Desa Bunga”, juga menjadi juara harapan II dalam event yang sama. Dengan demikian, kualitas sang penulis tidak perlu diragukan.

Dalam buku ini, Anda dapat menemukan dasar-dasar kesehatan lingkungan yang penting untuk diketahui, seperti sebab-sebab pencemaran air (h.1), cara memperoleh air bersih (h.17), sumber masalah kemacetan dan transportasi (h.23), urbanisasi (h.47), atau sumber tenaga matahari (h. 89). Dengan gaya bercerita namun tetap tidak meninggalkan konsep pembelajaran, murid sekolah dasar akan mudah mencerna tema-tema ini dan tidak bosan mendengarkannya. Apalagi dalam beberapa tema, para murid langsung dilibatkan.

Tema kesehatan lingkungan saat ini masih faktual untuk dikaji. Hal ini mengingat masalah pemanasan global yang menjadi perhatian dunia. Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki hutan paru-paru dunia, dituntut untuk menjaga alam agar efek pemanasan global dapat teratasi. Dalam konteks ini, buku ini semakin penting dan menarik untuk dibaca. 

Pertasikencana

Satu tema yang menarik dalam buku ini adalah pembahasan tentang “pertasikencana” (h.53). “Pertasikencana” adalah singkatan dari “pertanian, koperasi, dan keluarga berencana”, yakni program yang digalakkan oleh pemerintah RI pada zaman Orde Baru untuk mengentaskan kemiskinan dan kesehatan lingkungan di perdesaan.

Kala itu, pemerintah membuat desa-desa percontohan di seluruh Indonesia untuk menjalankan program “pertasikencana” ini. Di desa-desa tersebut, pemerintah mengadakan pelatihan dan penyuluhan mengenai pertanian rakyat, pendirian koperasi desa, pemberian pinjaman usaha, dan pemberdayaan keluarga berencana. Warga desa diajarkan sistem pertanian yang baik, beternak ayam (h.97), berkebun lidah buaya (h.77), dan catur warga (berkeluarga berencana dengan dua anak cukup).   

Program “pertasikencana” pernah mashur pada dekade 1990-an. Bukan hanya penting untuk menata keluarga kecil agar sejahtera, namun juga untuk menyiasati ledakan penduduk dan mencegah migrasi generasi muda dari desa menuju kota yang marak saat itu. Urbanisasi yang masif itu membuat permukiman kota menjadi padat dan, sebaliknya, desa menjadi kosong. Dalam konteks ini, program “pertasikencana” sangat tepat dan sepertinya itu masih sangat relevan untuk dijalankan pada era sekarang.

Menuju Negara yang Sehat

Salah satu pesan penting dalam buku ini adalah bagaimana menuju negara yang sehat. Salah satu ciri negara yang sehat adalah jika negara sudah mampu menyediakan transportasi publik yang memadai. Jumlah kereta api atau bus kota seharusnya lebih banyak daripada kendaraan pribadi. Namun, di negeri ini realitasnya terbalik. Kendaraan pribadi lebih banyak daripada kereta, kapal laut, atau bus. Akibatnya, jalanan menjadi macet. Polusi udara dan polusi suara pun menjadi dampak negatif yang serius.

Rahmat Ruhyana mengilustrasikan persoalan di atas dengan teori piramida transportasi. Ia menggambarkan, yang wujudnya kecil (motor) jumlahnya banyak. Sebaliknya, yang besar (kereta/bus) jumlahnya sedikit. Jika digambarkan dalam piramida, maka motor ada di bagian bawah, sedangkan kereta/bus ada di bagian atas.

Kemacetan dan kesehatan lingkungan dapat diselesaikan dengan membalik piramida tersebut. Jumlah kereta/bus seharusnya lebih banyak daripada motor atau kendaraan pribadi. Realitas ini sebenarnya mudah untuk dilakukan asalkan pemerintah mau menertibkan dan membatasi kepemilikan kendaraan pribadi. Dalam buku ini, tema ini dibicarakan dengan menyenangkan dan Anda akan lebih mudah mencernanya.

(Yusuf Efendi/Res/71/06-2011)

Read : 10.101 time(s).