16 sepember 2011 00:07
Toraja in Carving
Judul Buku
| : | Toraja in Carving |
Penulis
| : | J.S. Sande |
| Editor | : | J.S. Sande |
| Penerbit | :
| Balai Penelitian Bahasa, Ujung Pandang |
Cetakan
| :
| 1989 |
Tebal
| :
| i + 72 halaman |
Ukuran
| :
| 16 x 21 cm
|
Kebudayaan Toraja di Sulawesi Selatan merupakan salah satu budaya Indonesia yang hingga kini masih kuat bertahan di tengah derasnya pengaruh modernisasi. Orang Toraja berusaha mempertahankan tradisi leluhur mereka dengan segala daya upaya. Berbagai upacara adat, kesenian, hingga ragam hias ukiran, masih terdapat di pintu, batu nisan, hingga alat-alat rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa ajaran leluhur benar-benar menjadi panduan hidup orang Toraja, bersandingan dengan ajaran agama.
Buku di hadapan Anda ini adalah salah satu bukti kekayaan seni Toraja. Meskipun sederhana dan ensiklopedis, buku karangan J.S. Sande ini memberikan informasi yang penting tentang ragam hias seni ukir Toraja yang terkenal hingga mancanegara. Tidak sedikit dari wisatawan dari dalam maupun luar negeri yang kagum dengan seni ukir Toraja. Bagi Anda pecinta seni dan kolektor ukiran-ukiran motif tradisional, perlu membaca buku ini.
Buku ini dengan 72 halaman dan tidak memiliki daftar isi ini diawali dengan kata pengantar singkat penulis. Pada halaman berikutnya, langsung dibahas beragam seni ukir Toraja yang berjumlah 67 motif. Dalam kehidupan orang Toraja, ukiran ini dicetak menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu. Motif ukiran Toraja bermacam-macam, antara lain cerita rakyat, benda di langit, binatang yang disakralkan, peralatan rumah tangga, atau tumbuh-tumbuhan.
Ukiran Toraja terinspirasi dari beragam hal, seperti cerita rakyat, benda di langit, kerbau yang disakralkan, babi, peralatan rumah tangga, tumbuhan, dan lain-lain. Hal-hal itu oleh orang Toraja disakralkan dengan ritual tertentu, misalnya upacara adat. Buku ini menyimpan pesan penting bahwa kesenian Toraja merupakan salah satu bukti kebesaran orang Toraja khususnya, dan bangsa Melayu serumpun pada umumnya. Realitas ini tentu saja membanggakan sekaligus tantangan bagi kita untuk selalu melestarikannya.
(Yusuf Efendi/Res/80/09-2011)
Read : 4.164 time(s).