Tuesday, 28 April 2026   |   Tuesday, 11 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 0
Today : 4.519
Yesterday : 25.766
Last week : 7.342.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



14 april 2015 07:07

Antara Pendatang dan Penduduk Asli: Sebuah Hubungan Sosial Budaya

Judul Buku
:

Strategi Migran Banjar
Penulis
:
Taufik Arbain
Penerbit:
LkiS
Cetakan
:
2009
Tebal
:

xxiv+266 halaman

Ukuran
:
21×14,4 cm 

Berawal dari penelitian tesisnya, Taufik Arbain terilhami oleh fenomena konflik etnis yang terjadi di Kalimantan Tengah 2011 silam. Cukup menarik, Taufik Arbain ini tidak hanya mengupas konflik yang telah terjadi tersebut melainkan juga membahas secara mendalam fenomena etnomigrasi yang terjadi di Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah, terutama membahas migran etnik Banjar di kota tersebut.

Boleh dikata bahwa tulisan penelitiannya ini bersifat antropologis karena selain Taufik Arbain menggunakan metode survei juga menggunakan teknik kualitatif, yaitu menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam, menggali informasi dan mendalami objek yang diteliti secara intensif. Taufik secara apik menggunakan penelitian kuantitatif  dan kualitatif.

Tulisan ini telah menjelaskan strategi adaptasi yang dilakukan oleh penduduk pendatang dalam menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi di perantauannya yang diakibatkan perubahan sosial, konflik etnis Dayak dan Madura. Konflik etnis tersebut didasari atas pertentangan antara  Dayak sebagai penduduk asli dan Madura sebagai pendatang. Pasca konflik etnis tersebut, dijelaskan bahwa para pendatang yang berasal dari etnis lain pun terkena dampaknya dan kemudian mereka melakukan berbagai langkah strategis untuk merekonstruksi penyesuaian-penyesuaian terhadap lingkungan sekitar (social adaptation). Terlebih lagi bagi etnis Banjar yang mayoritas bermatapencaharian sebagai pedagang yang perlu berkomunikasi sosial dengan masyarakat lain untuk mendukung usahanya itu.

 Usaha-usaha untuk merekonstruksi penyesuaian tersebut bertujuan untuk mengurangi prasangka sosial atas kemungkinan munculnya benih-benih konflik lagi. Sebagai contoh, para pedagang Banjar memiliki cara-cara dalam menawarkan harga barang dagangannya kepada pembeli dari etnis Dayak yang bertujuan dapat menarik simpati mereka.

Strategi adaptasi yang dilakukan oleh etnis Banjar ini merupakan kesadaran penguatan intensitas dan frekuensi interaksi sosial dengan penduduk asli dalam kehidupan sehari-hari dan mendorong pengurangan munculnya prasangka-prasangka sosial. Namun, selama strategi adaptasi yang dikembangkan migran Banjar ini dalam kenyataannya mendapat gangguan dari tindakan-tindakan kriminal yang diklaim dilakukan oleh etnis Banjar. Konsekuensinya, etnis Banjar pun menanggung cap yang mengesankan perilakunya sedikit kurang lebih seperti etnis Madura. Hal tersebut merupakan suatu dinamika kehidupan yang dihadapi oleh migran Banjar.

Sebagaimana para migran yang membentuk asosiasi komunitas daerah atau etnisnya di perantauan, para migran Banjar pun memilikinya yaitu Yayasan Naga Banjar. Awalnya organisasi tersebut sebagai wadah bernaungnya orang Banjar dari permasalahan yang muncul pasca konflik. Sejalan dengan waktu, Yayasan Naga Banjar ini berperan sebagai jembatan hubungan antar etnis dan kemudian berkembang sebagai kepentingan politik. Lebih jauh lagi, bahkan religiusitas Islam yang ditampakkan oleh etnis Banjar di Palangkaraya ini pun menimbulkan kecurigaan-kecurigaan.

Dari kasus tersebut, Taufik Arbain menyimpulkan bahwa kemandirian budaya dalam mempertahankan identitas etnis di perantauan yang berbeda dengan kegiatan religiusitas yang lazim dilakukan oleh penduduk tuan rumah/asli akan melahirkan “anggapan-anggapan lain”.

Studi yang dilakukan oleh Taufik Arbain mengenai eksistensi kelompok etnis migran Banjar di perantauan ini dapat memberikan pengetahuan kita untuk memahami perkembangan dan perubahan masyarakat berkaitan dengan fenomena eksistensi kelompok migran dan hubungannya dengan penduduk asli. Studi ini pun dapat dijadikan referensi bagi pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan-kebijakan terkait ruang publik dimana terjadi hubungan antaretnis, misalnya dalam rekruitmen pegawai supaya tidak bias etnis dan hak kemandirian budaya masing-masing etnis migran. (Adwi N Riyansyah/Res/04/04-15).

Read : 2.737 time(s).