Home »
Book Review » Kesultanan Sambas, Antara Bayang-bayang Kerajaan Majapahit dan Melayu
15 sepember 2015 07:07
Kesultanan Sambas, Antara Bayang-bayang Kerajaan Majapahit dan Melayu
Judul Buku
| : | Sejarah Kesultanan Sambas Kalbar (Kajian Naskah Asal Raja-raja dan Salsilah Raja Sambas) |
Penulis
| : | Pabali H Musa |
| Penerbit | :
| STAIN Pontianak Press dan Yayasan Adikarta IKAPI & The Ford Foundation |
Cetakan
| :
| Pertama, 2003 |
Tebal
| :
| vii + 213 Halaman |
Ukuran
| :
| 15 cm x 21 cm. |
Kesultanan Sambas merupakan kerajaan Islam kelanjutan dari kerajaan Hindu Ratu Sepudak di Kota Lama, Sekura, Kalimantan Barat. Menghadirkan sejarah kesultanan Sambas dengan berpijak pada naskah-naskah baik karya Sultan Sambas, Muhammad Shafiyuddin II, sendiri maupun karya lain merupakan upaya cerdas membaca otentisitas kesultanan ini. Buku ini terbagi dalam empat bab, bermula dengan pembahasan tentang Melayu dalam perspektif sejerah dan karya sastra. Kedua, membahas tentang naskah asal usul raja-raja Sambas, bab ketiga tentang naskah silsilah kerajaan Sambas, dan ditutup dengan ulasan dan analisis terhadap kandungan naskah.
Melayu menjadi topik pembuka dalam buku ini. Hal ini seolah ingin memberitahukan bahwa sejarah yang kita hadapi ini adalah sejarah perjalanan salah satu kesultanan Melayu, dan karenanya, pembaca harus mengenal betul sosok Melayu yang dimaksud. Melayu yang dikupas dalam pembahasan ini bertumpu pada definisi Leonard Andaya, bahwa melayu adalah orang yang berbahasa dan berbudaya Melayu serta beragama Islam (h. 8).
Salah satu kepemilikan bangsa Melayu yang terpenting dan bernilai tinggi yang mampu memberikan kedudukan berharga di tengah peradaban dunia adalah sastra. Inilah barangkali alasan Pabali menyandingkan sejarah Melayu dan karya-karya sastra Melayu dalam buku ini bak dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Sejarah Kesultanan Sambas hidup senafas dengan karya-karya sastra Melayu terurai lengkap dalam bagian akhir bab ini.
Pemaparan naskah-naskah tentang Kesultanan Sambas menempati bab kedua dan ketiga. Sejarah awal mula berdirinya Kesultanan Sambas dan silsilah keturunan sultan lengkap tertera dalam bagian ini melalui transliterasi naskah serta kandungannya. Kalau naskah tentang asal raja-raja Sambas tidak jelas identitas penulisnya sekalipun diduga naskah tersebut berasal dari Sambas juga, tetapi naskah salsilah yang berisi silsilah keturunan Sultan Sambas ini ditulis sendiri oleh Sultan Muhammad Shafiyuddin II. Semua naskah-naskah ini penulisan aslinya menggunakan huruf Jawi (Arab Melayu).
Analisis yang dilakukan dalam bab keempat terhadap kedua naskah terebut dengan jalan membandingkan dan mengidentifikasi kelebihan masing-masing, memunculkan hasil kajian berupa problem-problem krusial yang dihadapi Kesultanan Sambas pada saat itu. Ada tiga pokok permasalahan yang mencuat dari kajian naskah-naskah ini berkaitan dengan keberadaan Kesultanan Sambas. Pertama, tentang legitimasi politik kesultanan yang di satu sisi masih di bawah bayang-bayang kekuasaan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa, sedang di sisi lain sebagai kerajaan Islam mandiri dan berhubungan dengan Kesultanan Brunei yang kemudian mencantumkan silsilahnya terhubung dengan Nabi Muhammad saw. Kedua, soal transisi kekuasaan di Sambas dari Hindu ke Islam yang beraroma persaingan politik melaui perkawinan silang Hindu Islam yang berakibat sangat panjang. Dan ketiga, masalah jaringan soaial politik Kesultanan Sambas dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya (h.136 - 150).
Buku ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, utamanya pemerhati kerajaan nusantara, untuk menambah pengetahuan sekaligus menjadi rujukan bagi pengembangan penelitian tentang kerajaan dan kesultanan di nusantara. Apalagi penulis buku ini juga menyertakan salinan naskah-naskah asli yang berhuruf Arab Melayu. (OS Koto/Res/59/09-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Read : 1.143 time(s).