19 oktober 2015 07:07
Sejarah Kesultanan Inderagiri
Judul Buku
| : | Sejarah Kesultanan Inderagiri |
Editor
| : | Ahmad Yusuf, dkk. |
| Penerbit | :
| Pemerintah Daerah Propinsi Riau |
Cetakan
| :
| Pertama, 1994 |
Tebal
| :
| x + 234 Halaman |
Ukuran
| :
| 16 cm x 201 cm. |
Riau merupakan sebuah wilayah Melayu di Indonesia yang banyak memiliki kekayaan peninggalan bersejarah. Satu peninggalan yang tidak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia adalah bahasa Melayu. Sejarah mencatat dengan baik bahwa Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang kemudian berkembang seperti saat ini. Inilah salah satu contoh sumbangsih Riau terhadap bangsa Indonesia.
Di bumi Melayu ini juga pernah berdiri beberapa kerajaan baik kerajaan besar maupun kecil. Ada kerajaan Lingga, kerajaan Siak, kerajaan Inderagiri dan sebagainya. Pada umumnya sejarah kerajaan Melayu yang pernah ada di Riau tidak mendapatkan ruang kajian yang memadai, sehingga sumber-sumber yang bisa dijadikan rujukan sangat sedikit. Kerajaan Inderagiri juga mengalami nasib yang sama.
Buku ini disusun untuk melengkapi atau menyempurnakan pengetahuan mengenai sejarah Riau yang telah dilakukan sebelumnya. Menjelaskan secara lengkap kerajaan Inderagiri yang pernah berdiri di Provinsi Riau. Masa kerajaan ini memiliki rentang yang sangat panjang, yaitu lebih dari empat abad, sejak akhir masa kerajaan Sriwijaya, masuk dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit, Kesultanan Melaka, kerajaan Johor-Riau, hingga berakhir pada dukungan Kesultanan Inderagiri bagi Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.
Cikal bakal kesultanan Inderagiri berawal dari daerah yang bernama Keritang. Kerajaan Keritang berdiri di akhir masa kejayaan Sriwijaya dan kemudian beralih dalam kekuasaan Majapahit. Di dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, nama Keritang telah disebutkan dan bukan nama Inderagiri. Karena Keritang terdapat di Inderagiri, maka dapat disimpulkan bahwa raja Kecik Mambang yang di sebut sebagai raja Inderagiri pertama (1298-1337) merupakan raja yang memerintah di Keritang.
Berubahnya Kerajaan Keritang menjadi Kesultanan Inderagiri terjadi ketika berada dalam kekuasaan kerajaan Melaka. Tahun 1503 menjadi momentum bersejarah, karena keturunan buah perkawinan dari dua kerajaan ini dilantik menjadi Sultan Inderagiri dengan gelar Maulana Sri Sultan Alaudin Iskandar Syah Johan. Sejak saat itulah para penguasa Inderagiri bergelar sultan hingga sultan Inderagiri yang terakhir, Sultan Mahmudsyah.
Dalam buku ini juga dipaparkan kondisi kesultanan Inderagiri selama masa pemerintahan Hindia-Belanda, pada masa pendudukan jepang, dan sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagian terakhir menjelaskan mengenai keadaan masyarakat, sosial budaya, dan ekonomi di Inderagiri.
Di tengah minimnya sumber tertulis tentang sejarah Kesultanan Inderagiri, buku ini sangat bermanfaat sebagai referensi bagi para peneliti, akademisi maupun mahasiswa yang ingin mengkaji lebih lanjut mengenai sejarah kesultanan Inderagiri. Di samping juga sangat bermanfaat bagi pengetahuan sejarah generasi yang akan datang supaya mengenal sejarah Indonesia secara utuh. (OS Koto/Res/70/10-2015)
Editor: Abu Tayyima
Read : 1.114 time(s).