26 desember 2015 07:07
Pasemah, Potret Pejuang Indonesia Melawan Penjajah
Judul Buku
| : | Sumatera Selatan Melawan Penjajah abad 19 |
Editor
| : | Belifante Bersaudara |
| Penerbit | :
| Masyarakat Peduli Musi |
Cetakan
| :
| Pertama, 2000 |
Tebal
| :
| xx + 145 Halaman |
Ukuran
| : | 15 cm x 21 cm. |
Pasemah adalah sebuah momok yang menggetarkan nyali tentara penjajah Belanda sekaligus menggemaskan. Betapa tidak, salah satu daerah di wilayah Indonesia yang terletak di kawasan Sumatra Selatan, kini masuk Kabupaten Lahat, yang dihuni oleh suku yang juga bernama Pasemah ini berani menyatakan keluar dari kekuasaan Kesultanan Palembang karena enggan dikuasai oleh Belanda dan menentangnya hingga tetes darah terakhir. Tidak mudah bagi Belanda menaklukkan Pasemah. Puluhan tahun operasi perang dijalankan untuk menundukkan rakyat Pasemah, tahun 1821 - 1867.
Buku ini merupakan rekaman jejak operasi militer Belanda di daerah Pasemah itu dan kesaksian tentang karakter hebat suku Pasemah. Terjemahan dari buku yang di tulis oleh tentara Belanda yang berjudul Een word over de Pasoemah-Expeditie in 1866 dan buku yang berjudul De Inlijving van het Landschap Pasoemah 1865 karya J.S.G. Gramberg yang merupakan pejabat pemerintahan kolonial Belanda.
Gramberg memberikan kesaksian ketika Belanda ingin menduduki Pasemah, bahwa mereka mendapat tentangan yang luar biasa dari masyarakat Pasemah. “Orang Pasemah bukanlah bangsa pengecut,” ujarnya menggambarkan keteguhan mereka untuk mempertahankan kebebasan dan kemerdekaan. Di saat yang genting, mereka akan melupakan konflik sesama, meluruhkan kepentingan pribadi dan kelompok, dan kemudian bersatu untuk menghadapi orang asing yang hendak menguasasi mereka.
Karakter Pasemah merupakan gambaran umum bangsa Indonesia. Negara Indonesia hingga kini sangat disegani oleh bangsa lain karena sejarah perjuangannya menghadapi agresi militer pihak asing. Dalam tubuh bangsa Indonesia telah mengalir darah perjuangan demi perlawanan pada penjajahan. Bahkan, sekalipun hanya bermodal senjata tradisional semacam parang dan bambu runcing.
Selain menggambarkan karakter dan kepribadian orang Pasemah, buku ini juga memperlihatkan bagaimana karakter penjajah yang selalu merasa lebih benar, lebih baik, berkedudukan lebih tinggi, dan merasa lebih manusiawi sehingga mereka merasa memiliki kewajiban menganeksasi suatu wilayah sebagai alasan pembenar perilaku angkuh penjajahan. Bagi mereka, penaklukan Pasemah bukan saja menyangkut kepentingan politik dan ekonomi melainkan juga suatu panggilan kemanusiaan (h. 143).
Buku ini juga dapat dikatakan sebagai buku sejarah Pasemah, selain membahas mengenai pertempuran melawan Belanda, di dalam buku ini juga dijelaskan siapa itu orang Pasemah, pandangan mengenai negeri Pasemah, asal muasal dan sejarah rakyat Pasemah, bentuk pemerintahan, sifat, dan tabiat penduduknya.
Untuk melengkapi pengetahuan tentang perjuangan rakyat Pasemah, perlu dibaca juga sebuah buku yang terbit lebih awal berjudul Pasemah Sindang Merdika (1821-1866) disusun oleh Kamil Mahruf, Nanang S. Soetadji, dan Djohan Hanafiah yang diterbitkan oleh masyarakat peduli Musi (Jakarta 1999). Jika Anda ingin mengenal mental dan karakter patriot pejuang bangsa Indonesia menghadapi penjajah di tempo doeloe, Anda harus membaca buku-buku ini. (Oki Koto/Res/79/11-2015)
Editor: Agus Najib Afwan
Read : 1.097 time(s).