Monday, 8 June 2026   |   Monday, 22 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today : 2.610
Yesterday : 24.704
Last week : 227.151
Last month : 9.252.016
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



17 maret 2016 07:07

Suku Asli di Riau dan Masa Depannya



Judul Buku
:
Nasib Suku Asli di Riau
Penulis
:
Prof. Dr. H. Tabrani Rab
Penerbit:
Riau Cultural Institute
Cetakan
:
Pertama, 2002
Tebal
:
v + 120 Halaman
Ukuran
:10,5 cm x  16 cm.

Buku ini berisi mengenai kehidupan suku asli di Riau dan Kepulauan Riau. Suku asli tersebut sejatinya merupakan penduduk asli Riau dan Kepulauan Riau yang menghuni kawasan itu sejak lama. Akan tetapi dengan pesatnya perkembangan zaman, kini suku-suku tersebut telah kehilangan hak-hak mereka baik dari segi politik, ekonomi, social, serta seni dan budayanya. Suku-suku asli tersebut juga lebih memilih hidup sesuai dengan adatnya dari pada mengikuti arus modernisasi yang mereka anggap dapat mengubah tatanan maupun hukum-hukum adat yang telah lama dijalankan turun temurun dari nenek moyang mereka.

Riau dan Kepulauan Riau yang dahulunya merupakan satu bagian merupakan daerah yang memiliki suku asli cukup banyak dan tersebar hampir di setiap kawasan. Mereka dipimpin oleh penguasa tanah dan sumber daya hutan di daerahnya, yang menjadi pemuka masyarakat atau tokoh informal yang biasa disebut ‘batin’. Karena adanya perbedaan-perbedaan secara detail di antara mereka, maka kemudian mereka terpisah-pisah dengan identitas yang berbeda-beda, ada “Talang Mamak”, “Orang Petalangan”, “Orang Sakai”, “Suku Akit”, “Suku Hutan”, “Orang Kula/Duano”, dan “Orang Laut”.

Sebagian dari suku asli ini ada yang sudah hidup menetap, tetapi rata-rata mereka mengalami kesulitan beradaptasi secara sosial dan budaya sehingga membuat mereka acap kali kembali kepada kehidupan mereka yang nomaden.

Kondisi mereka semakin terjepit. Di satu sisi hutan dan laut sebagai tempat mata pencaharian mereka sudan mengalami kerusakan dan banyak dikuasai pemodal besar. Di sisi lain, secara sosial budaya mereka mengalami gegar saat berbaur dengan masyarakat lain yang mengakibatkan kebingungan, ketidaknyamanan, dan kegundahan. Hal ini meinmbulkan dampak buruk bagi kehidupan mereka. Sementara pemerintah tidak kunjung memberi solusi yang berarti.

Buku kecil ini memberikan banyak informasi tentang suku-suku asli di Indonesia terutama di Riau dan Kepulauan Riau yang masih memerlukan perhatian khusus demi eksistensi mereka. Kearifan lokal yang sangat apresiatif terhadap keberlangsungan kehidupan di hutan dan laut yang ditunjukkan oleh mereka perlu dilestarikan sehingga keduanya terjahindar dari kerusakan dan kepunahan. Lebih dari itu, buku ini juga sangat berguna bagi sumber pengetahuan bagi segenap masyarakat atau perorangan yang ingin mengetahuai maupun meneliti lebih jauh mengenai suku-suku asli tersebut. (Oki Koto/Res/93/2-2016)

Read : 1.578 time(s).