Tuesday, 19 May 2026   |   Tuesday, 2 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 132
Today : 7.830
Yesterday : 19.896
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



26 agustus 2016 07:07

Masjid Sultan Suriansyah



Judul Buku
:
Masjid Sultan Suriansyah (Kembali ke Arsitektur Kuno)
Editor
:
Irhamna, dkk. (Eds.)
Penerbit:
Paitia Pemugaran dan Pengembangan Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah
Cetakan
:
Pertama, 2001
Tebal
:
vi + 120 Halaman
Ukuran
:15 cm x 20,5 cm.

Masjid Sultan Suriansyah yang terletak di Kelurahan Kunin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, diperkirakan telah berdiri sejak Islam mula-mula masuk ke Kalimantan Selatan, tepatnya tauhn 1526. Masjid yang memiliki nilai historis ini perlu untuk diketahui sejarah dan segala aspek yang ada di dalamnya.

Masjid Sultan Surianyah yang sempat kurang mendapatkan perhatian dan mulai lapuk termakan usia akhirnya dapat kembali berdiri megah sebagai simbol atau lambang kejayaan kerajaan Islam Banjar. Masjid yang sebelumnya sempat beberapa kali dipugar ini akhirnya dikembalikan ke bentuk arsitektur semula dengan mengacu kepada beberapa masjid-masjid tua yang ada di Kalimantan Selatan.

Pemugaran-pemugaran sebelumnya yang tidak berpedoman kepada bentuk aslinya, membuat kesulitan dalam menentukan bagaimana  bentuk bangunan semula, apalagi sedikit sekali catatan-catatan mengenai masjid tersebut. Akan tetapi kendala tersebut dapat terselesaikan dengan merujuk pada bentuk masjid-masjid tua yakni masjid Suada di Wasah Hilir dan masjid Pusaka Banua Lawas.

Selain tahapan pemugaran masjid Sultan Suriansyah, buku ini juga menjelaskan sejarah Sultan Suriansyah yang merupakan cucu dari Maharaja Sukamara penguasa kerajaan Negara Daha yang berkuasa antara tahun 1462-1517.

Sultan Suriansyah terlahir dengan nama Raden Samudera. Ibunya, putri Galuh, adalah satu-satunya putri keturunan Sukamara. Kedekatan kakek dan cucu ini melahirkan kegaduhan dalam kesultanan karena sang kakek membuat wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Raden Samudera.

Selepas Maharaja Sukamara wafat, sang putera, para paman Raden Samudera, berebut tahta. Pangeran Tumenggung menjadi raja, dan Raden Samudera terbuang. Di tempat pembuangan, oleh beberapa patih, Samudera lalu diangkat menjadi raja tandingan yang pada akhirnya ia berhasil menang dan memegang kekuasaan kerajaan dengan bantuan Demak. Kemudian ia masuk Islam dan mengganti namanya denga Suriansyah serta membangun sebuah masjid sebagai sarana ibadah, masjid tersebutlah yang dinamai dengan masjid Sultan Suriansyah.” (hal.47)

Di dalam buku ini juga dijelaskan beberapa pembahasan lain meliputi masjid Sultan Suriansyah, penjelasan tersebut meliputi bentuk arsitektur kuno masjid, ornamen dan kaligrafi, pintu rakaat shalat, hiasan 60 ornamen banjar, filosofi waluh dan dedaunan, dan lain sebagainya.

Bentuk masjid yang sempat berubah dan kemudian dikembalikan ke bentuk aslinya menjadi gambaran bahwa benda-benda cagar budaya memang harus dilestarikan dan dijaga sebagai salah satu bukti peninggalan atau monumen sejarah yang kelak tetap dapat dilihat oleh generasi penerus. (Oki Koto/Res/111/7-2016)

Read : 903 time(s).