Saturday, 25 October 2014   |   Saturday, 1 Muharam 1436 H
Online Visitors : 1.476
Today : 10.927
Yesterday : 21.567
Last week : 160.551
Last month : 802.699
You are visitor number 97.270.769
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



04 februari 2010 00:07

Hikayat Kampung Mati

Hikayat Kampung Mati

Judul Buku
:
Hikayat Kampung Mati
Penulis
:
Marhalim Zaini
Penerbit:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, Agustus 2007
Tebal
:
xii + 140 halaman
Ukuran
:
13 x 20 cm
 
 

Pada dasarnya, karya sastra merupakan refleksi atas realitas yang terjadi di masyarakat. Karena itu, sastra bisa dijadikan wahana untuk membaca dan memahami proses yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Namun sayangnya, tidak banyak karya sastra yang berbicara secara utuh, terlebih lagi karya sastra dalam bentuk novel. Pada konteks tersebut, kehadiran novel Hikayat Kampung Mati menjadi sangat penting adanya. Karena isi novel ini tidak sekedar membedah dan mewakili gagasan penulisnya belaka, lebih dari itu memotret realitas masyarakat di mana penulisnya hidup.

Membaca novel setebal 140 halaman ini, ibarat membaca perasaan dan alam pikiran orang Melayu, lebih khusus lagi, anak muda Melayu yang sedang bercinta di tengah cengkeraman kesengsaraan hidup.

Sri Gunung, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan negeri Riau. Dari jauh sangat elok dipandang mata, namun setelah dekat kebalikannyalah yang tampak. Masyarakat lain menganggap Riau merupakan negeri yang kaya, terutama dengan sumber minyak di bawah (perut) dan di atas (permukaan) buminya, dan memang seperti itulah kabar yang disampaikan oleh pemerintah ke luar daerah. Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Sebagian besar masyarakat di sana masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sedang yang kaya adalah mereka yang pandai melihat dan memanfaatkan peluang, serta memiliki kekuasaan.

Kekuasaan sendiri bak sebuah garis tipis yang berada di perbatasan kebaikan dan keburukan. Sekali waktu, ia lantang meneriakkan keadilan dan kebenaran. Pada  waktu yang lain, boleh jadi ia tergelincir, melukai dan mezalimi manusia lain. Ia bersifat relatif yang tergantung pada pemaknaan: menguntungkan siapa dan untuk kepentingan pihak mana.

Kemiskinan di Riau yang telah menjadi relitas obyektif telah mendatangkan duka lara yang berkepanjangan di hati masyarakatnya. Dan untuk mempertegas duka tersebut, Marhalim Zaini memberikan nama “Lara” untuk tokoh rekaannya dalam novel ini. Lara bukanlah sekedar nama gadis remaja yang sedang dilamun api cinta, lebih dari itu, ia merupakan simbol kesengsaraan, kemiskinan, pendidikan rendah, dan ketidakberdayaan.

Lara hidup miskin bersama neneknya. Mereka menggantungkan hidup pada sebidang kebun karet, namun, kebun karet itupun dibakar dan dirampas oleh elit politik desa, yang diwakili oleh Tok Penghulu dan antek-anteknya. Maka lengkaplah kesengsaraan yang menimpanya. Di desa itu masih ada puluhan, bahkan ratusan “Lara-Lara” lain yang bernasib sama. Ironisnya, Lara tersebut tidak pernah berubah. Jika ada yang mengatakan “tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri”, maka, khusus di kampung itu Lara merupakan pengecualian, sehingga kalimatnya harus ditambah menjadi “tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri dan Lara”. Selain itu, roda kehidupan yang katanya selalu berputar, juga tidak berlaku di kampung itu, kalaupun berputar Lara selalu berada di bagian bawah, stagnan.

Stagnasi merupakan simbol utama kematian, maka untuk lebih mempertegas gagasannya, penulis memberi judul pada novelnya Hikayat Kampung Mati. Orang miskin dan tak berdaya tak ubahnya seperti orang mati. Dalam konteks Riau lebih tepat sebagai “orang yang dimatikan”. Kendati demikian, di tengah “kematian” tersebut, penulis tetap menonjolkan optimisme dan ketegaran, bukan kecengengan, apalagi merajuk.

Selain mengupas ketegaran hati seorang wanita dalam menghadapi kegetiran realitas hidup, cerita cinta dua insan manusia turut membingkai dan mewarnai setiap alur dalam novel ini. Tatkala cinta telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut nadi dan hati, maka kematianpun tak kuasa memisahkan antara dua insan. Namun, apa jadinya jika cinta yang terlanjur terjalin itu harus berbenturan dengan norma agama? Benturan keras melanda dan menguji ketegaran hati sepasang kekasih.

Kisah cinta haru-biru yang membilas perasaan sepasang remaja itu, tidak hanya menguras air mata, namun juga darah. Ide perlawanan sangat kental dalam novel yang berlatarbelakang kebudayaan Melayu ini. Ide anti kemapanan tampak dari usaha penulis membongkar dan mengkritisi tradisi Melayu yang dianggap sudah mapan. Berbagai kejutan, intrik politik, pengingkaran sejarah, sampai pendidikan dalam alam pikir masyarakat Melayu yang disajikan penulis semakin memperindah alur cerita cinta terlarang ini. Tragis.

Oleh : M. Yusuf (Anggota HIMARISKA)
Read : 10.060 time(s).