Friday, 28 November 2014   |   Friday, 5 Shafar 1436 H
Online Visitors : 1.778
Today : 12.060
Yesterday : 19.832
Last week : 160.999
Last month : 718.966
You are visitor number 97.392.951
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



20 februari 2010 00:07

Hikayat Mamanda, Riwayatmu Kini

Hikayat Mamanda, Riwayatmu Kini

Judul Buku
:
Mamanda Sebuah Teater Eksodus
Penulis
:
Hermansyah
Penerbit
:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
I, 2007
Tebal
:
xiii + 89 halaman

Ketika mengeja kata ‘mamanda‘, seringkali kita mengasosiasikan dengan ‘mama‘ atau ‘ibu‘ yang derivasinya menjadi ‘mamanda‘ atau ‘ibunda‘. Namun, pengertian itu keliru, khususnya jika menilik pada tata bahasa yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di pulau Sumatera maupun Kalimantan. Secara etimologis, ‘mamanda‘ berasal dari kata ‘mama‘ yang berarti ‘paman‘, atau ‘pakcik‘ yang dalam bahasa Banjar disebut ‘mamanda‘. Kata nda memiliki arti ‘terhormat‘. Dalam konteks ini, ‘mamanda‘ berarti ‘paman yang terhormat‘.

Mamanda merupakan kesenian tradisional berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan, berwujud teater rakyat dengan lakon yang bersumber dari syair lama dan hikayat, dan didukung oleh tokoh utama yang wajib ada, yaitu Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri, Panglima Perang, Harapan I dan Harapan II, Khadam/Badut, serta Sandut/Putri. Masing-masing tokoh memiliki peran sentral tersendiri dalam setiap lakonnya.

Merunut pada sejarahnya, Mamanda lahir dari kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897 yang dulunya bernama Komedi Indra Bangsawan di Kalimantan Selatan. Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar dengan Badamuluk dan saat ini lebih dikenal dengan sebutan Mamanda (hlm. 32). Seni tradisional ini dibawa oleh perantau Banjar ke Indragiri Hilir, Riau, semenjak terjadi eksodus akibat peperangan melawan Belanda yang menyengsarakan kehidupan masyarakat Banjar.

Sepintas lalu, teater rakyat ini mirip dengan kesenian lenong atau ketoprak yang memiliki ciri adanya hubungan emosional antara pemain dan penonton. Dalam pementasan lenong maupun Mamanda, penonton dapat langsung memberi tanggapan terhadap jalannya cerita, sehingga semakin menghidupkan aura pergelaran yang tengah berlangsung. Tak heran, imbal balik dari penonton inilah yang menentukan sukses tidaknya pementasan teater rakyat ini. Pementasan teater tradisional Mamanda sangat ditentukan oleh kemampuan pemain dalam mengatur aksi dan dialognya. Tiap pelakon bebas mengembangkan permainan sendiri asal tidak menyimpang dari skenario sehingga pagelaran Mamanda terlihat sebagai sebuah lakon spontan. Ketoprak, lenong, maupun Mamanda memiliki urutan pementasan yang sama, yaitu diawali dengan iringan musik atau bunyi-bunyian dan perkenalan dengan nyanyian ataupun tarian.

Pada masa sekarang ini, teater rakyat kian terpinggirkan. Ekspresi kesenian rakyat lokal tergerus oleh keberadaan sinetron Indonesia yang sarat dengan kisah drama percintaan, tragedi, maupun kisah-kisah yang banyak menghadirkan nuansa emosi penuh kebencian dan balas dendam. Akhir-akhir ini, persinetronan di Indonesia bahkan didominasi oleh kisah perebutan harta. Sayangnya, justru kisah-kisah itulah yang banyak diminati pemirsa dibandingkan dengan bentuk ekspresi kesenian rakyat yang terkesan menjemukan. Padahal, teater rakyat justru mengusung masalah kehidupan yang dapat diambil hikmahnya, seperti sejarah, adat istiadat, kritik atas ketimpangan di masyarakat, dan terutama ialah keteladanan karena kisah dalam teater rakyat hampir selalu menghadirkan kebenaran dan contoh yang baik bagi masyarakat.

Preferensi masyarakat terhadap konsumsi seni lebih disebabkan oleh keberadaan media elektronik yang dominan dalam kehidupan masyarakat modern. Lebih jauh lagi, pergeseran gaya hidup yang pragmatis dan hedonis semakin menguatkan eksistensi sinetron Indonesia yang menyuguhkan hiburan singkat, ekonomis, modern, dan prestisius. Kisah-kisahnya yang tidak membumi justru mengena di hati masyarakat Indonesia yang senang bermimpi. Kontras dengan bentuk kesenian modern tersebut, Mamanda yang merupakan teater rakyat dari Indragiri Hilir, Riau, semakin terpinggirkan justru oleh komponen pendukungnya sendiri, teknologinya yang tertinggal, kurangnya kreativitas, serta kisah-kisahnya yang menjemukan karena selalu bersumber dari syair lama dan hikayat. Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, kurangnya inovasi dalam teknik pementasan dan alur cerita menyebabkan generasi muda di Indragiri Hilir tak lagi menoleh kepada kesenian rakyat yang satu ini.

Akhir kata, pelestarian budaya sesungguhnya membutuhkan komponen-komponen pendukung. Komponen-komponen tersebut ialah masyarakat itu sendiri. Bagaimana sebuah suguhan budaya menjadi menarik akan tergantung oleh kemasannya sebagai daya tarik yang menjual. Dibanding dengan lenong dan ketoprak yang cukup inovatif, Mamanda belum mampu merestrukturisasi diri menjadi wujud baru yang bisa diterima di hati masyarakat, bahkan di Indragiri Hilir itu sendiri.

Buku yang merupakan hasil penelitian ini, mengungkapkan bahwa Mamanda tampaknya tidak banyak mengalami perubahan yang berarti, sebagaimana yang dilakukan dalam kesenian rakyat seperti lenong dan ketoprak yang inovatif. Pun, Mamanda tidak menggaet media elektronik dalam pertunjukannya, sehingga daya jualnya di hati generasi muda menjadi semakin tersisihkan. Sebagaimana Mamanda, ketoprak dan lenong jaman dahulu hanya dipentaskan di panggung-panggung hiburan rakyat yang terbuka. Perbedaannya ialah Mamanda hingga kini masih menyuguhkan versi aslinya, sedangkan ketoprak dan lenong menginovasi diri menjadi wujud modern yang tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat dalam budayanya sendiri, melainkan juga mengena di hati semua kalangan dengan beragam latar budaya.

Buku ini mengantarkan pembaca pada pemahaman yang runtut mengenai kesenian Mamanda yang mulai pudar ditelan jaman. Pembaca diajak menelusuri jejak sejarahnya, masyarakat pendukungnya, alur cerita, lakon, serta perkembangannya dewasa ini. Dalam buku ini, pembaca diajak untuk memahami konteks pergelaran Mamanda, sehingga mampu memberi kritik dan masukan yang berarti bagi kelestarian budaya yang satu ini. Nampaknya, kurangnya keberanian dalam inovasi menjadi beban tersendiri bagi kelestarian teater Mamanda. Pada intinya, metamorfosa Mamanda memerlukan keberanian, terutama dalam alur cerita yang tidak selamanya bersumber dari hikayat dan syair saja. Hermansyah, sang penulis, yang sekaligus dosen tetap Fakultas Sastra Universitas Lancang Kuning, Riau, mengupasnya di dalam buku ini. Selamat membaca!

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)

Read : 10.464 time(s).