Sunday, 26 April 2026 |Sunday, 9 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 961
Today
:
16.249
Yesterday
:
23.172
Last week
:
7.342.256
Last month
:
101.098.282
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
24 juli 2007 09:24
Universitas Riau Lambang Teras Budaya Melayu
Kuala Lumpur- Dekan Akademi Pengajian Melayu (APM) Universiti Malaya Prof Madya Dato Zainal Abidi Borhan mengatakan, Unri adalah lambang teras budaya Melayu. Hal ini dapat terlihat dari beberapa buah karya yang telah dihasilkan Unri. Karena itu, UM dalam hal ini UPM memandang dan menilai Unri menjadi lambang budaya Melayu.
“Saya sudah berbicara kepada canselor (rektor) Universiti Malaya, terkait dengan adanya pemilihan Unri untuk melakukan MoU bidang penelitian dan pengkajian budaya Melayu, oleh rektor hal itu ditanggapi positif dan meminta langsung untuk segera merealisasikan,” kata Tengku Zainal, Ahad (22/7).
Disebutkan Zainal, pengkajian dan penelitan budaya Melayu tidak akan pernah habis dan berhenti, meskipun begitu banyak arus perubahan dan kemajuan diberbagai bidang, Melayu itu sendiri akan mengikuti perkembangan zaman. “Maka dari itu pada program rancangan kedepan kedua belah pihak akan mamadukan science dan culture, yang terfokus pada kebudayaan Melayu itu sendiri. Kalaulah ini berhasil, tak dapat saya bayangkan, kalau sunbangsih dari penelitian dan pengkajian ini akan memiliki nilai yang luar bisa dan orang pihak lain belum pernah membuatnya,” kata Zainal
Ditempat yang sama Dekan Fisipol Unri Drs Ali Yusri MSi menyambut baik dan tidak terlalu berlebihan jika UM memandang Unri sebagai terasnya budaya Melayu. Sebagai tahapan awal tentunya untuk melakukan penelitian dan pengkajian terhadap budaya Melayu itu sendiri Unri sudah banyak menghasilkan buah karya yang cemerlang, dan terbukti sudah banyak hasil penelitian yang sudah di publikasikan.
Berkaitan dengan hasil MoU itu juga kata pria kelahiran Rokan Hulu ini, akan di follow up dan tentunya dari Fisipol sendiri akan membahsas isu-isu nasional yang meliputi pengkajian intenasional dalam aspek kehidupan antar bangsa yang berkaitan dengan kebudyaan Melayu. “Terhadap penelitian tentunya harus dibuat payung hukum terlebih dahulu, menjadi panduan yang menjadi bidang pengkajian, bidang pemerintaham administrasi tentunya harus ada join antara kedua belah pihak,” sebut Ali Yusri
Kemudian terpenting lagi, nantinya setelah ada payung, kedua belah pihak membahas isu-isu bersama terkait dengan berbagai aspek yang disepakati. Maka dari itu tahapan sosialisasi harus baik ditingkat universitas, fakultas, dan Prodi dilakukan secara intensif, agar nuasa yang terkandung dalam MoU bisa dipahami secara baik dan menyeluruh, sehingga bisa mendukung kebijakan secara lebih baik.
Agustus Action
Adanya rencana Unri melakukan action untuk menindak lanjuti pada Agustus, mendapat dukungan yang baik, menurut Dekan APM Prof Tengku Zainal Abidin kalau APM tidak menyangka secepat itu bisa terwujud, kalaulah pihak Unri sudah mengatakan hal iti, bagi APM tinggal menungggu saja biar secepatnya terlaksana. Dekan Fakultas Ilmu Politik dan Kejuruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri Drs Isjoni Ishaq, MSi mengatakan, kalau keinginan pada Agustus nanti tidak menjadi permasalahan, FKIP telah menyiapkan segala sesuatunya, tinggal sekarang lagi menguugu pemabahasan. “Maka dari itu hasil dari MoU ini nantinya akan diimplementasikan ke dalam bentuk jurnal, penelitian, kajian bersama,” kata Isjoni.
Untuk melakukan hal itu kata Isjoni FKIP sudah ada wadah yaitu berupa jurusan sastra daerah, jadi tinggal mensinergikan antara jurusan saja. Kemuduin yang tak kalah menariknya adalah nantinya, dalam pengkajian itu dilihat dari aspek history (sejarah) antar Malaysia dan Indonesia, terutama Riau yang memiliki satu rumpun, tidak ada perbedaan. “Hal ini segera mungkin di sinergikan, agar menumbuhkembangkan lagi, suatau wawasan yang ditumbuh kembangkan penelitan dan pengkajian,” sebut Isjoni.
Sumber: Riau Tribune Kredit foto : id.wikipedia.org