Thursday, 18 June 2026 |Thursday, 2 Muharam 1448 H
Online Visitors : 957
Today
:
15.221
Yesterday
:
20.284
Last week
:
184.896
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
12 juni 2010 03:30
Musyawarah Hukum Adat Dayak dan Melayu
Pontianak, Kalbar - Beberapa abad yang lampau, telah berdiri Kerajaan-Kerajaan di Belahan Bumi Kalbar telah membangun peradaban dengan berbagai ada budaya dan tatanan. Bahkan, Kerajaan ini telah berperan besar dalam menumpas penjajahan.
“Kerajaan di Landak, Sambas, Pontianak, Mempawah, Ketapang, Sanggau, Sintang, Sukadana, Sekadau dan lain-lain telah membangun peradaban masyarakat dengan adat budaya dan tatanan yang berlaku pada masa itu. Bahkan mereka juga melakukan perlawanan terhadap penjajahan,” kata Ir Zainul Arifin dalam seminar sehari pada musyawarah hukum adat Dayak dan Melayu. Di Aula Pertemuan Emaus, Rabu (9/6) kemarin
Lantas dijelaskan Zainul, pemerintahan kerajaan yang mengalami berbagai dinamika. Akibat pergantian tahta kepemimpinan kerajaan tersebut, juga dipengaruhi oleh adanya politik adu domba, intimidasi, ancaman, provokasi dan perlawanan (peperangan, red) yang diperankan oleh kolonialisme penjajahan.
Terlepas dari menang atau kalah, dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Tetapi yang jelas, kerajaan-kerajaan di Kalbar, tercatat di dalam sejarah telah memberikan kontribusi. Peran yang besar dalam membangun peradaban dan mata rantai kehidupan masyarakat, dengan mewariskan budaya, adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang hingga saat ini masih kita rasakan.
Diungkapkan Zainul banyak peristiwa-peristiwa heroik yang telah terjadi di daerah-daerah. Seperti Peristiwa Sambas, Ketapang, Pembantaian Mandor, Pemberontakan Rakyat Landak, Penyerangan Tangsi Militer di Bengkayang dan termasuk Perjuangan Laskar Merah Putih di Nanga Pinoh, dan lain-lain.
“Meski saat itu para tokoh pejuang tersebut dalam perjuangannya tanpa memandang latar belakang suku dan agama karena tingginya rasa nasionalisme dan patriotisme untuk membela tanah air. Sebut saja, sebagai contoh dari Nanga Pinoh adalah Raden Temenggung Setia Pahlawan yang telah ditetapkan Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dari Melawi,” papar Zainul.
Lebih rinci, urai Zainul menuturkan, Perjuangan Laskar Merah Putih di Nanga Pinoh terdapat nama-nama pejuang. Sebut saja, Bagindo Jalaludin, Abang Patol, Abdussukur, Ismail Galang, Umut Thalib, Hasyim Ahmad, Sulaiman, Usup Bakri, Tambi Dol, M Syarif Nasir, Darma, Muhammad Sade dan lain-lainnya.
“Tokoh pejuang korban pembantaian tentara Jepang (Peristiwa Mandor), meski semua etnis ada, tetapi sebagian besar korban tersebut adalah pejuang-pejuang dan Para Raja dari Kerajaan Melayu,” ulasnya.
Pemberontakan-pemberontakan di Sambas, Bangkayang dan Landak sebagian besar di pimpin dan dilakukan oleh pejuang-pejuang Melayu. Sebut saja, misalnya Pangeran Natakusuma, Gusti Sulung Lelanang, Bardan Nadi dan ratusan tokoh lainnya di Kalimantan Barat ini.
“Dengan demikian, bahwa pada masa revolusi fisik dan pergerakan tidak sedikit pemimpin dari Tokoh Melayu yang berperanan. Hingga akhirnya harus mengirbankan jiwa raganya, sebagaiSuhada dan Pejuang yang gugur demi membela tanah air di Kalbar. Meski banyak juga Tokoh Pejuang dari etnis lain, seperti Dayak, China, Jawa, Bugis, Batak dan Padang,” pungkasnya. (aji)