You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
15 juni 2010 04:00
Yang Muda dan Peduli pada Pelestarian Produk Warisan Budaya
Palembang, Sumsel- Selain aspek ekonomi, karena bernilai tambah tinggi, upaya pelestarian produk warisan budaya juga mengandung nilai luhur untuk memperkenalkan kekayaan bangsa Indonesia kepada generasi mendatang.
Pada era modern seperti saat ini, Pemerintah Indonesia menetapkan produk warisan budaya sebagai produk kreatif yang akan dikembangkan. Apalagi produsen atau pelaku usahanya sebagian besar merupakan usaha kecil dan menengah (UKM) serta menyerap jutaan pekerja.
Tak terkecuali kain songket, produk warisan budaya khas Sumatera Selatan. Upaya pelestarian kain songket yang dilakukan secara turun-temurun ini (khususnya yang dilakukan sejumlah perajin/produsen/pelaku usaha di Palembang dan Jakarta), membuat generasi muda dan bahkan beberapa generasi mendatang masih bisa menggunakan, menikmati, bahkan mengoleksi kain songket nan indah.
Ciri khas kain tenun songket palembang adalah tenunannya yang sangat halus dan indah karena dibuat secara manual melalui proses produksi yang lama serta memiliki pola yang khas berbasis budaya di Bumi Sriwijaya. Bayangkan, pembuatan satu helai kain songket bisa memakan waktu paling cepat 10 hari. Harganya pun ber-variasi dari Rp 500.000 hingga Rp 40 juta. Tidak hanya dibeli oleh masyarakat berlatar belakang suku di Sumatera Selatan dan sekitarnya, namun juga dari berbagai latar suku bangsa serta para kolektor benda seni.
Salah satu usaha pembuatan dan pengembangan kain songket di Palembang yang masih eksis adalah Sriwijaya Songket. Navisa Mandasari, salah satu pengelola Sriwijaya Songket, saat dijumpai Suara Karya di galeri Jalan KH Azhari 13 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/6) pekan lalu, mengatakan, produksi kain songket sangat tergantung pada pesanan pelanggan. Apalagi songket merupakan produk tenun buatan tangan dengan ciri khas pola/corak, warna, dan bahan baku benang yang khusus.
Sriwijaya Songket akan terus berupaya melestarikan kain songket secara utuh atau sama seperti yang dibuat oleh nenek moyang. Salah satunya dengan membina sejumlah perajin yang mewarisi keahlian membuat songket secara turun-temurun di wilayah Palembang dan sekitarnya.
Menurut Navisa, dalam menjalankan usaha pembuatan songket palembang, para pelaku usaha umumnya menghadapi kendala modal untuk pengembangan bisnis, selain pengadaan bahan baku dan pemasaran serta promosi produk. Hingga saat ini belum ada perbankan dan lembaga keuangan resmi lainnya yang bisa secara intensif mengucurkan bantuan permodalan. Di sisi lain, perajin juga terpaksa mendatangkan bahan baku benang dan sutra dari Thailand dan China. Ini tentunya juga memengaruhi alokasi anggaran untuk pemasaran dan promosi produk kain songket.
Untuk bisa memperkenalkan produk songket ke daerah lain, apalagi ke luar negeri, para pelaku usaha di Palembang bergantung pada bantuan pemerintah daerah setempat atau perusahaan dan BUMN yang menjadi "bapak angkat" atau mitra pembina. "Promosi ke luar daerah baru bisa kita lakukan kalau kita diajak pameran. Seperti saat ini kita sedang pameran di Pekan Raya Jakarta," ujar Navisa yang akrab disapa Icha.
Selain Sriwijaya Songket, usaha keluarga milik Hj Maria dan Kiagus HA Karim ini juga membuka usaha dengan nama Adis Songket yang dijalankan oleh adik ipar Navisa, Nyayu Nur Komaria. Sejak tahun 1998 Hj Maria memulai membuka usaha songket sendiri di rumahnya di 13 Ulu Palembang dan serius mengusung pengembangan setelah pulang menunaikan ibadah haji pada 2001. Maria mulai merekrut dan membina para perajin songket yang saat ini jumlahnya lebih dari 30 orang. Saat ini tidak hanya songket dalam bentuk kain, Sriwijaya Songket juga memproduksi songket untuk taplak meja, hiasan dinding, dan varian produk lainnya.
Kini selain sering pameran di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandar Lampung, Bandung, dan Yogyakarta, kain songket karya Sriwijaya Songket dan Adis Songket juga mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan.
Sriwijaya Songket pernah mendapat pesanan pembuatan seragam tradisional kontingen Indonesia yang dipamerkan saat upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing 2008 lalu. (Andrian Novery)