Friday, 24 April 2026   |   Friday, 7 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 0
Today : 5.899
Yesterday : 18.047
Last week : 7.342.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

05 juli 2010 06:00

Diskusi dalam Rangka Milad BKPBM ke-7

Merajut Keberagaman, Merangkai Kesalingpahaman
Diskusi dalam Rangka Milad BKPBM ke-7

Yogyakarta, MelayuOnline.com - Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) mengadakan diskusi dengan tema “Keberagaman Melayu”, Sabtu siang (3/7/2010), di kantor BKPBM, Jl. Gambiran 85, Yogyakarta. Diskusi tersebut membuka rangkaian kegiatan milad BKPBM ke-7 yang diselenggarakan selama dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu.

Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, di antaranya adalah Ir. Said Fadilah (ketua Ikatan Keluarga Kepulauan Riau), Drs. Mustari, M.Si., (Dosen Universitas Islam Negeri [UIN] Sunan Kalijaga), sejumlah mahasiswa sarjana dan pascasarjana UIN Sunan Kalijaga serta mahasiswa dari berbagai universitas lain di Yogyakarta.

Narasumber diskusi tersebut adalah Dr. Mohd. Sharifudin Yusop, staf pengajar di Department of Malay Language, Fakulti Bahasa Modern dan Komunikasi, Universiti Putra Malaya (UPM), Serdang, Selangor, dan Dr. Aris Arif Mundayat, Kepala Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT-UGM). Diskusi dipandu oleh Tasyriq Hifzhillah, redaktur BKPBM.

Dr. Mohd. Sharifudin Yusop memaparkan keberagaman Melayu di Malaysia dari sudut pandang etnolinguistik. Bahasa Melayu di Malaysia sangat beragam dan dapat dipetakan menjadi Melayu Semenanjung, Melayu Kelantan, Melayu Utara, Melayu Pahang, Melayu Perak, Melayu Melaka, dan Melayu Johor. Masing-masing daerah mempunyai kosakata yang berbeda-beda meskipun menunjuk pada makna yang sama. Misalnya, bahasa Melayu Kelantan menyebut kata “makan” dengan kata “make” sementara masyarakat Trengganu menggunakan kata “makang”. Perbedaan kosakata yang digunakan oleh masing-masing daerah di negara tersebut dipengaruhi oleh kondisi di mana masyarakat tersebut bermukim, baik berupa pengaruh keadaan alam maupun kebudayaan yang ada.

Selanjutnya, Dr. Sharifudin menyinggung kondisi generasi muda Melayu Malaysia dalam konteks kekinian. Dalam pandangan beliau, pengaruh budaya-budaya hedonis mulai terasa pada generasi muda Melayu Malaysia saat ini. Ia menyebutkan bagaimana anak-anak muda Melayu Malaysia lebih asyik dengan balapan motor dan tenggelam dalam “dunia gemerlap” daripada menggeluti ilmu pengetahuan. Persoalan tersebut bertambah dengan maraknya penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda.

Jika Dr. Mohd. Sharifudin Yusop memaparkan keberagaman Melayu di Malaysia, Dr. Aris Arif Mundayat mengetengahkan persoalan keberagaman Melayu di Indonesia. Keberagaman Melayu di Indonesia, menurut Mas Aris, sapaan akrab Dr. Aris Arif Mundayat, muncul karena interaksi orang-orang Melayu dengan kebudayaan lain, termasuk interaksi dengan agama. Interaksi tersebut, selain memunculkan dunia Melayu yang plural, juga memunculkan ketegangan antara yang Melayu dan yang bukan Melayu.

Interaksi masyarakat Melayu dengan dunia global dalam konteks globalisasi saat ini juga membawa pengaruh bagi masyarakat Melayu. Ada dua kecenderungan masyarakat Melayu dalam menghadapi derasnya laju globalisasi tersebut. Pertama, masyarakat Melayu menutup diri dan selalu melihat pada diri mereka sendiri tanpa mempedulikan hubungan dan perkembangan budaya yang ada. Kedua, mereka terbuka tanpa melindungi nilai-nilai kebudayaan mereka sendiri sehingga mereka akan pupus suatu ketika dalam dinamika sejarah kebudayaan.

Melihat hal tersebut, Mas Aris mengajukan usulan bahwa yang mesti dilakukan adalah membuka diri terhadap perkembangan budaya luar namun masih tetap menjaga nilai-nilai kebudayaan yang di dalam tubuh Melayu.

Acara tersebut ditutup dengan penyerahan cenderahati dari Dr. Mohd. Sharifudin Yusop kepada Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, S.H., MM., dan foto bersama.

(Mujibur Rohman/brt/04/07-2010)

Sumber Foto: Koleksi BKPBM


Read : 2.958 time(s).

Write your comment !