Wednesday, 23 April 2014   |   Wednesday, 22 Jum. Akhir 1435 H
Online Visitors : 426
Today : 1.123
Yesterday : 20.000
Last week : 147.823
Last month : 2.006.207
You are visitor number 96.625.739
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

14 agustus 2010 04:06

Gurindam Dua Belas dari Pulau Maskawin

Gurindam Dua Belas dari Pulau Maskawin

Pulau Penyengat, Kepri - Pulau Maskawin yang juga lazim disebut Pulau Penyengat merupakan pulau kecil di Kepulauan Riau. Tepatnya di sebelah barat Kota Tanjung Pinang yang ada di Pulau Bintan. Di pulau seluas 2 kilometer persegi itu, setiap sudut jalan dihiasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.

Gurindam Dua Belas adalah sajak dua belas pasal (kuplet) karya Raja Ali Haji, sastrawan dan pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau, yang mengandung petuah bijak atau nasihat. Raja Ali Haji pun ulama dan pujangga kelahiran 1808, yang meninggal pada usia 65 tahun, dan dimakamkan di Pulau Maskawin.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 089/TK/2004, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai pahlawan nasional bidang bahasa Indonesia.

Untuk mencapai Pulau Maskawin, pengunjung harus melalui perjalanan laut dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Pulau Bintan dengan perahu motor yang disebut pompong. Lama perjalanan sekitar 15 menit dengan tarif Rp 20.000 per orang.

Pulau berpenduduk 1.000 jiwa itu disebut Maskawin karena merupakan maskawin Sultan Mahmudsyah, raja kedelapan Kesultanan Riau Lingga, saat ia mempersunting Engku Putri Raja Hamidah. Namun, tak ada catatan mengenai hari pernikahan mereka.

Selain dikenal sebagai Pulau Maskawin, masyarakat juga menyebutnya Pulau Penyengat. Ini karena dulu beberapa nelayan yang hendak mengambil air tawar di pulau tersebut pernah disengat lebah atau tawon.

Obyek wisata

Sesampai di Pulau Maskawin, belasan ojek sepeda motor beroda tiga biasanya sudah menunggu pelancong. Sewa bemor—demikian sebutan ojek itu—sekitar Rp 20.000 per jam.

Dengan luas yang 2 kilometer persegi itu, pelancong tak butuh banyak waktu untuk berkeliling. Begitu keluar dari pelabuhan, akan terlihat Masjid Sultan Riau atau Masjid Kuning, satu-satunya masjid di Pulau Maskawin yang didirikan tahun 1832. Konon, perekat batu bata pada bangunan masjid itu adalah putih telur ayam kampung.

Ada 17 menara besar dan kecil di kompleks masjid yang menunjukkan jumlah rakaat shalat lima waktu. Selain itu, di dalam masjid juga dipajang Al Quran, tulisan tangan Abdurrahman Stambul. Ia adalah penduduk asli Pulau Maskawin yang diminta oleh pihak kerajaan untuk belajar agama ke Mesir. Tulisan tangan itu dibuat tahun 1867.

Menurut bilal (orang yang mengumandangkan azan saat waktu shalat tiba) di masjid tersebut, Abdul Karim (80), Abdurrahman membuat tulisan itu di sela-sela mengajar ilmu agama kepada murid-muridnya. ”Sebenarnya ada tiga Al Quran yang ia tulis dengan tangan, tetapi dua di antaranya sudah lapuk dimakan usia,” ujarnya.

Jika melanjutkan perjalanan, maka kita akan menemukan sudut-sudut jalan dihiasi papan kayu berisi pasal-pasal Gurindam Dua Belas. Di persimpangan jalan di depan Masjid Kuning, misalnya, terpampang cuplikan pasal pertama Gurindam Dua Belas. Bunyinya seperti ini:

”Barang siapa tiada memegang agama/Segala-gala tiada boleh dibilang nama/Barang siapa mengenal yang empat/Maka yaitulah orang yang ma’rifat/Barang siapa mengenal Allah/Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah/Barang siapa mengenal diri/Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri/Barang siapa mengenal dunia/Tahulah ia barang yang terpedaya/Barang siapa mengenal akhirat/Tahulah ia dunia mudharat.”

Sekitar lima menit perjalanan dengan bemor dari Masjid Kuning, terdapat kompleks pemakaman pejabat Kesultanan Riau Lingga. Makam utama yang berada di kompleks ini adalah Engku Putri Raja Hamidah yang wafat pada 12 Juli 1844, Raja Ahmad (penasihat kerajaan), Raja Ali Haji (pujangga kerajaan), serta Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau Lingga IX dan permaisurinya, Raja Aisyah. Selain itu, ada juga puluhan makam keluarga kerajaan beserta pengikutnya.

Selain kompleks makam bersejarah, di Pulau Maskawin juga terdapat balai adat yang menjadi tempat pertemuan atau musyawarah pejabat kerajaan.

Pulau Maskawin bisa dibilang merupakan obyek wisata alternatif di Pulau Bintan. Meski demikian, tempatnya cukup mengasyikkan. (Aris Prasetyo)

Sumber: http://travel.kompas.com


Read : 1.151 time(s).

Write your comment !