You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
14 oktober 2010 02:00
Peneliti Indonesia Tak Peduli Situs Sejarah
Meda, Sumut - Situs-situs sejarah yang ada di Indonesia lebih dipedulikan oleh peneliti asing dibandingkan dengan peneliti Indonesia sendiri.
Staf Peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Erond Damanik, mengatakan, minimnya penelitian tentang situs sejarah yang dilakukan peneliti dari Indonesia diketahui dari Konferensi Sejarah Internasional ke-13 di Free University of Berlin, Jerman.
“Dari konferensi ini, kita mengetahui peneliti-peneliti asing dari mancanegara telah menghasilkan ratusan tulisan dari penelitian tentang situs bersejarah di Indonesia. Tulisan-tulisan tersebut baik dalam bentuk buku, disertasi, tesis maupun makalah dalam bentuk jurnal,” terangnya kepada wartawan, Selasa (12/10).
Menurut Erond, hal tersebut tentu saja menimbulkan kesenjangan pengetahuan. “Karena peneliti Indonesia cenderung menjadi penonton atau mendapatkan hasil penelitian setelah penelitian tersebut di publikasikan oleh peneliti luar negeri,” jelasnya.
Dalam konferensi tersebut, dari 200 judul penelitian yang dipaparkan masing-masing peneliti yang juga peserta konferensi, hampir 80 persen hasil penelitian yang disajikan merupakan penelitian tentang situs bersejarah Indonesia.“Misalnya Peneliti dan Arkeolog seperti McKinnon yang menyajikan makalah tentang Kota Rentang Hamparan Perak yang menyoroti periode Islam berdasarkan nisan-nisan Islam yang ditemukan di Kota Rentang,” tuturnya seraya menambahkan, Arkeolog Perancis Daniel Perret menyajikan hasil penelitiannya tentang Candi Sipamutung, Padang Lawas Sumut.
Erond mengatakan, hanya sebagian kecil saja paparan yang disampaikan para peneliti peserta konferensi yang merupakan penelitian tentang situs bersejarah dari negara lain seperti Malaysia, Vietnam, Burma dan Asia Tenggara lainnya.
“Banyak hal yang menyebabkan minimnya penelitian yang dilakukan oleh peneliti bangsa kita. Bisa saja karena wadah atau forum ilmiah di Indonesia belum berkembang dengan baik atau karena memang budaya penelitian belum berkembang pada orang-orang Indonesia,” ujarnya. Konferensi yang bertajuk ‘Cross Borders in Southeast Asian Archaeology’ ini diselenggarakan oleh European Assosiation of Southeast Asian Archaeologist (EurASEAA), pada 27 September 2010 hingga 1 Oktober 2010 lalu. Konferensi ini dikuti 200 sejarawan dari berbagai negara. (saz)