Monday, 22 December 2014   |   Monday, 29 Shafar 1436 H
Online Visitors : 731
Today : 1.732
Yesterday : 20.356
Last week : 123.047
Last month : 631.927
You are visitor number 97.481.806
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

31 desember 2010 08:35

Bahasa Suku Lestarikan Adat Budaya

Bahasa Suku Lestarikan Adat Budaya
Acara pernikahan, saat berpadunya bahasa dan adat budaya

Muntok, Babel - Bahasa suku atau daerah sangat penting peran, kedudukan, dan fungsinya, untuk mempertahankan dan melestarikan adat istiadat dan budaya suku-suku Melayu di Bangka Barat.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, pengaruh budaya dan bahasa luar, terkadang membuat bahasa asli suku, perlahan-lahan mulai tergerus.

Penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari, terkadang bahasanya sudah bercampur dengan bahasa lain, bukan murni bahasa suku Melayu. Hal ini dirasakan Ketua Lembaga Adat Melayu Jerieng Radindo Sri Sardi Al Jaren. Ia mengatakan, penggunaan bahasa suku/daerah di Bangka Barat, terutama Bahasa Suku Jerieng,  saat ini berangsur mulai berkurang, bahkan jarang dipakai lagi oleh generasi sekarang, yakni generasi yang usianya memasuki remaja.

“Kadang dalam penggunaan bahasanya sudah mulai meleset, bahasa suku bukan, bahasa Indonesia juga bukan,” ujar Sardi.

Untuk mempertahankan bahasa suku, perlu adanya keterlibatan dan kerjasama antara pemerintah daerah, para tetua adat, budaya, suku, untuk menyatukan persepi pelestarian bahasa suku, tujuannya untuk melestarikan adat dan budaya suku dan daerah itu sendiri.

Tentang wacana pemda untuk menyusun kamus bahasa Suku Ketapik dan Jerieng, dikatakan Sardi, sebagai hal yang sangat bagus untuk ditindaklanjuti dan direalisasikan.

Penerapannya bisa melalui mulok (muatan lokal) terutama di lingkungan pendidikan formal, sehingga generasi mendatang tidak lupa dengan bahasa asli daerahnya sendiri, artinya ada upaya penyelematan dan pelestarian melalui generasi.

“Saya prediksi 20 tahun ke depan, keberadaan bahasa daerah tidak akan seperti pada saat sepuluh tahun lalu, kalau tidak ada pelestarian. Kami dari Suku Melayu Jerieng siap bekerjasama dalam penyusunan kamus bahasa suku-suku Melayu di Bangka Barat. Orang-orang suku yang tahu tentang bahasa suku, juga harus diakomodir dalam penyusunannya jangan sampai salah pengertian dan penafsiran bahasa,” jelas anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat ini.

Sementara, Pemkab Bangka Barat saat ini menunggu respon masyarakat, terutama masyarakat Suku Melayu Ketapik dan Jerieng, untuk wacana penyusunan kamus bahasa dua suku tersebut.

Bupati Bangka Barat Ustad H Zuhri M Syazali mengatakan, bahasa sangat penting untuk menjaga kelestarian adat dan budaya. Salah satu diantara ciri khas budaya adalah bahasa, yang kedudukannya sangat strategis dan penting, sehingga bahasa suku melayu Ketapik dan Jerieng ke depan tidak mengalami perubahan atau hilang ditelan waktu karena pengaruh bahasa luar.

“Bahasa tidak bisa dirubah, dan hanya dengan bahasa itu, langkah awal untuk mempertahankan dan melestarikan adat dan budaya bisa dilakukan,” ujar Zuhri.

Dengan adanya kamus bahasa Suku Melayu Jering dan Ketapik, maka keturunan suku merasa memiliki bahas khasnya, sehingga mereka akan mempertahankan ciri khas adat dan budayanya. Dengan pelestarian bahasa, maka adat dan budaya masyarakat Suku Melayu tidak akan hilang.

Sumber: http://www.bangkapos.com
Sumber Foto: http://melayuonline.com


Read : 1.776 time(s).

Write your comment !