Wednesday, 29 April 2026   |   Wednesday, 12 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 1.215
Today : 17.823
Yesterday : 25.766
Last week : 169.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

23 maret 2011 07:53

Dicari, Pemimpin yang Mau Menderita!

Dialog Budaya Yogya Semesta Seri ke-41
Dicari, Pemimpin yang Mau Menderita!

Yogyakarta, MelayuOnline - “Biarlah pemimpin menderita, asalkan rakyat sejahtera.” Ungkapan itu mengemuka dalam Dialog Budaya dan Gelar Seni Yogya Semesta di Pendapa Kepatihan Yogyakarta, Selasa (22/5). Dialog seri ke-41 kali ini mengangkat tema tentang kepemimpinan dengan menghadirkan narasumber antara lain: Drs. Bambang Purwoko, MA (Dosen Ilmu Politik, Fisipol UGM), KH M. Jazir ASP (pengamat sejarah nasional Indonesia), dan Benz Leo (wartawan musik), dan Ir. Drs. H. Bugiakso (Ketua Umum Nasional Forum Komunikasi Putera-Puteri Polri).

Pada kesempatan itu, Kyai Jazir banyak menyampaikan gagasan sisi religiusitas seorang pemimpin. Ia menyebutkan bahwa tokoh-tokoh nasional di masa lalu mempunyai landasan religius yang kuat dalam kepemimpinannya. Misalnya Soekarno dan para tokoh sezaman yang menempatkan ketuhanan (baca: tauhid) pada sila pertama Pancasila. “Pemimpin menjadi besar karena ia mengorbankan kemerdekaan dirinya untuk kemerdekaan rakyat,” kata Kyai Jazir sembari menegaskan bahwa kalimat itu menjadi kunci bagi seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya.

Hal senada juga disampaikan Bambang Purwoko yang memandang kepemimpinan dari sisi politik kontemporer. Menurut Bambang, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang lahir dari masyarakat yang baik pula. Artinya, ada hubungan antara kondisi masyarakat dan kepemimpinan seseorang. Pemimpin adalah representasi rakyat. Purwoko menyebutkan bahwa seorang pemimpin bukan berarti ketua. “Pemimpin bisa siapa saja, asal memenuhi syarat sebagai pemimpin dan bisa memimpin,” ujarnya.


Pernyataan Bambang Purwoko tersebut dikuatkan oleh Mahyudin Al Mudra, SH. MM, (Pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu sekaligus Pemimpin Pedaksi www.MelayuOnline.com) dalam sesi dialog, “Leader is not a position, but action.” Mahyudin Al Mudra kemudian memberikan ilustrasi, “Kalau banyak koruptor di Indonesia berarti masyarakatlah yang melahirkan koruptor. Oleh karena itu, kita perlu mengedepankan pendidikan agar masyarakat bisa menjadi ibu yang baik.”

Bambang Purwoko melanjutkan, seorang pemimpin harus mempunyai integritas. “Integritas di sini artinya seorang pemimpin tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Pemimpin juga harus merelakan kepentingan pribadinya untuk kepentingan umum dan orang-orang yang dipimpinnya,” ungkapnya. Inilah yang kemudian dimaksud dengan “penderitaan” seorang pemimpin.  

Sementara itu, Bugiakso mempertanyakan hilangnya musyawarah mufakat dari sistem demokrasi di Indonesia. Musyawarah mufakat sebagai dasar demokrasi di Indonesia sekarang ini diganti dengan demokrasi voting. Dampaknya, para calon pemimpin (dalam hal ini pemimpin formal) menggunakan cara-cara yang tidak baik agar mereka bisa menduduki jabatan.

Lain halnya dengan Benz Leo yang lebih menceritakan kondisi musik di Indonesia dan penciptaan lirik-lirik yang sarat protes sosial. Benz Leo menceritakan bagaimana realitas kemiskinan menjadi inspirasi bagi karya-karyanya.

Dialog malam itu ditutup dengan ungkapan terakhir dari masing-masing narasumber. Pada sesi terakhir ini, Kyai Jazir kembali menegaskan, “Biarlah pemimpin menderita, asalkan rakyat sejahtera!”

(Mujibur Rohman/brt/07/03-2011)

Foto: Koleksi MelayuOnline.com


Read : 1.914 time(s).

Write your comment !