Wednesday, 19 August 2026 |Wednesday, 5 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 294
Today
:
8.607
Yesterday
:
19.117
Last week
:
179.363
Last month
:
11.454.048
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
06 juni 2011 03:59
Melestarikan Budaya Karo dari Tanah Seberang
Yogyakarta, MelayuOnline – Ratusan orang yang sebagian besar mengenakan baju berwarna merah dan hitam terus bergoyang dan menari seiring alunan musik khas Batak Karo. Lima marga yang menjadi akar rumpun Batak Karo, yakni Sembiring, Perangin-angin, Ginting, Karo-Karo, dan Tarigan, menari bersama secara bergiliran. Suara riuh rendah layaknya pelampiasan dari sebuah kerinduan yang terpendam sejak lama memenuhi gedung olahraga yang terletak di Jalan A. Damyati, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Sabtu malam (04/06). Mereka mengenakan baju adat lengkap dengan hiasan kepala bagi para wanita dan selembar ulos merah diselempangkan di bahu bagi kaum lelaki.
Acara malam seni dan budaya Karo yang diselenggarakan oleh perpulungen (perkumpulan) warga Batak Karo Kota Tangerang pada malam itu dihadiri oleh masyarakat Karo, baik yang sudah merantau puluhan tahun maupun kaum muda Karo yang masih berstatus mahasiswa dan relatif belum terlalu lama meninggalkan tanah Batak.
Pemuka masyarakat Karo sekaligus Bupati Tanah Karo, Suka Ukur Surbakti, hadir dalam acara ini. Selain itu, panitia juga mengundang tamu kehormatan, khususnya pejabat pemerintah setempat, di antaranya Harry Mulya Zein, Sekretaris Daerah Kota Tangerang yang mewakili Walikota Tangerang Wahidin Halim, dan Ketua DPRD Kota Tangerang Herry Rumawatine. Kepada keduanya disematkan masing-masing selembar ulos sebagai tanda hormat dan persaudaraan. Sesaat kemudian, kedua tamu kehormatan ini meneriakkan sapaan hangat khas masyarakat Karo yang langsung disambut dengan serempak oleh seluruh hadirin.
Perhelatan ini merupakan sebuah upaya melestarikan budaya Karo di luar tanah leluhurnya, di samping juga untuk memperkenalkannya kepada masyarakat Banten dan sekitarnya. Hampir di sepanjang acara, lagu-lagu khas Batak Karo terus dilantunkan oleh sejumlah artis asal Karo, seperti Tio Fanta dan Santa Hoqi Pinem. Beberapa tarian juga turut menyemarakkan acara, salah satunya adalah Tari Lima Serangkai, sebuah tarian bertema jalinan cinta yang ditarikan oleh 5 pasang muda-mudi Karo.
Melihat sambutan masyarakat Karo di Banten sedemikian tinggi, acara ini dimungkinkan akan dihelat setiap tahun. Di samping sebagai bentuk pelestarian adat, juga dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi, baik antar masyarakat Karo maupun dengan masyarakat Banten secara luas. Sudah barangtentu acara ini berfungsi sebagai apa yang mereka sebut mburo ate tedeh atau “melepas rindu pada kampung halaman”. Rindu alam dan budaya Tanah Karo, sebuah kawasan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Sinabung, Bukit Barisan, Sumatra Utara.