You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
19 juli 2011 06:36
Seribu Kemilau Budaya di Bumi Borneo
Teater Mamanda dari Banjarbaru
Yogyakarta, Melayuonline – Dalam rangka menyambut dan memeriahkan hari jadi ke-61 Provinsi Kalimantan Selatan yang jatuh pada tanggal 14 Agustus, telah digelar Kemilau Banua Seribu Sungai (PKBSS) 2011 pada 7-16 Juli 2011. Perhelatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kalimantan Selatan ini bertujuan melestarikan predikat Banjarmasin sebagai "Kota Seribu Sungai" di bumi Borneo, dengan melibatkan peserta dari seluruh Kabupaten/Kota se-Kalsel. Acara ini dipusatkan di Taman Budaya Kalsel dengan membuat panggung terbuka dan di Gedung Pertunjukan Balairungsari, Banjarmasin.
Selama 10 hari berturut-turut, berbagai pertunjukan seni, budaya, sastra, dan aneka lomba yang telah diagendakan berjalan dengan meriah. Berbagai agenda itu antara lain: festival tari daerah se-Kalsel yang meliputi tari tradisional dan tari kreasi baru, wayang kulit Banjar dengan menampilkan dalang cilik, dan prosesi adat perkawinan Banjar. Beragam musik juga ditampilkan, di antaranya: gelar lagu-lagu Banjar, musik dan lagu islami, musik perkusi Banjarmasin, musik jazz, musik anak jalanan, dan musik legendaris. Gelar sastra juga mewarnai perhelatan ini, seperti monolog seniman Banjar, pembacaan puisi berantai, opera gema tarbang versi Banjar, teater mamanda, dan teater topeng. Sedangkan aneka lomba yang digelar adalah lomba merangkai payung kembang, maulah topi turun, dan bakisah bahasa Banjar.
Selain itu, digelar pula pameran lukisan dengan menampilkan 21 karya pelukis ternama Indonesia koleksi Galeri Nasional Indonesia, seperti lukisan berjudul "Kakak dan Adik" (1978) karya Basuki Abdullah, "Pertemoean" (1947) karya Otto Djaja, dan "Tjap Go Meh" (1940) karya S. Sudjono. Disertakan juga dalam pameran ini puluhan karya lukis perupa anak daerah sendiri, di antaranya karya Ardian Kanadi, Ahmad Taufik, dan Aswin Noor.
Selain meriah, pergelaran ini juga sarat dengan pesan-pesan untuk tetap menjaga kebersihan dan keindahan sungai agar masyarakat tetap bisa mengambil manfaat dari keberadaan sungai. Selama ini, bantaran sungai sudah mulai dijadikan tempat pembuangan sampah dan disalahgunakan oleh sebagian warga sehingga citra “Kota Seribu Sungai” yang indah itu tercemar oleh perbuatan yang tidak terpuji. “Untuk mengembalikan seribu kemilau sungai ini perlu peran serta masyarakat, terutama yang tinggal di daerah bantaran, dengan menjaga kebersihan dan memanfaatkannya sebagaimana mestinya,” pesan Noor Hidayat Sultan, Kepala Unit Pelaksana Teknis Taman Budaya Kalimantan Selatan.