You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
27 agustus 2011 10:08
Meriam Melayu Iringi Dentum Takbir Lebaran
Melayuonline – Keunikan tradisi warga Melayu Pontianak, Kalimantan Barat, khususnya yang tinggal di sepanjang bantaran sungai Kapuas, dalam menyambut hari raya Idul Fitri sebentar kagi akan dihelat. Tepat di malam lebaran, tanggal 29 Agustus 2011, Pemerintah Kota Pontianak akan menggelar Festival Meriam Karbit dengan mengusung ratusan meriam berbagai ukuran buatan warga setempat yang dipusatkan di tepian kiri kanan sungai Kapuas di wilayah Jl. Imam Bonjol, Gg. Garuda, Kota pontianak.
Membunyikan meriam karbit merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat Melayu di Pontianak, yaitu sejak zaman Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ketika membuka lahan untuk bertempat tinggal dan mendirikan kerajaan di Pontianak pada tahun 1771 Masehi.
Tradisi ini diikuti oleh masyarakat melayu dengan setiap Ramadhan tiba selalu membunyikannya untuk menyambut Maghrib tiba saat berbuka puasa. Belakangan Pemerintah merasa perlu untuk membatasi kebiasaan ini hanya pada 3 hari sebelum dan sesudah hari raya Idul Fitri. Bahkan dua tahun belakangan ini hanya diperbolehkan pada saat malam takbiran sampai 3 hari berikutnya. Sebagai kompensasinya, pemerintah mengadakan festival Meriam Karbit ini untuk mengobati kekecewaan masyarakat sekaligus dikemas sedemikian rupa hingga menjadi daya tarik wisata religius Kota pontianak.
Event yang tiada duanya di dunia ini dari tahun ke tahun semakin meriah dan diminati oleh banyak wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Tahun lalu, ribuan orang memadati tepian Sungai Kapuas untuk menyaksikan sumber dentuman keras yang terdengar hingga radius 3-5 km ini. Kata beberapa pengunjung, sekalipun dari jauh sudah bisa terdengar jelas, tetapi melihat sendiri secara langsung dan mendengar dari dekat melahirkan sensasi tersendiri yang luar biasa. Meriam yang sebagian besar terbuat dari gelondongan kayu dan dihias indah ini berdiameter antara 50-90 cm dengan panjang antara 4 hingga 8 meter.
Peserta yang mengikuti festival ini adalah kelompok masyarakat Kota Pontianak dari berbagai kalangan yang mewakili RT, gang jalan, atau gabungan dari keduanya, dan kelompok-kelompok lain. Setiap kelompok beranggotakan 15-30 orang. Sekalipun biaya pembuatan meriam mencapai jutaan rupiah, tetapi peserta festival ini justru semakin meningkat. “Pembuatan sebuah meriam karbit, apalagi untuk festival, biasanya memerlukan biaya antara Rp10 juta sampai Rp20 juta,” kata Badrun yang selalu mengikuti kegiatan ini setiap tahunnya.
Kriteria penilaian dalam festival ini meliputi bentuk meriam, perlengkapan pendukung, dan busana yang dikenakan oleh peserta. Panitia menyiapkan hadiah jutaan rupiah dengan rincian juara I mendapatkanRp5 juta, Juara II berhak atas Rp3 juta, dan Juara III mendapatkan Rp2 juta. Di samping itu disediakan pula Piala Walikota berbentuk meriam. (Agus Najib/Brt/08/27-2011)