Tuesday, 5 May 2026 |Tuesday, 18 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 1.046
Today
:
25.144
Yesterday
:
26.680
Last week
:
192.091
Last month
:
15.288.374
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
28 november 2012 08:43
Genta Budaya tak Terurus
Salah satu kegiatan di gedung Genta Budaya
Padang, Sumbar - Gedung Genta Budaya, sekaligus Kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar di Jalan Diponegoro, Padang, tak terawat. Bahkan, sejak Senin (26/11), listrik di gedung milik Yayasan Abdullah Kamil itu sudah diputus PLN, karena menunggak selama enam bulan.
Di halaman gedung, rumput tampak meninggi, sampah berserakan. Sepintas gedung itu seperti tak bertuan. Lampu-lampu tidak terpasang lagi, kaca pintu ditutupi debu tebal.
Di dalam gedung lebih parah lagi. Suasananya seperti bangunan tua tak berpenghuni. Debu tebal di lantai, cat dinding memudar. Prasasti peresmian gedung oleh mantan Presiden RI Soeharto, pada tahun 1992, sudah memudar.
Sekretariat LKAAM Sumbar, LKAAM Padang, dan Bundo Kanduang juga tampak tak terawat.
Fasilitas dan aset gedung juga tak terurus. Kemarin, ada pertemuan antara LKAAM Sumbar dengan tokoh adat dari Kabupaten Pasaman Barat. Ketika pengurus LKAAM akan bicara, ternyata mikrofon tidak bisa digunakan, karena listrik sudah diputus sejak Senin (26/11).
Pantauan Padang Ekspres, gedung ini masih kokoh dan memiliki konstruksi yang kuat. Walau dihoyak gempa 30 September 2009, tidak ada tonggak yang rusak. Namun, ketika kita lihat lantai dua, kita akan lihat suasana yang memiriskan.
Betapa tidak, gedung yang pernah menjadi tempat deklarasi Gamawan Fauzi dan Marlis Rahman pada tahun 2005 itu, seperti tidak pernah dihuni lagi. Tangganya saja sudah sangat kotor, apalagi kondisi lantai dan perabotan yang ada di lantai dua.
Di sana ada gedung pertunjukan dan gedung pameran. Sayangnya, yang ada hanya kursi berserakan dan dionggok di sudut ruangan. Bungkus nasi dan rokok berserakan di sana.
Wakil Ketua Bidang Organisasi LKAAM Sumbar, Yayaspar Datuk Paduko Amat mengatakan, sekretariat LKAAM ini sangat layak dipakai. “Kita memang sedang berupaya untuk mendapatkan kantor sekretariat sendiri, karena sampai sekarang kita masih menumpang,” sebutnya, kemarin siang (27/11).
Sudahlah tak ada lampu, kamar mandi juga tidak ada air. Untuk shalat saja harus keluar dari gedung mencari air untuk wudu. “Di daerah lain, organisasi adat sangat dihargai, diberi fasilitas yang baik. Sementara LKAAM Sumbar seperti terbuang saja. Kalau tidak ada pengakuan seperti ini, lebih baik LKAAM ini dibubarkan saja,” ujarnya.
Dia menceritakan, gedung Genta Budaya didirikan untuk menjadi tempat kegiatan budaya. LKAAM ditumpangkan di sana karena LKAAM dianggap masih bergerak di bidang budaya. “Di sini, ada ruang pertunjukan dan pameran. Tapi tak pernah dipakai. Kegiatan kebudayaan justru dilaksanakan di depan (Taman Budaya, red),” jelasnya.
Pegawai Sekretariat LKAAM, Yani mengatakan, listrik sudah dua kali diputus PLN. Pertama pada tahun 2009 lalu, sekarang listrik diputus PLN hari Senin (26/11). Diungkapkannya, sebelumnya ada perjanjian antara LKAAM dengan pengurus Yayasan Adulah Kamil untuk membayar listrik. LKAAM membayar sebanyak 25 persen kemudian LKAAM Padang dan Bundo Kandung membayar masing-masing 15 persen. Sementara 50 persen dibayar Yayasan. Ternyata sejak tahun 2009 lalu listrik dibayar oleh LKAAM sebanyak 75 persen. “Sekarang, karena Bundo Kanduang sedang tak ada uang, terpaksa kita tahan dulu situasi seperti ini,” ulasnya.
Ketika hendak dikonfirmasi wartawan, Sekretaris Yayasan Abdullah Kamil, Edi Utama, mengaku tidak bisa menjawab. “Silahkan saja tanya pada ketua Yayasan, pak Zuiyen Rais,” jawabnya singkat.