Wednesday, 10 June 2026 |Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today
:
2.113
Yesterday
:
58.870
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
22 sepember 2007 05:36
Gowa-Mataram Punya Pertautan Sejarah
Gowa- Sebagai salah satu peletak sejarah berlegendaris, Kabupaten Gowa rupanya menyimpan pertautan dengan Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak heran kalau kedatangan orang nomor satu di Gowa, H Ichsan Yasin Limpo yang menerima Anugerah Aksara Utama itu, seperti merajut ulang sejarah masa silam. Berikut penuturan terakhir Kepala Kantor Infokom Gowa, H Zainuddin Kaiyum tentang keberhasilan bupatinya tersebut.
Gowa memang menyimpan sejarah yang cukup panjang dan berliku. Karena itu, tak bisa dipungkiri jika kebesaran nama Raja Gowa XIV atau populis dengan julukan “ayam jantan dari timur” (Het Hantjes van Oosten) ternyata masih dikenal di Mataram.
Bahkan sebutan untuk lapangan `Sangkareang` yang ditempati perhelatan penganugerahan aksara hari itu, konon asal kata dari `Sang-karaeng`(artinya, merujuk pada nama seorang raja dari Makassar, red), ujar Abdul Malik, pengusaha asal Bugis yang juga hadir di acara tersebut.
Barangkali yang dimaksud `sangkaraeng` tak lain dari nama Sultan Hasanuddin yang dalam lintas sejarah pernah menjelajah hingga ke Mataram, Sumbawa, dan Bima. Pastinya, perubahan nama alun-alun jadi `Sangkareang` menurut Abd Malik, sangat tidak diketahuinya.
Yang dia tahu jika lokasi Sangkareang dan sekitarnya, ibarat disulap beberapa bulan lalu untuk mendukung maraknya perhelatan yang dihadiri Wakil Presiden (Wapres) HM Jusuf Kalla tersebut.
“Sedikitnya menelan biaya hingga `satu setengah miliar` termasuk pembangunan tribun, jalan protokol dan ongkos sekitar 2.500 personel pengamanan tamu negara. Maklum acara itu sedianya dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tamu negara lainnya,” ungkap Abd Malik.
Menurut Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Nasional (Diknas) Gowa, Idris Faisal Kadir yang turut mendampingi Ichsan, jika kehadirannya merupakan kali ketiga pada momentum sama. Namun di level yang berbeda menerima penghargaan keaksaraan.
Sejak kepemimpinan Ichsan Yasin Limpo 2005 lalu, dia telah mendapat kehormatan memperoleh `Aksara Pratama` bersama 16 bupati dan walikota se-Indonesia di kota Solo, Jawa tengah.
Berikutnya pada 2006 bersama enam bupati/walikota, Ichsan diundang Depdiknas lagi untuk hadir di Probolinggo, Jawa Timur dengan pemberian penghargaan Anugerah Aksara Madya, dan terakhir di Mataram.
Di kota Lombok itu, menurut Idris hanya tiga bupati yang menerima penghargaan Anugerah Aksaran Utama masing-masing Bupati Bondowoso, Dr H Mashoed M.Si, Bupati Karanganyer, Hj Rina Iriani Ratnaningsih S.Pd, M.Hum, dan Bupati Gowa, H Ichsan Yasin Limpo SH sekaligus mewakili Sulsel da, Indonesia Timur.
“Sungguh ironi memang. Di era informasi dan globalisasi kini masih saja banyak kelompok masyarakat yang masih menyandang buta aksara alias tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung,” ujar Ichsan singkat menyinggung soal keseriusannya memerangi penyakit buta aksara tersebut.
Sumber : www.fajar.co.id Kredit foto : www.samarinda.go.id