Friday, 12 June 2026   |   Friday, 26 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 172
Today : 8.034
Yesterday : 20.067
Last week : 227.151
Last month : 9.252.016
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

29 sepember 2007 04:30

Malam Lailatul Qadar Diperingati di Atambua

Malam Lailatul Qadar Diperingati di Atambua

Atambua- Malam turunnya ayat-ayat suci Al-Qur`an ke dunia atau malam Lailatul Qadar diperingati secara sederhana namun khidmat oleh kalangan Muslim di Kota Atambua, Kabupaten Belu, NTT, Jum`at malam.

Di antara renungan yang disampaikan para penceramah adalah perang suci melawan kebatilan yang dimenangkan Allah SWT kepada umat-Nya yang mau berperang atas asma-Nya.

Salah satu tempat di mana malam suci itu diperingati adalah di Markas Komando Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-Timor Timur Markas Besar TNI (STPPIT Markas Besar TNI), yang dipimpin oleh tokoh Muslim Atambua, Haji Kamali.

"Allah SWT pasti memberikan kemenangan kepada umat-Nya yang memutuskan berperang bagi-Nya semata. Perlindungan hanya dari Dia, termasuk bagi kita yang kini hidup sekitar 15 abad setelah perang suci itu terjadi di Tanah Suci," katanya.

Hadir dalam peringatan yang difasilitasi oleh STPPIT Markas Besar TNI, Komandan STPPIT Markas Besar TNI, Letnan Kolonel Infantri Hotman Hutahaean, Komandan Batalion Infantri 744/SYB, Mayor Infantri Yunianto, sejumlah besar kalangan Muslim Atambua, dan anak-anak yatim piatu. Mereka tekun mendengarkan penjelasan dan siraman rohani yang diberikan Kamali.

Kamali mengisahkan, "Sebagai umat yang sedang berpuasa sebagai landasan imaniah kita, selayaknya kita menjalankan ibadah puasa ini seolah-olah ini adalah puasa kita yang terakhir di dunia. Bersikaplah bahwa Allah SWT sebentar lagi akan memanggil kita selamanya sehingga memberikan peringatan agar kita selalu siap menerima panggilan itu."

Dalam berpuasa kali ini, terutama saat memperingati penurunan ayat-ayat suci Al-Qur`an pada malam Lailatul Qadar, katanya, seorang umat selayaknya menempatkan diri di antara empat penjuru. Keempat penjuru itu, katanya, adalah pintu menuju surga dan neraka di sisi kanan dan kiri, Allah SWT di depan, sekaligus malaikat pencabut nyawa di belakang.

"Kalau kita mengingat itu semua, maka insya Allah jalan kita akan selamanya lapang. Allah SWT sendiri telah memberikan rambu-rambu tentang cara kita menjalin hubungan dengan sesama dan Diri-Nya sendiri. Berpuasa, berzakat, bersedekah, dan lain sebagainya adalah beberapa rambu kewajiban yang diberikan-Nya kepada kita, umat-Nya sekalian," katanya.

Dalam peringatan malam suci itu, sebelumnya dilaksanakan acara berbuka puasa bersama yang dilanjutkan shalat tarawih berjamaah. Dalam kesempatan itu Hutahaean juga memberikan santunan sederhana kepada puluhan anak yatim piatu yang diundang hadir bersama para pengasuhnya.

Sumber : www.republika.co.id
Kredit foto :
quran.al-islam.com


Read : 3.284 time(s).

Write your comment !