Saturday, 15 August 2026 |Saturday, 1 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 1.683
Today
:
29.345
Yesterday
:
28.186
Last week
:
179.363
Last month
:
11.454.048
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
24 oktober 2013 01:39
Meriahnya Kirab Pernikahan Agung GKR Hayu dan KPH Notonegoro
GKR Hayu dan KPH Notonegoro naik kereta (Foto: Tunggul Tauladan)
Yogyakarta, Jogjatrip.com--Waktu masih menunjukkan pukul07.00 WIB, tetapi ribuan orang sudah memadati Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sampai Kepatihan. Mereka dengan sabar menunggu kirab Pernikahan Agung Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Hayu dan KPH Notonegoro yang digelar Rabu (23/10) mulai pukul 09.00 WIB. Ratusan elemen masyarakat dan petugas kepolisian terlihat bekerja keras untuk mengamankan jalan yang akan dilalui sepanjang kirab.
Iring-iringan Kirab Pernikahan Agung GKR Hayu dan KPH Notonegoro pagi itu memukau masyarakat yang menyaksikan langsung di lokasi acara maupun dari siaran langsung televisi lokal dan nasional. Penampilan iring-iringan prajurit dan kereta koleksi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam kirab ini merupakan prosesi yang langka dan jadi daya tarik wisatawan asing yang sedang berkunjung ke Yogyakarta.
Kirab tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, pasangan GKR Hayu dan KPH Notonegoro menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat berangkat pertama kali dari halaman Magangan yang diikuti oleh orang tua KPH Notonegoro, yaitu Kol. Kaveleri (Purn.) Sigim Mahmud dan RA. Nusye Retnowati. Kemudian rombongan kedua Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Wimono Putro. Kereta ini dilengkapi dengan songsong Tunggulmanik yang merupakan payung sebagai simbol penyebar semangat prajurit ketika perang pada masa lampau.
Sepanjang rute kirab dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga kompleks Kepatihan, masyarakat nampak atusias menunggu iring-iringan kirab lewat. Panas matahari yang menyengat tidak mengurangi antusias warga melihat iring-iringan kirab. Bahkan masyarakat luar Yogyakarta dan wisatawan asing yang sedang berlibur, menikmati peristiwa budaya ini dengan mengabadikan melalui kamera foto atau handycam.
Kirab Pernikahan Agung GKR Hayu dan KPH Notonegoro inimerupakan simbolisasi “manunggaling kawula gusti” yang berarti menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia. Dimana ketika pimpinan bersatu dengan rakyat, pasti akan ada kemakmuran dan ketenteraman.
Kirab ini berakhir di Bangsal Kepatihan. Di tempat ini dihelat acara resepsi. Dalam resepsi di Bangsal Kepatihan, pasangan pengantin dan para tamu undangan disuguhi Tari Bedoyo Manten karya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Bedoyo Manten yang diperankan oleh 6 orang wanita ini, menggambarkan suka ria remaja yang menginjak dewasa dan akan menikah. Selain itu juga ditampilkan Tari Beksan Lawung Ageng ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tarian yang dibawakan oleh 12 penari putra ini menggambarkan jiwa patriotisme dengan simbol prajurit keraton yang sedang berlatih perang. “Jarang dua tarian ini ditampilkan dimuka publik kalau tidak ada peristiwa seperti ini,” kata Bondan Nusantara yang hadir pada resepsi itu. *** (Teguh R. Asmara)