Sunday, 6 September 2026 |Sunday, 23 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 77
Today
:
6.720
Yesterday
:
26.946
Last week
:
32.264.566
Last month
:
43.463.948
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
19 desember 2013 16:50
Berbangsa Sebagai Politik Hidup Bersama
Sumbangan Raja Ali Haji untuk Bangsa Indonesia
Prof. Dr. Emiratus Musa Hasim
Batam, melayuonline.com - Pemerintah Kota Batam bekerjasama dengan Yayasan Karyawan Malaysia, sebuah lembaga manuskrip kuno di Malaysia, menyelenggarakan seminar sehari “Peranan Raja Ali Haji memartabatkan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia,” Selasa, 17 Desember 2013, bertempat di Planet Holiday Hotel & Residence Batam.
Seminar yang di moderatori oleh Drs. Zamzani A. Karim, MA dari Tanjung Pinang tersebut menghadirkan pembicara para pakar sejarah, budaya, dan politik Melayu dari Indonesia dan Malaysia, yaitu Dr. Chusnul Mar’iyah dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Emiratus Musa Hasim dari University Putra Malaysia, Prof. Madya Samat Musa dari University Malaya, dan Ahmad Salehudin dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, yang sekaligus Pemimpin Redaksi www.rajaalihaji.com.
Walikota Batam Drs. Ahmad Dahlan saat memberikan sambutan sebagai pembuka seminar mengatakan bahwa pelaksanaan seminar bertujuan tidak saja untuk mengenang Raja Ali Haji, tetapi untuk meneladani jasa Raja Ali Haji untuk bangsa Indonesia, khususnya dalam memartabatkan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia.
Apa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji tersebut, lanjut Dahlan, saat ini banyak dilupakan orang. Kita prihatin, kenapa Raja Ali Haji yang lahir di Penyengat, berkarya di Penyengat, dan meninggal di Penyengat karya-karyanya dicetak di negara lain. Namun kita tetap bangga artinya peran Raja Ali Haji terhadap peradaban manusia, utamanya dalam bidang kesusasteraan dan nilai-nilai agama, akan dibaca oleh seluruh dunia. “Saya telah menginstruksikan agar seluruh SKPD Kota Batam, para kepala sekolah, para guru sejarah, dan guru bahasa Indonesia untuk mengikuti seminar ini,” kata Dahlan diiringi tepuk tangan peserta seminar yang berjumlah sekitar 300 orang tersebut.
Prof. Dr. Emiratus Musa Hasim dari University Putra Malaysia dalam makalahnya memaparkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Kitab Pengetahuan Bahasa dan Bustan al Katibin. Menurut Prof. Musa, setelah mengkaji kedua kitab tersebut, bahasa bagi Raja Ali Haji adalah untuk makrifatullah, yaitu mengenal Allah.
Lebih lanjut, Prof Musa menjelaskan, kedua kitab tersebut mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi orang yang teguh iman, meneladani sikap Rasulullah, hormat dan berbuat baik kepada orang tua, menyayangi anak-anak, dan bersikap baik terhadap semua mahluk. Termasuk di dalamnya etika dalam proses belajar mengajar. “Seorang murid tidak boleh menyanggah perkataan gurunya, agar ilmunya barokah. Seorang guru harus bersikap lemah lembut, agar muridnya patuh,” ungkapnya.
Para pembicara seminar berfoto bersama sebelum acara dimulai
Sedangkan Dr. Chusnul Mar’iyah dari Universitas Indonesia lebih menekankan pentingnya pemikiran Raja Ali Haji tersebut diaktualisasikan, khususnya yang terkait dengan etika politik. Menurutnya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemikiran Raja Ali Haji yang tertuang dalam karya-karyanya sangat luar biasa seandainya kita mau mengikutinya.
Dalam guridam dua belas, lanjutnya, Raja Ali Haji menulis, “Hukum adil atas rakyat, Tanda raja beroleh inayat,” dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang raja harus adil. Untuk menjadi adil seorang raja (pemimpin) harus selalu ingat bahwa kelak dia akan dimintai pertanggungjawabannya. “Akhirat itu terlalu nyata, Kepada hati yang tidak buta,” pungkas Chusnul mengutip Gurindam Dua Belas pasal kedua belas, bait terakhir.
Ahmad Salehudin dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, yang sekaligus Pemimpin Redaksi www.rajaalihaji.com menjelaskan tentang peran penting Raja Ali Haji dalam kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, bahasa Melayu yang dirawat oleh Raja Ali Haji telah mentriggermemunculkan imagi tentang negara Indonesia yang merdeka. Hal ini dapat dilihat dari fenomena Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang mengikrarkan diri untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu bahasa Indonesia.
Para pemuda dari berbagai etnis di nusantara, lanjut Salehudin, dapat memiliki visi-misi bersama tentang Indonesia yang merdeka, karena mereka memiliki bahasa yang dapat dipahami bersama, yaitu bahasa yang di rawat oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawannya di Pulau Penyengat.
Bahasa Melayu, yang dirawat oleh Raja Ali Haji berhasil memunculkan keinginan hidup bersama sebagai sebuah bangsa. Kesadaran berbangsa yang dihasilkan berbeda dari konsep yang ditawarkan oleh Benedict Anderson yang meletakkan bangsa dalam koridor politik identitas. “Raja Ali Haji menawarkan konsep berbangsa sebagai politik hidup bersama,” ungkap dosen Antropologi Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.