Saturday, 13 June 2026 |Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 524
Today
:
11.246
Yesterday
:
18.252
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
27 oktober 2014 10:42
Dialog Budaya Kembali Digelar di BKPBM.
Yogyakarta - Sekumpulan seniman dan aktivis budaya menggelar dialog budaya dalam menilik perkembangan budaya di masa depan. Dialog yang bertema ‘Borobudur Inspirasi Peradaban untuk Membangun Bangsa Cinta Damai Berbudaya dan Berdaulat’ dihadiri Prof. Dr. Baiquni, Sri Eka Sapta Wijaya, Habib Chirzin, Mahyudin Al Mudra, SH.MM., selaku ketua Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dan sejumlah aktivis seni dan budaya di (BKPBM) Minggu (26/10).
Dialog ini menitik beratkan pertahanan budaya dan wisata secara nasional maupun internasional dan perkembangan salah satu wisata budaya candi Borobudur. Borobudur dikenal sebagai warisan peradaban dunia yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, ternyata masih sangat memerlukan perhatian khusus dalam mempertahankan nilai budaya demi masa depan wisata Indonesia. “Kita harus membangun masa depan Borobudur bersama-sama karena Borobudur bukan hanya sebagai culture heritage tetapi juga human heritage”, kata Habib Chirzin dalam sambutannya sebagai moderator dalam dialog ini.
Sebelumnya dialog ini pernah digelar di daerah candi Borobudur dan ini merupakan dialog kedua. “Dalam dialog kedua ini diharapkan akan memberikan konstribusi besar pada perkembangan wisata candi Borobudur” papar ketua BKPBM. Borobudur bukan sekedar wisata budaya yang dijaga eksistensi sebagai sarana hiburan akan tetapi pemahaman Borobudur sebagai wisata religi, sehingga dapat menjaga nilai luhur yang terkandung di dalamnya.Di samping itu peranan seniman dan budayawan sebagai pemerhati sangat dibutuhkan dan kembali memahami keberadaan candi Borobudur. Prof. Dr. Baiquni menegaskan “Ilmu pengetahuan mengangkat Borobudur ke dunia”, dalam sambutannya beliau mengingatkan fungsi Ilmu pengetahuan berperan dalam persoalan yang sedang dihadapi tersebut. Tanpa Ilmu pengetahuan mungkin Borobudur tidak pernah ada di mata dunia.
Selain itu pendekatan pasrtisipatif dalam pembangunan memerlukan waktu yang panjang, disiplin, kerja keras dan menempuh jalan yang berliku. Melihat posisi Indonesia yang geostrategi di Benua Asia dan Australia, Indonesia perlu mengembangkan strategi pembangunan. Partisipasai semua kalangan memungkinkan adanya harapan, perhatian dan perubahan menuju kearah yang lebih baik. *(Juni Mahsusi).