Saturday, 13 June 2026 |Saturday, 27 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 583
Today
:
10.614
Yesterday
:
18.252
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
31 oktober 2014 07:12
Peneliti Budaya Bugis-Makassar: Uang Panai Sering Berujung Silarian
Makassarm Sulsel - Peneliti Budaya Bugis-Makassar, Drs Andi Ahmad Saransi mengungkapkan budaya uang panai (mahar) di Kebudayaan Bugis-Makassar sering berujung silarian (kawin lari) karena tak adanya restu.
“Memang pada zaman dulu seseorang ditolak karena bukan bangsawan dan keluarga parakang (manusia jadian-jadian), tapi dengan berkembangnya zaman uang panai itu bisa diakali dengan cara bugus Irita mEnrE' tenrita no (dilihat naik tidak dilihat turun)," ungkapmya Rabu (30/10).
Maksudnya, lanjut Ahmad, uang belanja disaksikan dibawa ,tapi tidak dilihat dibelanjakan.
"Bisa saja uang lelaki tak cukup ditambahkan oleh mempelai perempuan, jika ingin menyatukan kedua calon mempelai,” kata Kabid Pembinaan dan Layanan Informasi Kearsipan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Prov Sulsel ini.
Ahmad pun mengungkapkan, biasanya jika seseorang tidak diterima dengan alasan uang panai, itu sebenarnya merupakan alasan untuk tidak menerima pelamar.
“Banyak kasus yang terjadi dengan menolak lamaran dengan cara memasang panai yang tinggi, sehingga banyak kasus silarian terjadi,” katanya.