Tuesday, 19 May 2026   |   Tuesday, 2 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 2.332
Today : 24.380
Yesterday : 19.896
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

11 oktober 2007 01:46

Gus Choi Raih Gelar Doktor di Malaysia

Gus Choi Raih Gelar Doktor di Malaysia
Universitas Malaya, Malaysia

Jakarta- Di tengah memanasnya hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia, Ketua Fraksi PKB DPR, Effendy Choirie, akhirnya memperoleh gelar doktor dari Universitas Malaya setelah hampir empat tahun melanjutkan studi doktoral di negeri itu.

Effendy Choirie yang biasa disapa Gus Choi, di Jakarta, Selasa, menjelaskan desertasi yang berhasil dipertahankan berjudul "Islam Nasionalisme; Kajian Perbandingan Mengenai Perjuangan Politik UMNO (United Malays National Organization) dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)" di Universitas Malaya (UM) Kuala Lumpur.

Dalam proses pengujian yang berlangsung sekitar satu jam, politisi PKB asal Gresik, Jawa Timur, tersebut dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Phd.

Effendy Choirie memulai studinya pada Fakultas Sastra dan Sains Sosial, Jurusan Antropologi dan Sosiologi, tahun 2003. Kesibukannya di dunia politik kepartaian dan parlemen mengharuskan dirinya membagi waktu antara karir politik dan akademis.

Proses penulisan desertasi dilakukan sejak terdaftar menjadi mahasiswa UM. Pada Februari 2007, anggota Komisi I DPR tersebut mendapat kesempatan untuk menguji hasil penelitianya dalam sidang terbuka.

"Tidak seperti di Indonesia, sidang uji disertasi biasanya dilakukan secara tertutup dulu kemudian baru terbuka. Di Malaysia sebaliknya," katanya.

Setelah sembilan bulan menunggu, akhirnya ia mendapat kesempatan untuk mengikuti ujian tahap akhir. Ujian berlangsung di Kampus Universitas Malaya. Gus Choi harus menghadapi lima penguji untuk mempertahankan desertasinya.

Kelima penguji tersebut adalah Ahli Antropologi dari Universitas Kebangsaan Malaysia Prof Dato‘ Dr Shamsul Amri Baharuddin, Dr Joseph Milton Fernando (Jabatan Sejarah Universiti Malaya), Prof Madya Dr Jao Laile Suzane Jaafar (Jabatan Antropologi/Sosiologi UM), Prof Dato‘ Dr Azizan Abu Samah (Timbangan Dekan Ijazah Tinggi), Prof Dr Hamzah Abdul Rahman (Dekan Fakulti Alam Bina).

Dalam pemaparannya di depan penguji, salah satu Ketua DPP PKB ini mematahkan anggapan sejumlah ahli politik yang menyamakan perjuangan politik UMNO dengan Partai Golkar di Indonesia. Keduanya merupakan partai penguasa (rulling party), baik di pemerintahan dan di parlemen sejak keduanya didirikan.

"Padahal tidak semuanya benar. Bahkan sebenarnya UMNO lebih dekat (persamaannya) dengan PKB," kata Gus Choi.

Kedekatan hubungan persamaan antara dua kekuatan politik tersebut ditunjukkan dengan perjuangan secara ideologi dan paradigmatik, yakni UMNO dan PKB sama-sama partai berazas nasionalis religius.

Menurut Effendy, ada tiga paradigma hubungan agama dan negara. Pertama, integralistik dimana Islam adalah agama dan negara. Kedua, simbiotik. Dalam paradigma ini Islam dan negara adalah berbeda tetapi saling memerlukan. Ketiga adalah paradigma sekularistik, dimana Islam tidak mempunyai konsep tentang sesuatu bentuk negara.

"Dalam desertasi saya, saya sebutkan UMNO dan PKB sama-sama mengembangkan paradigma simbiotik," kata lulusan Master Hukum dari Universitas Padjajaran tersebut.

Desertasi setebal 382 halaman tersebut juga menyebut bahwa UMNO dan PKB sama-sama berasal dari komunitas Islam yang menyebut dirinya penganut Islam Ahlus Sunnah Waljama‘ah.

"Karena itu keduanya patut dibandingkan bukan hanya karena tradisi politiknya, tetapi juga karena keduanya berasal dari khasanah Islam Sunni, mazhab dalam Islam yang dianut oleh mayoritas Muslim di Asia Tenggara," katanya.

Menanggapi hasil penelitian ini, Prof Dato‘ Dr Shamsul Amri Baharuddin mengatakan bahwa hingga saat ini penelitian tentang perbandingan Malaysia dan Indonesia masih sangat langka. Karena itu, tak banyak akademisi yang di Indonesia yang menjadi ahli Malaysia atau sebaliknya.

"Selama ini mahasiswa saya dari Indonesia meneliti tentang Malaysia saja. Atau mahasiswa dari Malaysia meneliti Indonesia saja tanpa pernah membandingkannya," katanya.

Karena itu, Shamsul meminta Effendy Choirie untuk membukukan desertasinya. Dia berharap dengan terbitnya buku itu akan muncul respon dan kritik dari akademisi lainnya yang mungkin membantah hasil penelitian tersebut. Dengan demikian, diskursus mengenai perbandingan Malaysia dan Indonesia bisa terus berkembang.

"Kalau ada yang membantah desertasi ini, silahkan saja tulis sendiri. Nanti kita lihat hasilnya bagaimana," kata Shamsul.

Prof Dato‘ Dr Azizan Abu Samah menyatakan desertasi yang disusun Effendy Choirie mempunyai nilai tinggi dalam segi originalitas. Dia berharap desertasi ini langsung dialih bahasakan ke Bahasa Inggris, karena dalam penelitian tersebut tergambar sebuah konsep "Negara Islam" yang bisa menjadi acuan global bagi akademisi Eropa dan Asia.

Sumber : www.lampungpost.com
Kredit foto : www.acehinstitute.org


Read : 1.779 time(s).

Write your comment !