Thursday, 30 July 2026 |Thursday, 14 Shafar 1448 H
Online Visitors : 1.716
Today
:
25.569
Yesterday
:
31.235
Last week
:
172.115
Last month
:
7.211.288
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
06 januari 2015 07:46
Ahmad Salehudin: Budaya Bahari Tradisi Genuine Kerajaan Nusantara
Relief kapal yang terdapat pada candi Borobudur.
Yogyakarta - Wacana Presiden Joko Widodo menjadikan laut sebagai poros transportasi melalu program “tol laut” bisa merujuk pada tradisi yang dikembangkan oleh raja-raja kerajaan Nusantara pasa masa lalu. Indikasi budaya bahari yang mengutakan transportasi laut tersebut bisa dirunut dari tradisi warga maupun utusan dari kerajaan-kerajaan Nusantra untuk belajar di India, dan menjadikan kapal laut sebagai alat transportasi utama.
Kepala Peneliti Budaya Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, Kandidat doktor atropologi agama, dan pengampu matakuliah Antropologi Agama di Jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ahmad Salehudin menyatakan budaya India maupun ajaran Hindu dan Budha masuk ke Nusantara atas inisiatif orang-orang Nusantara yang datang ke India,.
“Saat itu India tidak memiliki teknologi kapal yang canggih, kita perlu mengajukan tesis baru terkait masuknya budaya India ke Nusantara. Yaitu bahwa bukan India yang datang ke Indonesia, tetapi orang-orang dari Nusantara yang dengan sengaja mengunjungi dan belajar India. Hal ini semakin membuktikan bahwa bukan India yang mempengaruhi masyarakat Nusantara, tetapi masyarakat Nusantara yang secara kreatif “menyerap” budaya India sesuai dengan kebutuhannya,” kata dia dalam diskusi rutin dosen jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga, Minggu (4/1/2015).
Pendiri dan wakil ketua pusat studi Inclusive and Sustainable Development Institute (ISD Institute) itu, menyatakan budaya menjadikan laut sebagai wahana transportasi utama antara kerajaan dan relasi di luar negeri atau tradisi “tol laut” kerajaan Nusantara tergerus oleh penjajah dari Barat. Penjajah menjadikan keraton-keraton Nusantara kehilangan “jati dirinya”.
“Penjajah telah menjadikan keraton-keraton Nusantara kehilangan kesadaran kosmologinya sebagai bangsa bahari, kehilangan semangat persatuan, dan kesadaran pluralisme. Celakanya, mentalitas penjajahan tersebut tidak hanya dimiliki oleh para penjajah, tetapi mereka yang “dididik” dan bangga dengan penjajah,” kata dia.
Menurut dia, Indonesia kini merupakan keberlanjutan dari (sejarah) keraton-keraton Nusantara. Maka pembangunan bisa diwarnai dengan nilai-nilai kerajaan Nusantara, misalnya dalam tradisi baharinya. “Kesadaran sebagai negara bahari misalnya, tentu akan memberi inspirasi bagaimana membangun negara dengan mengarah ke laut, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit,” kata dia.